Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kebakaran hutan (pixabay/geralt)

Ilustrasi kebakaran hutan (pixabay/geralt)

1TULAH.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dan Sumatera kini memicu krisis lingkungan serta kesehatan lintas batas (transboundary haze) di kawasan Asia Tenggara. Paparan kabut asap pekat nan beracun dilaporkan telah meluas hingga menyelimuti wilayah Malaysia, Singapura, hingga Filipina.

Laporan media internasional mencatat krisis kualitas udara ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan berbagai aktivitas harian dan pendidikan di sejumlah kawasan terdampak.

Dampak Ekstrem di Lapangan: Jarak Pandang Nol dan Ancaman pada Anak

Kondisi kabut asap di Kalimantan telah mencapai level ekstrem. Di beberapa lokasi, pekatnya asap membatasi jarak pandang secara drastis hingga hanya tersisa beberapa sentimeter.

“Anda bahkan tidak bisa melihat kaki Anda sendiri akibat tebalnya asap,” ungkap seorang asisten pengajar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Kelompok rentan seperti anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak. Seorang warga di Banjarbaru menceritakan bagaimana putrinya yang baru berusia tiga tahun langsung mengalami batuk, sakit tenggorokan, dan pilek begitu asap merembes ke dalam hunian mereka.

Baca Juga :  Muktamar ke-35 NU Resmi Dibuka, Presiden Prabowo Tegaskan Tak Intervensi

Peningkatan Kasus ISPA

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatatkan angka kesakitan yang melonjak signifikan. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir:

  • Lebih dari 50.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terdeteksi antara Juli dan Agustus.

  • Ribuan pasien terpaksa harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat paparan polutan berbahaya.

Dampak Kabut Asap di Negara Tetangga

Penyebaran titik api yang terkonsentrasi di wilayah Borneo bagian Indonesia berimbas langsung pada negara-negara tetangga akibat dorongan angin dan cuaca kering.

Daftar Wilayah Terdampak di Asia Tenggara:
├── Malaysia   : Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Sarawak mencapai level tidak sehat.
├── Filipina   : Warga Palawan melaporkan bau terbakar, iritasi mata, dan sakit kepala.
└── Singapura  : Mengambil langkah siaga dengan penimbunan masker N95 & pembatasan aktivitas sekolah.

1. Malaysia (Sarawak)

Sebagian besar titik api yang berkobar di wilayah daratan Kalimantan berdampak langsung pada Sarawak. Indeks Pencemaran Udara (IPU) di wilayah ini terus melonjak hingga masuk kategori tidak sehat.

Baca Juga :  Bupati Heriyus Apresiasi Persiapan Simulasi Akreditasi RSUD Puruk Cahu

2. Filipina (Provinsi Palawan)

Kabut asap terbawa angin jauh ke utara hingga mencapai Provinsi Palawan, Filipina. Warga setempat mulai mengeluhkan bau sangit atau bau terbakar yang menyengat, disertai gejala fisik seperti pusing, mata perih, hingga iritasi tenggorokan.

3. Singapura

Pemerintah Singapura bersama pihak ritel mulai memberlakukan status siaga dengan menimbun stok masker N95. Pihak sekolah di Singapura juga telah menyiapkan skenario darurat untuk membatasi seluruh aktivitas luar ruangan bagi para siswa.

Akar Masalah dan Pemicu Utama

Bencana asap lintas batas ini bersumber dari pembakaran hutan serta lahan gambut yang terus membara selama berturut-turut. Fenomena cuaca kering yang ekstrem mempercepat penyebaran titik api (hotspot), sehingga asap tebal dengan mudah melintasi batas wilayah darat maupun laut di kawasan Asia Tenggara. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:48 WIB

Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:35 WIB

Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Berita Terbaru