Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keluarga korban saat mencari tahu data santri yang keracunan di depan IGD RSUD Notopuro Sidoarjo, Selasa (1/9/2026). [Suara.com/Dimas Angga]

Keluarga korban saat mencari tahu data santri yang keracunan di depan IGD RSUD Notopuro Sidoarjo, Selasa (1/9/2026). [Suara.com/Dimas Angga]

1TULAH.COM-Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik usai aktivitas sekolah kembali berjalan pascalibur panjang. Berulangnya insiden ini memicu kritik tajam dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mempertanyakan efektivitas evaluasi pemerintah selama masa libur sekolah.

JPPI menilai, kembali maraknya kasus keracunan setelah libur sekolah menunjukkan bahwa proses evaluasi yang dilakukan pemerintah belum menghasilkan perubahan nyata dalam pelaksanaan program MBG di lapangan.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa evaluasi yang digembar-gemborkan pemerintah semestinya berdampak langsung pada perbaikan layanan dan jaminan keamanan pangan bagi para siswa.

“Kalau setelah libur panjang, setelah evaluasi, setelah dapur ditutup, kasus keracunan justru kembali marak, maka kita harus berani mengatakan evaluasinya gagal. Pemerintah jangan terus menjual kata ‘evaluasi’ sementara anak-anak terus masuk puskesmas dan rumah sakit. Evaluasi yang tidak mengubah tata kelola hanya menjadi ritual birokrasi setelah korban berjatuhan,” tegas Ubaid, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga :  DPRD Kalteng Desak Dana BTT Karhutla Rp70 Miliar Segera Siap dan Bebas Prosedur Berbelit

Lonjakan Korban Keracunan MBG Sepanjang 2026

Berdasarkan catatan yang dihimpun JPPI, angka korban keracunan akibat program MBG menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan sejak awal tahun.

  • Januari – Agustus 2026: Total tercatat sebanyak 15.735 korban keracunan program MBG.

  • Agustus 2026: Dalam kurun satu bulan saja, jumlah korban yang tercatat mencapai 3.079 orang.

Ubaid menekankan bahwa penanganan keracunan MBG tidak cukup hanya dengan tindakan administratif sementara, seperti sekadar menutup dapur atau melayangkan teguran tertulis kepada pengelola.

Kritikan Pedas Praktik “Guru Sebagai Detektor Racun”

Selain menyoroti kegagalan evaluasi, JPPI mengecam keras praktik di lapangan yang meminta para guru mencicipi makanan MBG terlebih dahulu sebelum didistribusikan kepada peserta didik. Ironisnya, beberapa pihak justru menyalahkan guru saat makanan basi lolos dan menyebabkan siswa keracunan.

Menurut JPPI, melimpahkan peran pengawasan keamanan pangan kepada guru adalah tindakan yang keliru dan tidak masuk akal secara prosedur teknis.

“Jangan jadikan lidah guru sebagai alat detektor racun. Guru bukan petugas laboratorium, bukan ahli keamanan pangan, dan bukan tameng bagi kegagalan SPPG. Kalau keamanan makanan bergantung pada guru mencicipi satu sendok sebelum makanan dibagikan, itu justru bukti bahwa sistem pengawasan MBG sangat rapuh,” tegas Ubaid.

Baca Juga :  Diikuti 264 Peserta, Turnamen Domino Orado KNPI Cup 2026 Sedot Antusiasme Warga Bartim

Ia menjelaskan bahwa akar masalah MBG berada pada seluruh rantai keamanan pangan (food safety chain)—mulai dari proses pengolahan di dapur penyedia hingga tahap distribusi sampai ke tangan siswa.

Tuntutan JPPI: Hentikan Program MBG Secara Nasional

Melihat berulangnya kasus yang mengancam keselamatan para siswa, JPPI menyampaikan beberapa tuntutan tegas kepada pemerintah:

  1. Moratorium Program MBG: Menghentikan sementara pelaksanaan program MBG secara nasional sampai ada jaminan penuh atas keamanan pangan.

  2. Hentikan Beban Guru: Menghentikan praktik menjadikan guru sebagai pencicip atau penguji makanan di sekolah.

  3. Penegakan Hukum: Memproses secara hukum seluruh pihak yang terbukti lalai hingga menyebabkan siswa jatuh sakit dan harus dirawat. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun
Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta
Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap
Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik
Manchester City Rekrut Enzo Fernandez, Gelandang Argentina Jadi Amunisi Baru
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 17:02 WIB

Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta

Rabu, 2 September 2026 - 13:39 WIB

Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap

Rabu, 2 September 2026 - 13:31 WIB

Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik

Berita Terbaru