Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga dewasa menarik diri dari kehidupan sosial (CNA)

Warga dewasa menarik diri dari kehidupan sosial (CNA)

1TULAH.COM-Singapura tengah menghadapi tantangan sosial mendesak dengan melonjaknya fenomena hidden adults—kondisi saat warga usia produktif menarik diri dari kehidupan sosial selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Fenomena ini mirip dengan konsep hikikomori di Jepang, di mana seseorang memutus interaksi dengan dunia luar akibat tekanan mental dan sosial.

Lembaga layanan sosial setempat mencatat lonjakan kasus yang signifikan. Data dari Fei Yue Community Services menunjukkan penanganan sekitar 40 kasus, meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2024. Sementara itu, TOUCH Community Services menerima sekitar 250 konsultasi pada tahun lalu—naik lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan tahun 2022.

Menjangkau Ruang Terisolasi Lewat Dunia Game dan Komunitas Digital

Pendekatan konvensional kerap menemui jalan buntu karena mayoritas individu yang mengisolasi diri enggan berinteraksi secara tatap muka. Menghadapi situasi ini, para pekerja sosial mulai mengalihkan strategi ke ruang digital, seperti game online dan platform komunitas, demi membangun kepercayaan secara perlahan tanpa paksaan.

Pekerja sosial dari Youth Guidance Outreach Services (YGOS), Stephanie Tan, secara aktif masuk ke dalam ekosistem digital seperti gim Where Winds Meet, Discord, hingga Twitch. Melalui pesan langsung (direct message) di platform tersebut, timnya berupaya menciptakan ruang aman (safe space) bagi para pemain yang terindikasi mengisolasi diri.

“Pada akhirnya, jika mereka ingin membicarakan apa pun kepada kami, baik itu masalah pertemanan atau masalah keluarga, mereka bisa datang dan berbagi kepada kami,” ujar Stephanie Tan, dikutip dari CNA.

Proses pendekatan ini membutuhkan kesabaran ekstra sebelum berlanjut ke interaksi suara, hingga akhirnya mereka siap bertemu langsung di dunia nyata.

Depresi, Kecemasan, dan Ketakutan akan Kegagalan

Benteng utama yang menghalangi warga untuk keluar rumah umumnya adalah depresi dan kecemasan berat. Kondisi psikologis ini memicu rasa rentan dan ketakutan ekstrem untuk mengambil langkah baru dalam hidup.

Baca Juga :  Dari Isu Nuklir hingga Lingkungan: 750 Pemuda Internasional Cari Solusi Global di AYIMUN

David (bukan nama sebenarnya) membagikan pengalamannya mengurung diri akibat tertekan oleh rasa takut akan kegagalan.

“Kecemasan membuat saya takut mencoba hal-hal baru karena saya tidak ingin membuat kesalahan. Ketika saya merasa tertekan oleh perasaan seperti itu, saya akhirnya memilih untuk tidak melakukan apa-apa demi melindungi diri saya dari membuat keputusan yang salah. Memilih untuk menjadi menyendiri adalah keputusan paling aman bagi saya,” tutur David lewat pesan WhatsApp yang disampaikan oleh pekerja sosialnya, Bryan Wong dari Fei Yue.

Meski pendampingan intensif memberikan harapan baru, pemulihan bukanlah jalan yang lurus. Setelah dua tahun terisolasi, David sempat kembali bekerja, tetapi akhirnya berhenti akibat kehilangan motivasi mendalam.

Ia mengaku merasa kembali ke titik awal karena belum menemukan tujuan hidup serta kerap kekurangan energi untuk mengejar minat atau mencari pekerjaan lain.

Perspektif Medis: Risiko Kehilangan Momentum Emas Usia Muda

Secara klinis belum ada definisi tunggal mengenai hidden adults, namun penarikan diri dari lingkungan sosial selama 3 hingga 6 bulan menjadi kriteria utama. Spektrum isolasi ini bervariasi—mulai dari mereka yang sesekali keluar untuk urusan mendesak, hingga yang sepenuhnya mengurung diri di kamar.

Spesialis Kedokteran Jiwa dari National University Hospital, Profesor John Wong, menjelaskan bahwa kondisi psikiatri awal sering menjadi pemicu utama penarikan diri secara sosial.

Kondisi Penyebab Utama Dampak Pada Individu
Kecemasan Sosial & Depresi Mendorong individu merasa lebih aman mengurung diri
Sifat Autis (Autistic Traits) Kesulitan dalam navigasi interaksi sosial konvensional
Gagal di Masa Remaja/Dewasa Muda Kehilangan jendela penting dalam perkembangan pendidikan & karier
Baca Juga :  KPK Pastikan Asap di Gedung Merah Putih Bukan Kebakaran

“Banyak dari remaja atau orang dewasa terisolasi ini memiliki kondisi psikiatri terkait. Jika mereka melewatkan beberapa pencapaian di periode kritis ini, hal itu dapat berdampak pada perkembangan pendidikan, karier profesional, atau keterampilan vokasional. Begitu mereka melewatkan jendela penting ini, sulit bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan,” tegas Prof. Wong.

Tuntutan Budaya Asia dan Tekanan Peran Gender

Pemicu isolasi pada kelompok dewasa sangat beragam, mulai dari tekanan dunia kerja, perceraian, kegagalan karier, hingga trauma masa lalu. Di samping itu, tuntutan ekspektasi sosial dalam budaya Asia juga turut menempatkan pria pada posisi yang lebih rentan terhadap stres ekstrem.

Dr. Patrick Lin, Associate Professor Psikologi dari James Cook University Singapura, menggarisbawahi beban ekspektasi tersebut:

“Sering kali itu karena dalam masyarakat Asia, pria seharusnya lebih membantu keluarga, dan orang tua memang memiliki lebih banyak ekspektasi. Jika mereka merasa tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut, mereka cenderung memilih untuk menarik diri.”

Tantangan Deteksi Dini pada Orang Dewasa

Fenomena orang dewasa terisolasi sering kali merupakan kelanjutan dari penarikan diri yang sudah terjadi sejak masa remaja tetapi tidak ditangani secara tuntas.

Deteksi pada usia dewasa jauh lebih sulit dibandingkan usia sekolah karena:

  • Tidak berada dalam sistem formal: Tidak ada pemantauan kehadiran harian seperti di sekolah.

  • Mampu menyembunyikan kondisi: Sebagian dewasa mampu menyembunyikan penarikan diri mereka secara terselubung demi memenuhi kebutuhan ekonomi minimal atau tuntutan keluarga.

Tanpa adanya intervensi dini dan inovasi layanan seperti pendekatan lewat ruang digital, isolasi yang berlarut-larut berisiko menciptakan kelompok lansia yang terasing di masa depan serta menambah beban mental berkepanjangan bagi keluarga yang merawat mereka. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun
Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta
Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap
Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik
Manchester City Rekrut Enzo Fernandez, Gelandang Argentina Jadi Amunisi Baru
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Rabu, 2 September 2026 - 17:02 WIB

Skandal Suap Pengadaan Smart Board & Chromebook Muara Enim senilai Rp62,86 Miliar: Terungkapnya Kongkalikong di Jakarta

Rabu, 2 September 2026 - 13:39 WIB

Pemkab Barsel Sediakan Rumah Oksigen Gratis Akibat Kabut Asap

Rabu, 2 September 2026 - 13:31 WIB

Kehadiran Arya Wedakarna di Miss Equality World 2026 Bangkok Tuai Sorotan Publik

Berita Terbaru