1TULAH.COM-Di tengah bayang-bayang tingginya harga daging dan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pakan, solusi besar sebenarnya terbentang di bawah 15 juta hektare perkebunan kelapa sawit nasional. Namun, potensi ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal karena pola pikir industri yang masih berorientasi pada keuntungan jangka pendek.
Pakar peternakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bambang Suhartanto, menyoroti adanya ruang ekologis yang luas di bawah tegakan pohon sawit yang selama ini terabaikan.
Ruang Ekologis Sawit: Bukan Sekadar Gulma
Menurut Bambang, di antara barisan batang sawit dan kanopi daun yang rimbun, terdapat sumber hijauan pakan ternak yang melimpah. Sayangnya, banyak perusahaan sawit masih memandang area ini sebagai beban.
“Ruang itu selama ini lebih sering dipandang sebagai sekadar area gulma yang harus dibersihkan, alih-alih bagian dari sistem produksi pangan yang terintegrasi,” ungkap Bambang di Yogyakarta, Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan bahwa orientasi perusahaan yang hanya fokus pada hasil Tandan Buah Segar (TBS) membuat potensi integrasi antara perkebunan dan peternakan sering kali terabaikan. Padahal, integrasi ini adalah jawaban atas keterbatasan lahan hijauan yang menjadi persoalan struktural peternakan di Indonesia.
Memutus Rantai Impor Melalui Efisiensi Pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam industri peternakan. Selama persoalan pakan tidak diselesaikan, Indonesia akan terus terjebak dalam tingginya harga daging dan susu serta ketergantungan pada impor.
Manfaat Integrasi Sawit-Ternak:
-
Pengendalian Gulma Alami: Sapi yang digembalakan di bawah sawit akan memakan gulma, sehingga perusahaan menghemat biaya penyiangan.
-
Pupuk Alami: Kotoran dan urine ternak menjadi nutrisi organik bagi tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
-
Siklus Hara Terjaga: Mengembalikan bahan organik ke tanah membuat ekosistem perkebunan lebih resilien dan berkelanjutan (biodynamic).
“Jika diatur dengan baik, ini adalah simbiosis mutualisme. Perusahaan hemat biaya, peternak dapat pakan gratis, dan lingkungan tetap terjaga,” jelas Guru Besar Fakultas Peternakan UGM tersebut.
Rekayasa Tanaman Pakan: Kunci Kualitas Nutrisi
Selain kuantitas, persoalan kualitas nutrisi pakan juga menjadi tantangan. Nafiatul Umami, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM lainnya, menekankan pentingnya pemuliaan tanaman pakan yang adaptif.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan rumput alami. Kita perlu tanaman pakan yang adaptif di lahan kering, di bawah naungan sawit, namun memiliki kualitas nutrisi yang tinggi,” ujar Nafiatul.
Inovasi Rumput “Gamma Umami”
Sebagai solusi konkret, UGM telah mengembangkan Rumput Gajah varietas “Gamma Umami”. Keunggulan varietas ini meliputi:
-
Kandungan gula lebih tinggi (disukai ternak).
-
Kemampuan tumbuh kembali yang cepat setelah dipotong.
-
Adaptif di berbagai kondisi lahan marginal.
Nafiatul menambahkan bahwa pemanfaatan limbah sawit seperti bungkil inti sawit sebagai pakan tambahan dapat secara signifikan menekan impor bahan baku seperti jagung atau bungkil kedelai.
Integrasi sebagai Strategi Ekonomi Nasional
Integrasi sawit-ternak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk mencapai kemandirian pangan. Tekanan global terhadap isu lingkungan dan deforestasi menuntut perusahaan sawit untuk berpikir lebih jauh dengan menerapkan sistem pertanian terpadu.
“Kalau perusahaan sawit mau berpikir lebih jauh, integrasi ternak ini bisa menjadi bagian dari tanggung jawab lingkungan sekaligus strategi ekonomi. Hasilnya bukan hanya sawit, tapi juga daging, susu, dan sistem pangan yang lebih mandiri,” tandas Bambang. (Sumber:Suara.com)





![Pengabdian Tasya Kamila sebagai alumi mahasiswi LPDP dianggap tidak maksumal. [Instagram/tasyakamila]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/02/tasya-kamila-360x200.jpg)















