Lama Rusak, CT Scan RSUD Muara Teweh Bikin Diagnosa Penyakit Pasien Kacau

- Jurnalis

Senin, 11 Agustus 2025 - 20:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rapat dengar pendapat (RDP) antara pihak RSUD Muara Teweh, bersama DPRD Barut dan pemerintah kabupaten setempat di ruang rapat dewan, Senin, 11 Agustustus 2025. Foto: Istimewa

Rapat dengar pendapat (RDP) antara pihak RSUD Muara Teweh, bersama DPRD Barut dan pemerintah kabupaten setempat di ruang rapat dewan, Senin, 11 Agustustus 2025. Foto: Istimewa

1TULAH.COM, Muara Teweh – RSUD Muara Teweh, di Kabupaten Barito Utara (Barut), Kalteng, mendapat keluhan masyarakat setempat terkait pelayanan fasilitas penunjang yang mengalami kerusakan.

Tentunya sebagai rumah sakit rujukan regional maka dituntut untuk memiliki berbagai fasilitas penunjang yang modern agar dapat meningkatkan kualitas mutu pelayanannya.

Adapun unit penunjang yang dimiliki RSUD Muara Teweh yang mengalami kerusakan, di antaranya peralatan CT Scan dengan kemampuan 64 Slice, dan Unit Cathlab, pelayanan hemodialisis. Dikutip dari laman resmi rsudmt.id, bahwa unit penunjang tersebut telah beroperasi sejak awal 2022 hingga 2025 atau 3 tahun masa pemakaian.

Namun terungkap pada saat rapat dengar pendapat (RDP) antara pihak RSUD Muara Teweh, bersama DPRD Barut dan pemerintah kabupaten setempat di ruang rapat dewan, Senin, 11 Agustustus 2025.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Wakil Ketua II DPRD Barut Hj Henny Rosgiaty Rusli serta dihadiri oleh 17 anggota DPRD lainnya, 25 eksekutif, pihak RSUD Muara Teweh beserta jajarannya yang dipimpin oleh Dirut RSUD, Tiur Maida.

Sejumlah anggota DPRD Barut, mengungkap keluhan-keluhan yang disampaikan oleh masyarakat Barut selama ini, terkait pelayanan secara menyeluruh yang dianggap sangat merugikan masyarakat.

Terdapat 2 hal yang disampaikan paling menonjol, yaitu terkait kesalahan diagnosa terhadap pasien serta pelayanan pasien BPJS.

Seperti yang disampaikan oleh anggota dewan Hasrat, bahwa masyarakat pengguna BPJS masih tetap harus mencari atau membeli obat dari luar karena tidak ada ketersediaan di RSUD Muara Teweh.

Baca Juga :  Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda

Selain itu, adapun dewan Hasrat juga meminta obat yang ditebus oleh pasien agar diperhitungkan dan dicatat sesuai kebutuhan pasien.

“Jika memang habis, mintalah pasien untuk menebus, ini tebusnya 4, yang terpakai baru dua, malah diminta tebus lagi, sisa duanya kemana?” tanya Hasrat.

Sementara, Waket II Dewan Henny Rosgiaty juga mempertanyakan, terkait diagnosa atau penyakit yang terindikasi oleh pasien selalu sakit Jantung.

“Saya sudah banyak mendengar keluhan warga yang saya temui di desa-desa, mereka selalu mengeluhkan sakit jantung hasil diagnosa RSUD Muara Teweh, itu bagaimana sih sebenarnya, apa memang jantung atau apa, sebab jika dirujuk ke Banjarmasin atau Palangka Raya, malah diagnosa di sana penyakitnya beda,” tanya Henny menegaskan.

Di tempat yang sama Dirut RSUD Muara Teweh dr Tiur Maida didampingi jajarannya lainnya memaparkan terkait bangunan atau ruang kerja di dalam gedung terdapat banyak sekali ruangan yang kondisinya memprihatinkan dan perlu perbaikan serta penanganan segera oleh pemerintah daerah.

Tercatat ada beberapa ruangan yang ditampilkan di layar slide seperti ruang mesin sterilisator 1 lantai 1 wing A, plafon berlubang dan dinding berjamur, ruang persiapan alat operasi lantai 2 wing A, ruang kamar operasi lantai 2, dan masih banyak lagi ruang-ruang yang ditampilkan dengan kondisi yang perlu mendapat perhatian.

“Jika begini bukan kami yang curhat, tapi malah pihak RSUD juga curhat,” singgung Henny.

Terkait masalah diagnosa yang selalu kurang tepat, dikatakan oleh dr Tiur bahwa RSUD Muara Teweh membutuhkan alat CT Scan sudah sejak lama tidak berfungsi dengan baik, dan boleh dikatakan rusak.

Baca Juga :  Komisi III DPRD Kalteng Soroti Pemulihan Ekonomi dan Lingkungan Pascakarhutla: Dorong Aktivitas Warga Kembali Normal!

Kerusakan alat tersebut dijelaskan Tiur terjadi sebelum dirinya ditempatkan atau ditugaskan di RSUD Muara Teweh.

Tiur bilang dirut sebelum dirinya sudah banyak melakukan tahapan-tahapan perbaikan terhadap alat CT Scan tersebut.

Saat ditanya efek negatifnya bagi nyawa pasien jika diagnosa selalu salah, dr Tiur menjelaskan pihaknya memberi rujukan ke faskes yang lebih tinggi, yakni di Palangka Raya atau Banjarmasin, agar meyakinkan diagnosa yang sebenarnya.

“Rujukan itu bukan suatu penyakit yang sudah pasti, merujuk pasien ke faskes yang lebih tinggi supaya meyakinkan diagnosa yang sebenarnya, karena diagnosa di RSUD Muara Teweh masih belum pasti,” ujar Tiur.

Juga saat diminta penjelasan oleh awak media jenis obat yang diberikan kepada pasien apakah sesuai diagnosa RSUD Muara Teweh yang keliru tersebut? Dia menerangkan pihak rumah sakit akan memberikan obat dasar (mengawali) saja terlebih dahulu.

Menurut Tiur alat CT Scan yang baru akan didatangkan sekitar Agustus ini pula.

Disediakan oleh Pemerintah Pusat, sementara pihak RSUD hanya menerima alatnya saja dan SDM-nya sudah disiapkan.

Adapun RDP kali ini menghasilkan kesimpulan:

1. Penambahan alat kesehatan, obat-obatan dan bahan habis pakai serta operasional RSUD lainnya akan dibicarakan DPRD Barut dengan Tim anggaran pemerintah daerah.

2. DPRD dan pemerintah daerah menjadwalkan kunjungan ke RSUD Muara Teweh.

Editor: Aprie

Berita Terkait

Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda
Komisi III DPRD Kalteng Soroti Pemulihan Ekonomi dan Lingkungan Pascakarhutla: Dorong Aktivitas Warga Kembali Normal!
Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api
DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut
Hari Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Kalteng Diajak Penguat SDM dan Jaga Falsafah Huma Betang
Penanganan Karhutla: DPRD Kalteng Desak Pemda Jujur Soal Anggaran dan Dorong Status Bencana Nasional
Transparansi Dana Banpres Karhutla Rp235 Miliar: Komisi III DPRD Kalteng Tuntut Laporan BPB-PK
Reses Tajeri di Sei Rahayu II, Warga Sampaikan Keluhan Infrastruktur, Kesehatan, dan Pertanian

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 16:55 WIB

Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda

Senin, 2 November 2026 - 18:32 WIB

Komisi III DPRD Kalteng Soroti Pemulihan Ekonomi dan Lingkungan Pascakarhutla: Dorong Aktivitas Warga Kembali Normal!

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:13 WIB

DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut

Kamis, 29 Oktober 2026 - 01:38 WIB

Hari Sumpah Pemuda 2026: Pemuda Kalteng Diajak Penguat SDM dan Jaga Falsafah Huma Betang

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:53 WIB

Penanganan Karhutla: DPRD Kalteng Desak Pemda Jujur Soal Anggaran dan Dorong Status Bencana Nasional

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Transparansi Dana Banpres Karhutla Rp235 Miliar: Komisi III DPRD Kalteng Tuntut Laporan BPB-PK

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Reses Tajeri di Sei Rahayu II, Warga Sampaikan Keluhan Infrastruktur, Kesehatan, dan Pertanian

Berita Terbaru