Tingkatkan Produksi Minyak Nabati Dunia, Indonesia Setujui Penanaman Kembali Kelapa Sawit Lahan Seluas 53 Ribu Ha

- Jurnalis

Jumat, 12 Januari 2024 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto udara perkebunan kelapa sawit di Batanghari, Jambi, 28 November 2018. (Foto: Antara/Wahdi Septiawan via REUTERS)

Foto udara perkebunan kelapa sawit di Batanghari, Jambi, 28 November 2018. (Foto: Antara/Wahdi Septiawan via REUTERS)

1TULAH.COM-Kebutuhan atau permintaan minyak nabati dunia cendrung meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini tentunya harus didorong dengan peningkatan perekebunan kelapa sawit yang merupakan bahan pokok minyak nabati.

Namun saat ini ada kecenderungan pula bahwa produksi minyak kelapa sawit mengalami penurunan. Hal ini lantaran dipicu semakin kurang produktifnya pohon kelapa sawit yang sudah ada.

Oleh karenanya perlu didorong adanya perluasan lahan perkebunan kelapa sawit. Bagaimana caranya?

Indonesia pada tahun 2023 menyetujui penanaman kembali pohon kelapa sawit seluas 53.012 hektare di lahan milik para petani kecil di bawah program bersubsidi, menurut data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Rabu (10/1/2024).

Baca Juga :  Speedboat Bawa 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda, Termasuk Jurnalis Media Nasional

Luas penanaman kembali meningkat dari 30.759 hektare pada tahun 2022, namun masih berada di bawah target tahunan Indonesia. BPDPKS bertugas menyalurkan subsidi penanaman kembali pohon kelapa sawit.

Indonesia, produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, menetapkan target untuk menanam kembali 180.000 hektare pohon kelapa sawit di lahan petani-petani kecil setiap tahunnya, untuk meningkatkan produksi tanpa harus membuka lebih banyak hutan.

Baca Juga :  DPRD dan Pemprov Kalteng Mulai Bahas Nota Keuangan Perubahan APBD 2026

Para ahli mengatakan Indonesia perlu segera menanam kembali pohon kelapa sawitnya, karena hasil panen menurun sementara permintaan minyak nabati meningkat, termasuk untuk biodiesel.

Skema peremajaan kelapa sawit oleh petani kecil diluncurkan pada tahun 2016 dan awalnya menargetkan penggantian sekitar 2,5 juta hektare pohon tua pada tahun 2025.

Namun hanya 326.308 hektare yang disetujui pada akhir tahun 2023, dan hanya 205.524 hektar yang benar-benar ditanam. (Sumber:voaindonesia.com)

Berita Terkait

Pemkab Mura-BPN Perkuat Integrasi Data Pertanahan dan Keuangan Daerah
Kejagung Kantongi Bukti Pemerasan dan Sita Uang Tunai dalam Kasus TPPU Febrie Adriansyah
Pemerintah Cairkan Bansos Beras Tahap 2 Alokasi Juli–September 2026: Setiap KPM Terima 30 Kg
DPRD Kalteng Matangkan Raperda Pertanahan, Lembaga Adat Jadi Garda Terdepan Resolusi Konflik
Persidangan Korupsi Kuota Haji: Yaqut Pertanyakan Foto Prabowo dan Fuad Hasan Masyhur di Paris
Aturan Baru Menkomdigi Larang Kuota Hangus Diprotes, Dinilai Tak Sesuai Putusan MK
Pesan Presiden Prabowo di GBK: Bersaing dan Kritik Boleh, Tapi Tetap Rukun Berkeluarga
Bukan Cuma Kemarau, Ini Penyebab Karhutla Berulang dan Kian Parah di Indonesia
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 13:03 WIB

Pemkab Mura-BPN Perkuat Integrasi Data Pertanahan dan Keuangan Daerah

Jumat, 11 September 2026 - 06:05 WIB

Kejagung Kantongi Bukti Pemerasan dan Sita Uang Tunai dalam Kasus TPPU Febrie Adriansyah

Jumat, 11 September 2026 - 05:57 WIB

Pemerintah Cairkan Bansos Beras Tahap 2 Alokasi Juli–September 2026: Setiap KPM Terima 30 Kg

Kamis, 10 September 2026 - 18:48 WIB

DPRD Kalteng Matangkan Raperda Pertanahan, Lembaga Adat Jadi Garda Terdepan Resolusi Konflik

Kamis, 10 September 2026 - 16:51 WIB

Persidangan Korupsi Kuota Haji: Yaqut Pertanyakan Foto Prabowo dan Fuad Hasan Masyhur di Paris

Kamis, 10 September 2026 - 15:10 WIB

Aturan Baru Menkomdigi Larang Kuota Hangus Diprotes, Dinilai Tak Sesuai Putusan MK

Kamis, 10 September 2026 - 09:54 WIB

Pesan Presiden Prabowo di GBK: Bersaing dan Kritik Boleh, Tapi Tetap Rukun Berkeluarga

Kamis, 10 September 2026 - 08:26 WIB

Bukan Cuma Kemarau, Ini Penyebab Karhutla Berulang dan Kian Parah di Indonesia

Berita Terbaru