1TULAH.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun di Indonesia ternyata memiliki pola yang jauh lebih rumit daripada sekadar dampak musim kemarau panjang. Ada krisis ekologis mendasar yang saling berkait dan membutuhkan penanganan lintas sektor secara komprehensif.
Lingkaran Setan Deforestasi dan Kebakaran Lahan
Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia menyebutkan bahwa deforestasi dan karhutla kini saling mengunci dalam sebuah lingkaran setan:
-
Deforestasi membuat intensitas kebakaran semakin tinggi.
-
Kebakaran yang terjadi kembali mempercepat hilangnya tutupan hutan.
Semakin sempit hutan yang tersisa, semakin rentan pula kawasan tersebut terbakar pada musim berikutnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, hingga Selasa (8/9/2026) pukul 10.17 WIB, indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla telah mencapai 76.922,3 hektare.
Bagi IRI Indonesia, angka ini menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar masalah api dan asap musiman, melainkan kerusakan ekologis jangka panjang yang menggerus tutupan hutan, habitat satwa, kualitas udara, hingga sumber air.
Bukti Ilmiah: Deforestasi sebagai Pemicu Utama
Pola lingkaran setan ini sejalan dengan temuan ilmiah di lapangan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Remote Sensing (2020) oleh peneliti University of Leeds bersama IPB University menelusuri sejarah tutupan lahan di Provinsi Riau sejak 1990.
Temuan Kunci Riset:
-
Titik Rawan Kebakaran: Api paling sering muncul di kawasan yang sedang mengalami perubahan fungsi lahan, khususnya saat hutan sekunder beralih menjadi semak belukar sebelum dibuka menjadi perkebunan.
-
Risiko Enam Kali Lipat: Kawasan yang kehilangan tutupan hutan di Riau memiliki frekuensi kebakaran 6 kali lipat dibandingkan kawasan dengan tutupan hutan yang tetap utuh.
Artinya, deforestasi bukan hanya sekadar dampak dari karhutla, melainkan salah satu pemicu utama kemunculan api.
Ancaman Serius bagi Keanekaragaman Hayati
Dampak sistemik karhutla dan hilangnya tutupan hutan ini berimbas langsung pada kehidupan satwa liar endemik Indonesia.
Guru Besar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menyoroti ancaman berat bagi populasi orangutan di Kalimantan dan Sumatra yang kini berstatus kritis:
-
Orangutan Tapanuli: Populasinya kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 716–800 ekor.
-
Orangutan Kalimantan: Populasinya menyusut menjadi sekitar 104.700 ekor.
Kerusakan habitat membuat orangutan kehilangan sumber pangan utama sekaligus terpapar polusi asap di tengah kawasan hutan yang terus menyempit.
Solusi Jangka Panjang: Lebih dari Sekadar Memadamkan Api
Pemerintah memang telah melakukan berbagai langkah pengawasan, penindakan hukum, hingga penyelidikan atas dugaan unsur kesengajaan pembakaran. Namun, mengingat karhutla merupakan masalah yang terus berulang, indikator keberhasilan tidak boleh lagi hanya diukur dari seberapa cepat api berhasil dipadamkan.
Tiga Langkah Kunci Memutus Lingkaran Setan Karhutla:
-
Perbaikan Tata Kelola: Memperketat izin dan pengawasan penggunaan lahan.
-
Perlindungan Tegas: Menjaga secara ketat sisa kawasan hutan yang masih utuh.
-
Restorasi Ekosistem: Memulihkan kawasan yang paling rentan terbakar agar fungsi ekologisnya kembali pulih.
Tanpa pembenahan di tingkat akar rumput dan tata kelola lahan, penanganan karhutla hanya akan menjadi respons sementara tanpa pernah memutus mata rantai masalah utamanya. (Sumber:Suara.com)

![Shandy Aulia [Instagram/shandyaulia]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/10/sandy-aulia-360x200.jpg)







![Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Perdana Menteri (WPM) Malaysia Ahmad Zahid Hamidi. [Laily Rachev - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/10/bantu-asap-225x129.jpg)






![Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Perdana Menteri (WPM) Malaysia Ahmad Zahid Hamidi. [Laily Rachev - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/10/bantu-asap-360x200.jpg)







![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

