Bukan Cuma Kemarau, Ini Penyebab Karhutla Berulang dan Kian Parah di Indonesia

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026 - 08:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi karhutla di Kalimantan Barat. (Dok. Ist)

Ilustrasi karhutla di Kalimantan Barat. (Dok. Ist)

1TULAH.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun di Indonesia ternyata memiliki pola yang jauh lebih rumit daripada sekadar dampak musim kemarau panjang. Ada krisis ekologis mendasar yang saling berkait dan membutuhkan penanganan lintas sektor secara komprehensif.

Lingkaran Setan Deforestasi dan Kebakaran Lahan

Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia menyebutkan bahwa deforestasi dan karhutla kini saling mengunci dalam sebuah lingkaran setan:

  1. Deforestasi membuat intensitas kebakaran semakin tinggi.

  2. Kebakaran yang terjadi kembali mempercepat hilangnya tutupan hutan.

Semakin sempit hutan yang tersisa, semakin rentan pula kawasan tersebut terbakar pada musim berikutnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, hingga Selasa (8/9/2026) pukul 10.17 WIB, indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla telah mencapai 76.922,3 hektare.

Bagi IRI Indonesia, angka ini menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar masalah api dan asap musiman, melainkan kerusakan ekologis jangka panjang yang menggerus tutupan hutan, habitat satwa, kualitas udara, hingga sumber air.

Bukti Ilmiah: Deforestasi sebagai Pemicu Utama

Pola lingkaran setan ini sejalan dengan temuan ilmiah di lapangan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Remote Sensing (2020) oleh peneliti University of Leeds bersama IPB University menelusuri sejarah tutupan lahan di Provinsi Riau sejak 1990.

Baca Juga :  Pemerintah Resmi Terbitkan Perpres 27/2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Digital

Temuan Kunci Riset:

  • Titik Rawan Kebakaran: Api paling sering muncul di kawasan yang sedang mengalami perubahan fungsi lahan, khususnya saat hutan sekunder beralih menjadi semak belukar sebelum dibuka menjadi perkebunan.

  • Risiko Enam Kali Lipat: Kawasan yang kehilangan tutupan hutan di Riau memiliki frekuensi kebakaran 6 kali lipat dibandingkan kawasan dengan tutupan hutan yang tetap utuh.

Artinya, deforestasi bukan hanya sekadar dampak dari karhutla, melainkan salah satu pemicu utama kemunculan api.

Ancaman Serius bagi Keanekaragaman Hayati

Dampak sistemik karhutla dan hilangnya tutupan hutan ini berimbas langsung pada kehidupan satwa liar endemik Indonesia.

Guru Besar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menyoroti ancaman berat bagi populasi orangutan di Kalimantan dan Sumatra yang kini berstatus kritis:

  • Orangutan Tapanuli: Populasinya kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 716–800 ekor.

  • Orangutan Kalimantan: Populasinya menyusut menjadi sekitar 104.700 ekor.

Baca Juga :  Persiapan Pemilu 2029: Komisi II DPR Bentuk Panja RUU Pemilu dan Adminduk, Buka Ruang Masukan Masyarakat

Kerusakan habitat membuat orangutan kehilangan sumber pangan utama sekaligus terpapar polusi asap di tengah kawasan hutan yang terus menyempit.

Solusi Jangka Panjang: Lebih dari Sekadar Memadamkan Api

Pemerintah memang telah melakukan berbagai langkah pengawasan, penindakan hukum, hingga penyelidikan atas dugaan unsur kesengajaan pembakaran. Namun, mengingat karhutla merupakan masalah yang terus berulang, indikator keberhasilan tidak boleh lagi hanya diukur dari seberapa cepat api berhasil dipadamkan.

Tiga Langkah Kunci Memutus Lingkaran Setan Karhutla:

  • Perbaikan Tata Kelola: Memperketat izin dan pengawasan penggunaan lahan.

  • Perlindungan Tegas: Menjaga secara ketat sisa kawasan hutan yang masih utuh.

  • Restorasi Ekosistem: Memulihkan kawasan yang paling rentan terbakar agar fungsi ekologisnya kembali pulih.

Tanpa pembenahan di tingkat akar rumput dan tata kelola lahan, penanganan karhutla hanya akan menjadi respons sementara tanpa pernah memutus mata rantai masalah utamanya. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi
Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla
Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax
Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen
Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo
Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Tag :

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Seruyan, Megawati, saat menghadiri penutupan DSEF 2026 di Dermaga Desa Sembuluh II, Kecamatan Danau Sembuluh, Sabtu (10/10/2026).

Seruyan

Pemkab Apresiasi DSEF 2026, Harus Diagendakan Setiap Tahun

Senin, 12 Okt 2026 - 20:13 WIB