1TULAH.COM-Dunia politik tanah air mendadak riuh setelah pengamat politik senior sekaligus pendiri SMRC, Saiful Mujani, melontarkan pernyataan kontroversial.
Dalam sebuah forum diskusi bertajuk “Sebelum Pengamat Ditertibkan” yang digelar di Utan Kayu, Jakarta Timur pada 31 Maret 2026, Saiful secara terang-terangan menyerukan perlawanan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan yang terekam dalam potongan video tersebut kini viral di media sosial, memicu debat panas mengenai batas antara kritik akademis dan gerakan politik ekstra-parlementer.
Kritik Tajam: Prabowo Dinilai Tidak Lagi “Presidential”
Setelah lebih dari satu tahun masa jabatan Prabowo-Gibran berjalan, Saiful Mujani memberikan penilaian yang cukup ekstrem. Menurutnya, Presiden Prabowo telah menutup diri dari kritik dan masukan publik, sehingga tidak lagi mencerminkan sikap seorang pemimpin yang akomodatif.
“Yang jalan hanya ini. Bisa nggak kita mengkonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo. Hanya itu, kalau nasihati Prabowo nggak bisa juga. Bisanya hanya dijatuhkan,” tegas Saiful dalam video yang diunggah akun Instagram @leveenia.
Saiful berargumen bahwa tindakan ini bukan lagi soal sentimen pribadi, melainkan upaya untuk “menyelamatkan bangsa” dari arah kepemimpinan yang dianggapnya buntu.
Mengapa Jalur Formal (Impeachment) Dianggap Mustahil?
Dalam forum yang juga dihadiri tokoh-tokoh seperti Feri Amsari, Ray Rangkuti, dan Islah Bahrawi tersebut, Saiful mengakui bahwa mekanisme formal di DPR atau MPR sudah tidak bisa diharapkan. Ada beberapa alasan di balik pesimisme tersebut:
-
Dominasi Koalisi Parlemen: Kuatnya koalisi pendukung pemerintah di legislatif membuat celah pemakzulan (impeachment) tertutup rapat.
-
Oposisi Formal Melemah: Hampir tidak ada kekuatan penyeimbang yang signifikan di dalam sistem pemerintahan saat ini.
-
Kekuatan Politik Dinasti: Isu konsolidasi kekuasaan dan politik dinasti dianggap telah mengunci stabilitas elit di lingkaran kekuasaan.
Oleh karena itu, Saiful mendorong adanya tekanan dari luar sistem melalui aksi massa, demonstrasi besar, dan konsolidasi masyarakat sipil sebagai instrumen perubahan.
Rekam Jejak Kritik: Pola yang Konsisten
Sikap konfrontatif Saiful Mujani sebenarnya bukanlah hal baru. Secara historis, Saiful dan lembaga surveinya, SMRC, dikenal sangat kritis terhadap Prabowo Subianto sejak Pilpres 2014. Ia juga pernah menyuarakan pendekatan serupa di era Presiden Joko Widodo.
Bagi para pendukungnya, ini adalah bentuk konsistensi seorang intelektual. Namun bagi para kritikus, pernyataan Saiful kali ini dianggap melampaui batas kewajaran seorang pengamat dan cenderung bersifat provokatif.
Reaksi Publik: Antara Aspirasi dan Instabilitas
Memasuki April 2026, kondisi sosial-politik Indonesia memang sedang diuji oleh berbagai isu ekonomi dan perdebatan tata kelola negara. Seruan “People Power” ala Saiful Mujani ini menuai dua reaksi besar di masyarakat:
-
Pihak Pendukung: Menilai bahwa ketika institusi formal (DPR) tidak lagi berfungsi sebagai pengawas, maka masyarakat sipil wajib mengambil peran sebagai kontrol sosial melalui tekanan massa.
-
Pihak Kontra: Menganggap seruan menjatuhkan presiden yang sah di tengah jalan adalah tindakan berbahaya yang bisa memicu polarisasi tajam dan merusak stabilitas nasional pasca-Pemilu 2024.
Risiko Politik dan Dilema Demokrasi
Secara analitis, gerakan ekstra-parlementer memang diakui dalam teori demokrasi sebagai alat koreksi terakhir. Namun, di tengah fase awal pemerintahan, seruan untuk “menjatuhkan” pemimpin mengandung risiko instabilitas ekonomi dan sosial yang besar.
Pertanyaannya kini: Apakah suara Saiful Mujani hanya akan berakhir sebagai diskusi di meja makan kaum intelektual, atau justru menjadi pemantik gerakan nyata di jalanan pada pertengahan 2026 ini? (Sumber:Suara.com)
























![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

