Anggota DPRD Kalteng Suarakan Pentingnya Kearifan Lokal dalam Pembangunan: Lindungi Peladang dan Penambang Tradisional Dayak

- Jurnalis

Sabtu, 21 Juni 2025 - 17:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng) dari Fraksi PDI Perjuangan, Nyelong Inga Simon. Foto:Dok/1tulah.com

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng) dari Fraksi PDI Perjuangan, Nyelong Inga Simon. Foto:Dok/1tulah.com

1TULAH.COM-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah (Kalteng) dari Fraksi PDI Perjuangan,Nyelong Inga Simon, baru-baru ini menyuarakan keprihatinannya yang mendalam mengenai nasib masyarakat Dayak, khususnya mereka yang menggantungkan hidup sebagai peladang dan penambang emas tradisional.

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap kelompok masyarakat ini masih jauh dari memadai.

Meluruskan Stigma Negatif Terhadap Kearifan Lokal

Nyelong Inga Simon menyoroti ironi di mana aktivitas tradisional masyarakat Dayak seringkali disalahpami.

“Ironis sekarang, seperti undang-undang lingkungan hidup dan undang-undang Minerba, kita ini malah dikatakan mencuri emas dan dianggap penyebab kebakaran lahan hingga diprotes negara tetangga. Semua itu saya katakan tidak benar,” tegas Nyelong.

Ia menjelaskan bahwa peladang dan penambang tradisional sesungguhnya menjalankan profesi mereka berdasarkan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Aktivitas ini dilakukan dengan prinsip tanggung jawab tinggi terhadap alam, jauh dari citra perusak lingkungan yang sering disematkan.

Baca Juga :  Temui Presiden Prabowo, Panglima Jilah Bawa Aspirasi Masyarakat Adat Dayak

Fraksi PDI Perjuangan Dorong Pembangunan Berbasis Kesejahteraan dan Kearifan Lokal

Menyikapi kondisi ini, Nyelong menegaskan bahwa Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kalteng telah mengambil langkah proaktif. Mereka mendorong Pemerintah Provinsi untuk menyusun dan melaksanakan program pembangunan lima tahun ke depan dengan fokus utama pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Kesejahteraan itu dapat dicapai dengan memperhatikan dan menghormati nilai-nilai kearifan lokal,” ujarnya.

Filosofi Huma Betang, sebuah nilai budaya masyarakat Dayak yang mengedepankan semangat gotong royong dan hidup harmonis, disebut Nyelong sebagai dasar utama yang harus menjadi pijakan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah.

“Visi dan misi Bapak Gubernur Agustiar Sabran yang tertuang dalam 170 Indikator Kinerja Utama (IKU) semestinya lebih menonjolkan tentang kearifan lokal, bukan hanya fokus pada pembangunan fisik dan hilirisasi,” tegas politisi perempuan ini.

Baca Juga :  Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Integrasi Teknologi dan Hilirisasi Tanpa Mengikis Jati Diri Lokal

Lebih lanjut, Nyelong juga menekankan pentingnya integrasi antara teknologi dan konsep hilirisasi dalam pembangunan daerah. Namun, ia memberikan peringatan keras agar pendekatan modern tersebut tidak justru menyingkirkan nilai-nilai lokal yang masih hidup dan mengakar kuat dalam masyarakat.

“Kearifan lokal ini masih kuat dan menjadi bagian dari jati diri masyarakat. Contohnya seperti ladang berpindah yang sebenarnya bukan sekadar membakar lahan begitu saja, tetapi dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan musim dan kondisi lingkungan,” pungkas Nyelong.

Pernyataan Nyelong Inga Simon ini menjadi pengingat penting bagi para pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa kemajuan dan pembangunan tidak mengorbankan identitas budaya serta keberlanjutan hidup masyarakat adat.

Mampukah pemerintah Kalteng mengintegrasikan kearifan lokal dalam setiap langkah pembangunannya? (Ingkit)

Berita Terkait

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:48 WIB

Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Berita Terbaru