Salju Abadi Indonesia Kian Memudar: Gletser Puncak Jaya Papua Tersisa 2 Persen, Diprediksi Punah Total 2026

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber: BMKG

Sumber: BMKG

1TULAH.COM-Fenomena langka hadirnya lapisan es di wilayah tropis Indonesia kini berada di ambang kepunahan. Gletser Puncak Jaya yang terletak di Pegunungan Sudirman, Papua—yang selama ini populer dengan julukan “salju abadi”—terus mengalami penyusutan drastis. Saat ini, luas tutupan es tersebut hanya tersisa sekitar 2 persen dibandingkan ukurannya pada tahun 1988.

Berdasarkan data pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), luas gletser Puncak Jaya pada tahun 1988 tercatat masih mencapai 4,3 kilometer persegi. Namun, per September 2025, ukurannya menyusut tajam hingga tersisa hanya 0,09 kilometer persegi (berkurang sekitar 98 persen).

BMKG memperkirakan, jika laju pencairan terus berlangsung tanpa intervensi alam, lapisan es Puncak Jaya diprediksi akan hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.

Mengapa Gletser Puncak Jaya Terus Menyusut?

Gletser pada dasarnya merupakan massa es besar yang terbentuk dari akumulasi endapan salju selama puluhan hingga ratusan tahun. Keberadaan gletser di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia tergolong sangat langka dan hanya bisa ditemukan di puncaknya kawasan pegunungan dengan ketinggian ekstrem.

Penyusutan tajam gletser di Papua ini dipicu oleh akumulasi beberapa faktor utama:

  • Laju Perubahan Iklim Global: Kenaikan suhu rata-rata bumi secara global memicu kenaikan suhu di area pegunungan tinggi, sehingga laju pencairan es jauh lebih cepat ketimbang akumulasi salju baru.

  • Dampak Fenomena El Niño: BMKG mencatat bahwa anomali iklim El Niño turut mempercepat pencairan karena memicu suhu lingkungan yang lebih panas serta kondisi udara yang lebih kering.

  • Penyusutan Ganda (Luas & Ketebalan): Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, menjelaskan bahwa pengurangan massa es terjadi tidak hanya dari penyempitan luas permukaan, tetapi juga penipisan ketebalan es. Fenomena ini serupa dengan yang dialami gletser tropis di Gunung Kilimanjaro, Afrika.

“Ketika jumlah es yang mencair jauh lebih besar dibandingkan akumulasi salju baru, massa gletser secara alamiah akan terus menyusut hingga akhirnya habis,” catat analisis terkait pencairan gletser tropis.

Riset UGM: 95,95 Persen Es Hilang dalam Periode 1995–2023

Penyusutan dramatis ini juga diperkuat oleh hasil penelitian akademisi UGM yang dipublikasikan pada tahun 2025. Menggunakan pantauan citra satelit Landsat, analisis perubahan gletser Pegunungan Jayawijaya dari periode 1995 hingga 2023 menunjukkan bahwa 95,95 persen luas gletser telah hilang dalam kurun waktu kuran dari tiga dekade tersebut.

Baca Juga :  37 Ribu Siswa Jadi Korban Keracunan MBG, Pengelola SPPG Bisa Terancam Jerat Pidana

Data ini menegaskan bahwa proses hilangnya es abadi di Papua bukanlah peristiwa mendadak, melainkan krisis lingkungan yang berlangsung konsisten dalam hitungan dekade.

Baca Juga :  Berantas Korupsi dan Kebocoran Anggaran, Prabowo Alihkan Dana untuk Riset dan Sekolah

Dampak Hilangnya Gletser: Kehilangan “Arsip Iklim” Dunia

Hilangnya gletser Puncak Jaya bukan sekadar kehilangan lanskap pemandangan indah di Tanah Papua, melainkan kerugian besar bagi sains global.

Gletser Puncak Jaya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi. Sampel inti es (ice core) yang diambil dari kawasan ini berfungsi sebagai “kapsul waktu” atau sumber data alami untuk membaca riwayat serta kondisi iklim bumi di masa lalu. Jika gletser ini musnah total, maka salah satu arsip data iklim alami terpenting di kawasan tropis dunia akan hilang selamanya.

Kepunahan salju abadi ini menjadi sinyal peringatan nyata (warning signal) atas dampak nyata perubahan iklim global yang kini tengah berlangsung di depan mata kita. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Tingkatkan Rasa Bangga Berbusana Lokal, DWP Sekretariat DPRD Kalteng Edukasi Anggota lewat Museum Batik
Bahlil dan Purbaya Bertemu Bahas Subsidi BBM Tepat Sasaran
Ahmad Sahroni Minta Provokator Hoaks di Medsos Ditindak Tegas
Dakwaan Kasus Kuota Haji: JPU KPK Ungkap Pengaturan Kuota Tambahan ‘Satu Pintu’ Lewat Bos Maktour
Bukan Lagi Soal Kompetisi: Kolaborasi Lintas Media Jadi Kunci Eksistensi Pers Daerah
Ancaman di Balik Energi Terbarukan: Mengapa PSN Berlabel Hijau Memicu Konflik Agraria?
Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite untuk Orang Kaya, Targetkan Kuartil 9 dan 10
DPRD Kalteng Sambut Baik Rencana Tambahan TKD Rp20,5 Triliun, Angin Segar Bagi Gaji ASN dan Pelayanan Publik
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:06 WIB

Tingkatkan Rasa Bangga Berbusana Lokal, DWP Sekretariat DPRD Kalteng Edukasi Anggota lewat Museum Batik

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:52 WIB

Bahlil dan Purbaya Bertemu Bahas Subsidi BBM Tepat Sasaran

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:50 WIB

Ahmad Sahroni Minta Provokator Hoaks di Medsos Ditindak Tegas

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:35 WIB

Salju Abadi Indonesia Kian Memudar: Gletser Puncak Jaya Papua Tersisa 2 Persen, Diprediksi Punah Total 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 - 05:42 WIB

Bukan Lagi Soal Kompetisi: Kolaborasi Lintas Media Jadi Kunci Eksistensi Pers Daerah

Rabu, 12 Agustus 2026 - 05:35 WIB

Ancaman di Balik Energi Terbarukan: Mengapa PSN Berlabel Hijau Memicu Konflik Agraria?

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:40 WIB

Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite untuk Orang Kaya, Targetkan Kuartil 9 dan 10

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

DPRD Kalteng Sambut Baik Rencana Tambahan TKD Rp20,5 Triliun, Angin Segar Bagi Gaji ASN dan Pelayanan Publik

Berita Terbaru