1TULAH.COM-Hubungan diplomatik di Asia Tenggara kembali memanas. Komentar Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, yang menyeret relevansi Selat Malaka saat membahas penutupan Selat Hormuz oleh Iran, menuai kecaman keras dari Malaysia. Situasi ini memicu perdebatan mengenai netralitas negara kawasan di tengah konflik Timur Tengah.
Nurul Izzah: Singapura Tidak Netral
Kritik tajam datang dari Nurul Izzah Anwar, Deputi Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) sekaligus putri Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Nurul menilai pernyataan Balakrishnan menunjukkan posisi Singapura yang lebih condong mendukung kepentingan kekuatan eksternal (Amerika Serikat dan Israel) ketimbang menjaga solidaritas kawasan.
Nurul membandingkan pendekatan Singapura dengan langkah diplomasi yang diambil ayahnya. Menurutnya, Malaysia memilih jalur dialog dengan Iran untuk memastikan kapal-kapal Malaysia tetap bisa melintasi Selat Hormuz demi stabilitas energi global.
“Sukar sekali untuk mengabaikan maksud terselubung dalam posisi Balakrishnan. Ia kurang menampilkan netralitas dan lebih menggemakan preferensi strategis terhadap kekuatan-kekuatan eksternal,” tegas Nurul Izzah.
Alasan Singapura Ogah Negosiasi dengan Iran
Sebelumnya, dalam sidang parlemen Singapura pada Selasa (7/4/2026), Vivian Balakrishnan secara tegas menyatakan bahwa Singapura tidak akan bernegosiasi atau membayar tarif kepada Teheran untuk melintasi Selat Hormuz.
Argumen utama Singapura berlandaskan pada hukum internasional:
-
Hak Melintas (Freedom of Navigation): Berdasarkan UNCLOS, melintasi selat internasional adalah hak, bukan izin yang harus dimohonkan.
-
Perbandingan Strategis: Balakrishnan mengingatkan bahwa Selat Malaka jauh lebih strategis dan jauh lebih sempit (kurang dari 2 mil laut di titik tertentu) dibandingkan Selat Hormuz (21 mil laut).
-
Preseden Berbahaya: Singapura khawatir jika mereka tunduk pada aturan tarif Iran di Hormuz, hal itu bisa mengancam status bebas lintas di Selat Malaka yang menjadi nadi ekonomi Singapura.
Posisi Indonesia: Presiden Prabowo Ingatkan Kekuatan Geopolitik
Di tengah “perang urat syaraf” antara Singapura dan Malaysia, Presiden Prabowo Subianto memberikan pandangan yang mempertegas kedaulatan Indonesia. Dalam pidatonya pada Rabu (8/4/2026), Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia mengendalikan choke points paling krusial di dunia.
Poin Utama Pidato Presiden Prabowo:
-
Kendali Jalur Laut: 70% perdagangan laut dunia dan kebutuhan energi Asia Timur melewati perairan Indonesia, termasuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.
-
Pelajaran dari Selat Hormuz: Penutupan jalur oleh Iran harus menjadi pengingat bagi rakyat Indonesia betapa strategisnya posisi geografis tanah air.
-
Kemandirian Nasional: Prabowo menekankan pentingnya persatuan dan kemandirian energi agar Indonesia tidak mudah diadu domba oleh kepentingan asing.
“Sesudah 12 bulan ke depan, kita akan menjadi sangat kuat,” pungkas Prabowo, menekankan bahwa ketahanan nasional adalah kunci menghadapi dinamika global yang tak menentu.
Tabel Perbandingan: Selat Hormuz vs Selat Malaka
Ketegangan ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas di Asia Tenggara ketika konflik Timur Tengah mulai menyeret kepentingan jalur perdagangan lokal.
Sementara Singapura berpegang teguh pada aturan hukum laut internasional demi kelangsungan ekonominya, Malaysia menekankan pendekatan diplomasi lunak, dan Indonesia memilih untuk memperkuat posisi tawarnya sebagai penguasa jalur laut strategis dunia. (Sumber:Suara.com)
























![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

