DPRD Kalteng Dukung WPR Berbasis Usulan Masyarakat: Solusi Tekan Tambang Ilegal!

- Jurnalis

Jumat, 29 Agustus 2025 - 13:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Bambang Irawan. Foto:Dok/1tulah.com

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Bambang Irawan. Foto:Dok/1tulah.com

1TULAH.COM-Pemerintah berencana melegalkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sebagai langkah menekan aktivitas pertambangan ilegal. Rencana ini disambut baik oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Bambang Irawan. Namun, ia memberikan catatan penting: penentuan lokasi WPR seharusnya berbasis pada usulan masyarakat, bukan pemetaan sepihak dari pemerintah.

WPR dari Masyarakat, Bukan Pemerintah

Menurut Bambang, kebijakan yang efektif adalah saat pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengusulkan lahan bersertifikat yang berpotensi memiliki kandungan emas. Kemudian, pemerintah menetapkan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

“Akan lebih enak, WPR itu berdasarkan usulan dari masyarakat daripada pemerintah yang memploting (memetakan) sendiri,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).

Ia menjelaskan bahwa pemetaan sepihak oleh pemerintah berpotensi tidak efektif. Sebagai contoh, pemerintah mungkin menetapkan suatu wilayah sebagai WPR, tetapi tidak ada jaminan masyarakat setempat bersedia menambang di sana. “Belum tentu di situ ada emas. Mereka belum tentu semuanya akan ke situ. Tetap akan ada sporadis kok, penambangan itu pasti akan sporadis,” lugasnya.

Baca Juga :  Pendaftaran MagangHub 2026 Batch 3 Ditutup Rabu 4 November, Kemnaker Imbau Segera Daftar

Bambang menilai, penambangan ilegal akan tetap terjadi jika penentuan WPR tidak sesuai dengan potensi wilayah dan minat masyarakat. Sebaliknya, jika masyarakat yang mengajukan, proses legalisasi akan lebih terarah dan mendapatkan partisipasi aktif.

Solusi Ganda: PAD dan Reklamasi

Dengan mekanisme berbasis usulan masyarakat, pemerintah tetap bisa mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan melalui pajak. Sementara itu, kewajiban reklamasi pasca-tambang dapat menjaga kelestarian lingkungan.

“Misalnya saya lah yang harus mengajukan izin WPR, bukan pemerintah yang turun mendata itu. Nanti dari situ pemerintah memberikan syarat prasyaratnya. Misalnya pajaknya sekian dan harus melakukan reklamasi,” ungkapnya.

Menurut Bambang, pendekatan ini jauh lebih efektif untuk menekan praktik tambang ilegal dan memastikan semua pihak mendapatkan manfaat. Pemerintah mendapatkan pemasukan, masyarakat memiliki kesempatan untuk menambang secara legal, dan lingkungan tetap terlindungi.

Baca Juga :  Situasi Keamanan Arab Saudi Memanas, Jadwal Piala Asia 2027 Terancam Diundur

Batasan Luas WPR untuk Pengendalian

Meskipun mendukung penuh WPR berbasis usulan masyarakat, Bambang Irawan menekankan pentingnya adanya batasan maksimal luas lahan yang dapat diusulkan oleh setiap pihak. Hal ini bertujuan untuk memastikan pengendalian dan tata kelola yang baik.

“Iya, kalau penentuan kawasan WPR adalah masyarakat. Kalau pemerintah tidak bisa. Tapi mungkin dengan konsep WPR masyarakat yang mengajukan bisa. Tapi harus punya batasan maksimal WPR yang diusulkan,” pungkasnya.

Pernyataan dari Bambang Irawan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana WPR dapat diterapkan secara efektif. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, diharapkan legalisasi tambang rakyat dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal sekaligus menjaga lingkungan. (Ingkit)

Berita Terkait

Hadir Langsung di Sidang Roy Suryo, Jokowi Buka Suara Soal Foto Berkumis & Kacamata di Ijazah
Bunda PAUD Barsel Hj. Permana Sari Tekankan Pentingnya Fondasi Emas Anak di Usia Dini
Bawa Dokumen Asli ke Persidangan, Jokowi Siap Beberkan Riwayat Pendidikannya di UGM
Peringatan Maulid di Pidie Berakhir Tragis: 1 Meninggal dan Belasan Terluka Usai Penertiban Bendera
Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda
Helikopter Mi-17V5 TNI AD Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla di Seruyan, 1 Prajurit Gugur
Sejarah Kelam Penyadapan Presiden: Jejak Spionase Politik dari Megawati Hingga Prabowo
SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:52 WIB

Hadir Langsung di Sidang Roy Suryo, Jokowi Buka Suara Soal Foto Berkumis & Kacamata di Ijazah

Kamis, 5 November 2026 - 13:33 WIB

Bunda PAUD Barsel Hj. Permana Sari Tekankan Pentingnya Fondasi Emas Anak di Usia Dini

Kamis, 5 November 2026 - 08:49 WIB

Bawa Dokumen Asli ke Persidangan, Jokowi Siap Beberkan Riwayat Pendidikannya di UGM

Kamis, 5 November 2026 - 08:41 WIB

Peringatan Maulid di Pidie Berakhir Tragis: 1 Meninggal dan Belasan Terluka Usai Penertiban Bendera

Rabu, 4 November 2026 - 16:55 WIB

Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda

Rabu, 4 November 2026 - 16:49 WIB

Helikopter Mi-17V5 TNI AD Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla di Seruyan, 1 Prajurit Gugur

Rabu, 4 November 2026 - 12:42 WIB

Sejarah Kelam Penyadapan Presiden: Jejak Spionase Politik dari Megawati Hingga Prabowo

Rabu, 4 November 2026 - 08:26 WIB

SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga

Berita Terbaru