Lampu Kuning Ekonomi Indonesia: Konsumsi Lesu dan Manufaktur Terpuruk Akibat Ketidakpastian

- Jurnalis

Selasa, 17 Juni 2025 - 19:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah indikator ekonomi terbaru menunjukkan bahwa masyarakat kian menahan diri untuk berbelanja, sementara sektor manufaktur ambruk dihantam badai ketidakpastian.

Sejumlah indikator ekonomi terbaru menunjukkan bahwa masyarakat kian menahan diri untuk berbelanja, sementara sektor manufaktur ambruk dihantam badai ketidakpastian.

1TULAH.COM-Perekonomian Indonesia menunjukkan sinyal mengkhawatirkan. Lampu kuning ekonomi kini semakin nyata terlihat dari berbagai indikator terbaru. Masyarakat kian menahan diri untuk berbelanja, sementara sektor manufaktur, yang menjadi tulang punggung ekonomi, ambruk dihantam badai ketidakpastian global dan domestik.

Konsumsi Rumah Tangga Melambat, Dompet Terkunci Rapat

Riset terbaru dari Core Indonesia bertajuk “Setengah Daya Pacu Ekonomi” yang diterima pada Selasa (17/6/2025), mengungkap fakta pahit. Indeks Penjualan Riil pada Mei 2025 diprediksi akan turun 0,6 persen secara bulanan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari dompet-dompet yang terkunci rapat.

Perlambatan konsumsi ini bukan hal baru. Kuartal pertama 2025 juga mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang lesu dibandingkan periode sebelumnya. Laporan Core Indonesia menyebutkan, “Ini menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masih belum pulih sepenuhnya.” Tren ini mengindikasikan adanya kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya, mungkin karena kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi.

Sektor Manufaktur Ambruk: Sinyal Bahaya Jutaan Pekerja

Ancaman terbesar justru datang dari sektor manufaktur, yang menjadi tulang punggung 21% ekonomi Indonesia. Menjelang pertengahan triwulan kedua 2025, sektor ini berada dalam kondisi kritis. Output dan permintaan baru anjlok tajam, dengan penurunan permintaan pada Mei tercatat sebagai yang terparah sejak Agustus 2021.

Baca Juga :  Soal Praperadilan Lodewyk Pusung, Kejagung Tekankan Batas Waktu Pengajuan

“Ini bukan hanya angka, ini adalah sinyal bahaya bagi jutaan pekerja di sektor ini,” sebut laporan Core Indonesia.

Secara rinci, indeks PMI (Purchasing Managers’ Index) yang masih bercokol di zona kontraksi semakin memperburuk keadaan, mencerminkan pesimisme yang melanda para pelaku usaha. Lesunya permintaan membuat perusahaan menahan pembelian dan mengurangi stok, sebuah siklus mengerikan yang bisa berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

Laporan PMI S&P Global bahkan menyebutkan bahwa banyak perusahaan terpaksa menawarkan diskon besar-besaran, meskipun biaya produksi melonjak. “Ini artinya, margin keuntungan industri manufaktur semakin tertekan,” tulis Core Indonesia, mengindikasikan tekanan profitabilitas yang serius di sektor ini.

Kepercayaan Konsumen Menurun: Kecemasan Menatap Masa Depan

Yang paling mengkhawatirkan dari kondisi ekonomi ini adalah dampak psikologisnya terhadap masyarakat. Kepercayaan terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan mulai goyah. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada April 2025 turun menjadi 129,8 dari 131,7. Meskipun masih di zona optimis, penurunan ini adalah sinyal jelas bahwa masyarakat mulai menatap masa depan dengan kecemasan.

Harapan terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha ke depan juga ikut menurun. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) melemah, begitu pula Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU), mencerminkan kekhawatiran yang meluas tentang prospek ekonomi.

Baca Juga :  KPK Pastikan Asap di Gedung Merah Putih Bukan Kebakaran

Peringatan dari Menteri Keuangan: Gejolak Ekonomi dan Geopolitik Global

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengingatkan tentang kondisi perekonomian global yang saat ini masih dilanda ketegangan. Ia menyampaikan hal itu kepada para pejabat baru di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saat pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama dan pejabat pada unit organisasi non eselon Kemenkeu.

Sri Mulyani menegaskan bahwa dunia saat ini berada dalam situasi yang tidak mudah, dengan berbagai tantangan yang terus terjadi baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik.

“Dunia penuh dengan hubungan yang bersitegang. Adanya persaingan geopolitik menimbulkan fragmentasi ekonomi dan ini memberikan imbas yang luar biasa. Baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, harga komoditas, persaingan geopolitik dan keamanan, termasuk larangan atau regulasi ekspor-impor yang luar biasa disruptif. Ini adalah sesuatu yang sedang dan akan terus terjadi,” ujarnya.

Peringatan dari Menteri Keuangan ini menggarisbawahi bahwa tekanan ekonomi domestik tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Kombinasi dari konsumsi yang lesu, manufaktur yang terpuruk, dan ketidakpastian global menuntut perhatian serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk mencari solusi demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 07:40 WIB

Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:35 WIB

Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Berita Terbaru