Bukan Cuma Angka: Ini Dampak Penurunan Populasi Jepang, dari Ekonomi hingga Kota Hantu

- Jurnalis

Jumat, 8 Agustus 2025 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Jepang (Pixabay)

Ilustrasi Jepang (Pixabay)

1TULAH.COM-Jepang kembali mencatat rekor suram pada tahun 2024. Data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menunjukkan penurunan populasi tahunan paling tajam sejak 1968.

Dengan jumlah kematian yang hampir dua kali lipat dari kelahiran, Negeri Sakura kini menghadapi “darurat yang tenang” yang mengancam keberlanjutan sistem sosialnya.

Rekor Terendah dalam Sejarah Modern

Sepanjang 2024, hanya ada 686.061 kelahiran di Jepang, angka terendah sepanjang sejarah pencatatan sejak tahun 1899. Sebaliknya, hampir 1,6 juta orang meninggal dunia, menciptakan rasio yang mengkhawatirkan: untuk setiap bayi yang lahir, lebih dari dua warga Jepang meninggal.

Penurunan populasi ini merupakan yang ke-16 kalinya secara berturut-turut. Total warga negara Jepang berkurang sebanyak 908.574 orang. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan sistem pensiun dan layanan kesehatan yang terbebani oleh populasi lansia yang terus meningkat.

Upaya Pemerintah dan Hambatan Budaya

Perdana Menteri Shigeru Ishiba telah menyadari urgensi krisis ini. Ia berjanji akan mendorong kebijakan ramah keluarga seperti penitipan anak gratis dan jam kerja yang fleksibel. Namun, berbagai upaya pemerintah sebelumnya, mulai dari subsidi perumahan hingga cuti orang tua berbayar, belum mampu mengatasi tren penurunan angka kelahiran yang terus terjadi.

Baca Juga :  Karhutla Mengamuk di Kalimantan dan Sumatera: Titik Panas Kalteng Melonjak Tembus 5.391

Beberapa faktor yang menjadi hambatan utama adalah:

  • Biaya hidup tinggi dan upah stagnan, yang membuat banyak pasangan muda menunda atau enggan memiliki anak.
  • Budaya kerja yang kaku, yang tidak mendukung keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan.
  • Peran gender tradisional, di mana perempuan masih dibebani tanggung jawab utama sebagai pengasuh, sehingga menyulitkan mereka untuk berkarier.

Dampak Ekonomi dan Fenomena “Kota Hantu”

Penurunan populasi tidak hanya berdampak pada demografi, tetapi juga ekonomi. Populasi usia kerja (15-64 tahun) di Jepang telah menurun hingga sekitar 60%. Hal ini mengakibatkan kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor.

Dampak visual dari krisis ini terlihat jelas di wilayah pedesaan, di mana banyak daerah telah berubah menjadi “kota hantu”. Laporan mencatat bahwa hampir 4 juta rumah telah terbengkalai dalam dua dekade terakhir, menjadi saksi bisu dari eksodus ke kota-kota besar.

Baca Juga :  Banggar DPRD Kalteng dan TAPD Sepakati Tambahan Bagi Hasil Kab/Kota Rp186,71 Miliar di APBD 2027

Imigrasi: Bukan Solusi Cepat

Jepang mulai membuka diri terhadap imigrasi, dengan jumlah penduduk asing mencapai rekor 3,6 juta pada awal 2025—sekitar 3% dari total populasi. Pemerintah memperkenalkan visa nomaden digital dan program peningkatan keterampilan untuk menarik talenta asing.

Namun, imigrasi masih menjadi isu sensitif di Jepang yang cenderung konservatif. Para ahli demografi sepakat bahwa imigrasi saja tidak akan cukup untuk membalikkan tren penurunan populasi yang telah berlangsung sejak tahun 1970-an.

Diperlukan waktu puluhan tahun untuk melihat dampak nyata dari kebijakan apa pun yang diterapkan saat ini. Jepang kini menghadapi tantangan berat untuk menemukan keseimbangan antara tradisi dan kebutuhan mendesak akan perubahan. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:48 WIB

Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Berita Terbaru