Komdigi RI Dikecam Netizen X: Takedown Unggahan Kritik Fadli Zon Soal Tragedi Mei 1998 Picu Kontroversi Penghapusan Sejarah

- Jurnalis

Jumat, 20 Juni 2025 - 12:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komdigi Tuai Kecaman, Diduga Minta Takedown Postingan Kritik Fadli Zon soal Pemerkosaan Massal 1998. (Dok: DPR)

Komdigi Tuai Kecaman, Diduga Minta Takedown Postingan Kritik Fadli Zon soal Pemerkosaan Massal 1998. (Dok: DPR)

1TULAH.COM-Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI) tengah menjadi sorotan tajam di platform X (dahulu Twitter).

Sejumlah akun mengaku menerima permintaan penghapusan (takedown) atas unggahan mereka yang mengkritik pernyataan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, terkait tragedi pemerkosaan massal dalam Kerusuhan Mei 1998.

Langkah Komdigi ini memicu gelombang kecaman, dinilai sebagai upaya pemerintah untuk menghapus jejak sejarah kelam bangsa.

Permintaan Takedown Konten dan Reaksi Keras Netizen

Salah satu akun yang paling vokal mengkritik adalah @MurtadhaOne1. Ia secara terang-terangan menyentil Komdigi melalui unggahannya. “PARAH!!! Bukannya sibuk memblokir situs-situs judol yang semakin merajalela, @kemkomdigi malah sibuk meminta takedown postingan-postingan yang membantah pernyataan menteri @kemenbud tentang pemerkosaan massal,” tulisnya.

@MurtadhaOne1 juga menyebutkan bahwa video yang diminta untuk dihapus merupakan tayangan resmi dari media Kompas, yang hingga kini masih dapat ditemukan di kanal YouTube resminya. Konten yang dimaksud menyatakan bahwa kasus pemerkosaan massal pada Kerusuhan Mei 1998 adalah nyata, dengan korban-korban yang mengalami trauma berat dan ketakutan, bahkan ada yang dibunuh sebelum sempat bersaksi.

Tak hanya @MurtadhaOne1, akun lain seperti @neohistoria_id dan @perupadata juga mengaku menerima email serupa dari platform X. Email tersebut berisi notifikasi bahwa pemerintah Indonesia, melalui Komdigi, telah mengajukan permintaan hukum agar unggahan mereka dihapus karena dianggap melanggar hukum nasional.

Baca Juga :  Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Menanggapi hal ini, netizen ramai-ramai mengecam langkah pemerintah yang dianggap mencoba membungkam suara-suara yang mengkritik Fadli Zon. Keresahan semakin meningkat karena akun-akun tersebut tidak menyebarkan disinformasi, melainkan membagikan video berita atau opini berbasis data dan kesaksian sejarah. “Semakin tampak jelas orkestrasi rezim ini dalam upaya menghapus sejarah kelam yang terkait dengan mereka,” tulis @MurtadhaOne1 dalam salah satu unggahannya.

Kontroversi Berawal dari Pernyataan Fadli Zon Soal “Rumor” Kerusuhan Mei 1998

Sumber ketegangan ini bermula dari pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam wawancara yang tayang di kanal YouTube IDN Times pada 11 Juni 2025. Dalam wawancara itu, Fadli menyebut kasus pemerkosaan massal dalam Kerusuhan Mei 1998 hanyalah “rumor” yang tidak pernah terbukti secara nyata. Dia bahkan menantang siapa saja untuk menunjukkan bukti solid, sontak menimbulkan amarah publik.

Pernyataan ini segera memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Komnas Perempuan, melalui Komisionernya Daden Sukendar, mengecam keras Fadli Zon. Daden menegaskan bahwa Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah mengumpulkan data dan menyatakan pemerkosaan massal benar-benar terjadi. Bahkan, Presiden BJ Habibie saat itu sudah meminta maaf secara terbuka kepada para korban.

Kecaman dari Berbagai Kalangan: Aktivis, Politisi, hingga Peneliti Sejarah

Baca Juga :  Perkuat Cadangan Pangan Barsel, Pemkab dan Bulog Buntok Jalin Kerja Sama Strategis

Aktivis perempuan dan kelompok pro-demokrasi ’98 juga menyuarakan penolakan keras atas narasi yang dibawa Fadli Zon. Mereka menuntut agar Fadli dicopot dari jabatannya dan meminta pemerintah tidak melakukan penulisan ulang sejarah secara sepihak.

Anggota DPR seperti Bonnie Triyana dari Komisi X dan Nihayatul Waroh dari PKB turut menyampaikan protes. Mereka menilai penulisan ulang sejarah seharusnya dilakukan secara objektif, bukan untuk membenarkan versi penguasa.

Koalisi Perempuan Indonesia menyebut pernyataan Fadli sebagai upaya manipulatif yang berpotensi menghapus sejarah kekerasan terhadap perempuan. Mereka mengingatkan bahwa ada banyak kesaksian langsung dari pendamping korban. Salah satunya adalah laporan investigatif Tempo edisi Oktober 1998, yang menyatakan korban pemerkosaan sebagian besar adalah perempuan keturunan Tionghoa dan mengalami trauma berat.

Tekanan Publik dan Belum Ada Keterangan Resmi Komdigi

Hingga berita ini diturunkan, Komdigi belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan permintaan takedown tersebut. Sementara itu, tekanan publik terhadap pemerintah terus meningkat, terutama di media sosial. Netizen merasa tindakan membungkam kritik dianggap mencederai demokrasi dan hak atas kebenaran sejarah.

Di sisi lain, gelombang kecaman terus diterima oleh Fadli Zon, dengan beberapa pihak bahkan menuntut pencopotannya dari jabatan menteri. Polemik ini menegaskan kembali pentingnya menjaga kebenaran sejarah dan kebebasan berekspresi di ruang publik. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!
Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU
Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital
Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:48 WIB

Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Kamis, 3 September 2026 - 12:02 WIB

Bungkam Saat Digelandang Petugas, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Diperiksa Kasus TPPU

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

Kasus Warga Terisolasi di Singapura Naik 2 Lipat, Pekerja Sosial Lakukan Pendekatan Digital

Rabu, 2 September 2026 - 22:21 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkab Mura Siapkan Ruang Oksigen di 17 Puskesmas

Rabu, 2 September 2026 - 17:25 WIB

Kawal Program Makan Bergizi Gratis dan Tugas Pokok, BPOM Perjuangkan Tambahan Anggaran Rp2,4 Triliun

Berita Terbaru