Rahasia Sains di Balik Fenomena Matahari Berwarna Merah Saat Bencana Karhutla

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi fenomena matahari merah saat terbenam (dok.Pixabay/JodyDellDavis)

Ilustrasi fenomena matahari merah saat terbenam (dok.Pixabay/JodyDellDavis)

1TULAH.COM-Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya memicu kabut asap serta menurunkan kualitas udara. Di beberapa wilayah terdampak, fenomena ini kerap memperlihatkan pemandangan unik sekaligus mengkhawatirkan: matahari tampak berwarna merah pekat atau jingga menyala.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa perubahan warna sang surya tersebut murni merupakan efek optik dari interaksi cahaya matahari dengan partikel aerosol di dalam asap.

Mekanisme Optik: Asap Sebagai Filter Alami

Secara sains, lapisan asap karhutla bekerja menyerupai filter optik alami di atmosfer. Saat sinar matahari menembus pekatnya asap, partikel-partikel di dalamnya membiaskan, menghamburkan, sekaligus menyerap sebagian gelombang cahaya.

“Sehingga cahaya matahari yang diserap oleh asap begitu sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga,” terang Givo.

Dalam kondisi atmosfer normal, gelombang cahaya pendek seperti warna biru lebih mudah dihamburkan oleh molekul udara (hamburan Rayleigh). Efek inilah yang membuat langit di siang hari tampak biru cerah.

Baca Juga :  Berjalan Lancar, Seluruh Peserta Muktamar NU ke-35 Menerima LPJ PBNU

Namun, ketika karhutla terjadi, konsentrasi aerosol meningkat drastis. Partikel-partikel hasil pembakaran—seperti jelaga, abu, dan material organik—mengubah cara cahaya diteruskan. Karena gelombang warna biru tersaring dan terhamburkan sebelum sampai ke permukaan, hanya gelombang panjang seperti merah dan jingga yang berhasil lolos menembus mata manusia.

Mengapa Terlihat Lebih Pekat Saat Pagi dan Sore?

Fenomena matahari memerah ini biasanya terlihat jauh lebih kontras pada saat matahari terbit (sunrise) maupun terbenam (sunset).

Givo membeberkan bahwa pada pagi dan sore hari, posisi matahari berada dekat dengan garis cakrawala (horizon). Kondisi ini memaksa sinar matahari menempuh lintasan atmosfer yang jauh lebih panjang dibanding saat tengah hari.

“Semakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari,” ungkapnya.

Baca Juga :  DPRD Kalteng Desak Dana BTT Karhutla Rp70 Miliar Segera Siap dan Bebas Prosedur Berbelit

Bisakah Warna Matahari Jadi Indikator Kualitas Udara?

Kendati pemandangan matahari merah kerap identik dengan kabut asap tebal, Givo menegaskan agar masyarakat tidak menjadikan warna matahari sebagai patokan tunggal untuk menilai seberapa buruk kualitas udara di permukaan.

Beberapa alasannya antara lain:

  • Ketinggian Lapisan Asap: Asap yang berada di lapisan atmosfer tinggi dapat membuat matahari tampak merah, meskipun konsentrasi partikel berbahaya (PM2.5) di permukaan bumi masih tergolong aman.

  • Faktor Lingkungan Lain: Warna visual yang ditangkap mata dipengaruhi oleh kombinasi kelembapan udara, ketebalan awan, komposisi aerosol, arah angin, serta sudut bias matahari.

“Jadi, warna matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,” tegas Givo.

Masyarakat diimbau tetap memantau tingkat pencemaran udara melalui stasiun pemantauan resmi milik BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), atau aplikasi indeks standar pencemar udara (ISPU) tepercaya. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Manchester City Rekrut Enzo Fernandez, Gelandang Argentina Jadi Amunisi Baru
KPK Duga Pemerasan Izin Tinggal WNA di Ditjen Imigrasi Masih Marak Pasca-OTT
Karhutla Disebut Bencana Kemanusiaan, Ketua DPRD Kalteng Desak Pemprov dan Forkopimda Naikkan Status Siaga Darurat
Ciri-Ciri Rumah Bermuatan Energi Chi Buruk dan Cara Efektif Menetralisirnya
Rotasi Kepemimpinan Polres Barsel: AKBP Jecson R. Hutapea Pamit dan Ajak Sinergi Tetap Guard
Perkuat Cadangan Pangan Barsel, Pemkab dan Bulog Buntok Jalin Kerja Sama Strategis
Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan
Saling Sindir Netizen Indo-Malaysia: Dihina Miskin Pasrah, Didoakan Presiden Selamanya Ditolak!
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 12:43 WIB

Manchester City Rekrut Enzo Fernandez, Gelandang Argentina Jadi Amunisi Baru

Rabu, 2 September 2026 - 12:12 WIB

Rahasia Sains di Balik Fenomena Matahari Berwarna Merah Saat Bencana Karhutla

Selasa, 1 September 2026 - 17:31 WIB

Karhutla Disebut Bencana Kemanusiaan, Ketua DPRD Kalteng Desak Pemprov dan Forkopimda Naikkan Status Siaga Darurat

Selasa, 1 September 2026 - 17:05 WIB

Ciri-Ciri Rumah Bermuatan Energi Chi Buruk dan Cara Efektif Menetralisirnya

Selasa, 1 September 2026 - 16:50 WIB

Rotasi Kepemimpinan Polres Barsel: AKBP Jecson R. Hutapea Pamit dan Ajak Sinergi Tetap Guard

Selasa, 1 September 2026 - 16:03 WIB

Perkuat Cadangan Pangan Barsel, Pemkab dan Bulog Buntok Jalin Kerja Sama Strategis

Selasa, 1 September 2026 - 15:51 WIB

Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan

Selasa, 1 September 2026 - 15:43 WIB

Saling Sindir Netizen Indo-Malaysia: Dihina Miskin Pasrah, Didoakan Presiden Selamanya Ditolak!

Berita Terbaru