Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan

- Jurnalis

Selasa, 1 September 2026 - 15:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Hutan (pexels.com/mali maeder)

Ilustrasi Hutan (pexels.com/mali maeder)

1TULAH.COM-Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda, api hampir selalu dipandang sebagai ancaman destruktif yang harus segera dipadamkan. Namun, kearifan lokal masyarakat Dayak Iban di Menua Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menunjukkan perspektif yang berbeda. Di komunitas adat ini, api merupakan bagian dari ekosistem perladangan gulir balik (swidden agriculture) yang terkontrol dan diwariskan secara turun-temurun.

Memahami Sistem di Balik Api: Kearifan Perladangan Gulir Balik

Penggunaan api dalam tradisi Dayak Iban tidak dilakukan secara sembarangan. Praktik ini didukung oleh pengetahuian ekologis, aturan adat, serta teknik penanganan yang terukur.

“Untuk memahami api, kita perlu melihat sistem di balik api tersebut,” ungkap Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., Guru Besar Kelompok Kehalian Teknologi Kehutanan SITH Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam kearifan lokal ini, api digunakan melalui beberapa tahapan yang terencana:

  • Siklus Pemulihan Lahan (Suksesi Alami): Lahan yang dibakar umumnya adalah hutan sekunder bekas ladang yang telah ditinggalkan beristirahat selama bertahun-tahun (masa bera) agar kesuburan tanahnya pulih secara alami.

  • Teknik Pembukaan Lahan: Pohon ditebang dan vegetasi ditata. Kayu bernilai tinggi dipilah untuk bahan bangunan atau kayu bakar, sementara sisanya direbahkan sebagai biomassa.

  • Pengendalian Pembakaran: Pembakaran dilakukan bertahap dengan memperhitungkan arah angin, membuat sekat bakar (firebreak), serta diawasi ketat oleh warga.

  • Durasi dan Luas yang Terbatas: Pembakaran hanya mencakup area kecil (sekitar dua hektare atau kurang) dan umumnya hanya berlangsung sekitar dua jam.

Baca Juga :  Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng

Setelah panen usai, lahan kembali memasuki masa bera. Vegetasi baru tumbuh, bahan organik terakumulasi, dan tanah memulihkan nutrisinya secara alami sebelum dapat digunakan kembali bertahun-tahun kemudian.

Ladang sebagai Benteng Ketahanan Pangan dan Bank Genetik

Sistem perladangan ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan instrumen menjaga keragaman hayati dan ketahanan pangan lokal.

Berdasarkan riset dan dokumentasi di Rumah Panjang Sungai Utik, ditemukan tak kurang dari 237 jenis padi lokal (termasuk varietas padi biasa dan padi pulut) yang dikelola oleh masyarakat. Keragaman genetik ini penting karena:

  1. Adaptasi Lingkungan: Setiap varietas memiliki ketahanan berbeda terhadap cuaca, sehingga masyarakat terhindar dari risiko gagal panen total.

  2. Pelestarian Benih: Benih harus terus ditanam secara berkala agar tidak punah.

  3. Warisan Pengetahuan: Ladang menjadi ruang edukasi lintas generasi untuk mempertahankan budaya lokal.

Baca Juga :  Soal Praperadilan Lodewyk Pusung, Kejagung Tekankan Batas Waktu Pengajuan

Pelajaran Penting untuk Kebijakan Pencegahan Karhutla

Pengalaman di Sungai Utik menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak cukup hanya dengan memandang api sebagai musuh tunggal. Diperlukan pendekatan kontekstual yang membedakan antara pembakaran liar tak terkendali dan penggunaan api terukur berbasis kearifan lokal.

Pencegahan karhutla yang efektif perlu memahami latar belakang penggunaan api, teknik pengendalian yang diterapkan, serta konteks sosial-ekologis wilayah setempat.

“Api mungkin hanya berlangsung sekitar dua jam. Namun, sistem yang melatarbelakanginya berlangsung selama bertahun-tahun,” tegas Prof. Endah.

Melalui pendekatan berimbang, perumusan kebijakan pencegahan karhutla dapat tetap mengutamakan keselamatan lingkungan tanpa mengesampingkan hak dan kearifan masyarakat adat yang telah terbukti menjaga kelestarian hutan mereka. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng
Karhutla Meluas Hingga Lintas Negara, Komnas HAM Tuding Pembiaran dan Lemahnya Tata Kelola Gambut
Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia
Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara
Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek
Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif
Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 18:05 WIB

Terjun Langsung ke Palangka Raya, Sherina Munaf Ikut Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalteng

Jumat, 4 September 2026 - 10:30 WIB

Keracunan Massal MBG Tembus 2.000 Korban di 4 Provinsi, Media Asing Soroti Pengawasan Dapur Penyedia

Jumat, 4 September 2026 - 07:40 WIB

Ketegasan Kementerian Kehutanan: Siapkan Gugatan Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Karhutla untuk Korporasi

Kamis, 3 September 2026 - 16:49 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Lumpuhkan Asia Tenggara: Krisis Kesehatan hingga Lintas Negara

Kamis, 3 September 2026 - 15:15 WIB

Soroti Karhutla dan Serapan Anggaran 38 Persen, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Minta Percepatan Proyek

Kamis, 3 September 2026 - 14:48 WIB

Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:35 WIB

Terhalang Kabut Asap Pekat, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Kasus Keracunan MBG Kembali Marak Usai Libur Sekolah, JPPI: Evaluasi Pemerintah Gagal Total!

Berita Terbaru