Karhutla 2026 Merekah Lagi: Ratusan Titik Asap Terdeteksi, Asap Kalimantan Sudah Capai Malaysia

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 06:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto udara kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]

Foto udara kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]

1TULAH.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menerpa sejumlah wilayah di Indonesia sepanjang Agustus 2026. Organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia menilai bencana musiman ini terus berulang karena strategi pemerintah masih terfokus pada respons pemadaman saat api meluas, bukan pencegahan secara sistematis dari akar masalah.

Ratusan Titik Asap Terdeteksi di Kalimantan dan Papua Selatan

Berdasarkan hasil pemantauan Greenpeace periode 11–16 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 592 titik sumber asap di wilayah Pulau Kalimantan. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau 455 titik berada di kawasan ekosistem lahan gambut yang sangat rentan terbakar.

Sebaran titik asap utama di Kalimantan meliputi:

  • Kalimantan Barat: 322 titik

  • Kalimantan Tengah: 181 titik

  • Kalimantan Selatan: 86 titik

Dampak dari karhutla di Kalimantan Barat dilaporkan memicu kabut asap lintas batas (cross-border haze). Kalimantan Barat terpapar asap selama kurang lebih 17 hari, sementara wilayah Sarawak, Malaysia, turut terdampak selama 11 hari. Pola ini mengembalikan ingatan publik pada krisis asap lintas negara yang pernah terjadi pada 2019.

Baca Juga :  Nasib Guru PPPK Paruh Waktu Temui Titik Terang, Diangkat Penuh Waktu Secara Bertahap Mulai Tahun 2027

Selain Kalimantan, lonjakan titik asap juga ditemukan di Indonesia timur, khususnya Papua Selatan. Terdaftar 284 titik sumber asap di wilayah ini, dengan 278 titik di antaranya terkonsentrasi di Kabupaten Merauke. Pengeringan serta alih fungsi lahan gambut dan lahan basah—termasuk yang bersinggungan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN)—dinilai meningkatkan risiko keterbakaran ekosistem penyimpanan karbon tersebut.

Kritik Solusi Modifikasi Cuaca

Pemerintah telah mengarahkan berbagai upaya penanganan darurat, seperti Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hingga pengerahan helikopter water bombing. Namun, Peneliti Senior Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menegaskan bahwa langkah reaktif tersebut bukanlah solusi utama.

“Operasi modifikasi cuaca itu bukan jawaban yang pas. Cara itu merupakan respons, bukan antisipasi. Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah,” tegas Ananda.

Greenpeace mendesak pemerintah fokus pada perbaikan tata kelola air, pemulihan kawasan gambut serta rawa yang rusak, dan pencegahan pengeringan lahan agar potensi kebakaran tertekan sejak awal.

Baca Juga :  Polri Absen Rapat Konflik Agraria, KPA Desak Komisi III DPR Panggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Dampak Kesehatan dan Kualitas Udara

Kabut asap karhutla telah menurunkan kualitas udara secara drastis di berbagai daerah. Merujuk data IQAir yang dikutip Greenpeace, kualitas udara di Pontianak masuk kategori tidak sehat sejak 31 Juli 2026, sedangkan di Palangkaraya sempat menginjak level berbahaya.

Lonjakan kualitas udara buruk ini berbanding lurus dengan ancaman kesehatan masyarakat:

  • Kasus ISPA: Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 600 kasus dalam sehari di wilayah terdampak.

  • Rawat Inap: Sedikitnya sembilan pasien dilaporkan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belgis Habiba, menekankan pentingnya komitmen nyata pemerintah dalam melindungi hak hidup sehat masyarakat. Menurutnya, pemutusan rantai karhutla hanya dapat terwujud jika kebijakan nasional bergeser dari sekadar pemadaman darurat menuju perlindungan total ekosistem gambut dan penegakan hukum yang tegas terhadap perusak lingkungan. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Mengapa Pidato Presiden Kerap Selip Lidah? Pengamat Soroti Pentingnya Fact-Checking
Ratakan Distribusi Pengajar, DPRD Kalteng Minta Formasi ASN Guru Prioritaskan Daerah Terpencil
Bantah Masuk Islam, Roberto Carlos Ungkap Alasan Pernikahannya Gelar Tradisi Islami
Polri Absen Rapat Konflik Agraria, KPA Desak Komisi III DPR Panggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit
KPK Tegaskan Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag Hasil Audit Resmi BPK
Heboh Pengusiran 3 Turis Diduga Tentara IDF di Ubud Bali, Berawal dari Sikap Kasar ke Staf: Pantas Aja!
Dorong Efisiensi Anggaran, Pemprov dan DPRD Kalteng Sepakati KUA-PPAS 2027
Isu Percepatan RUU Pemilu Mencuat, Gerindra Buka Suara Usai Pertemuan Sekjen Partai Koalisi Pendukung Prabowo
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 06:14 WIB

Karhutla 2026 Merekah Lagi: Ratusan Titik Asap Terdeteksi, Asap Kalimantan Sudah Capai Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:35 WIB

Mengapa Pidato Presiden Kerap Selip Lidah? Pengamat Soroti Pentingnya Fact-Checking

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:14 WIB

Ratakan Distribusi Pengajar, DPRD Kalteng Minta Formasi ASN Guru Prioritaskan Daerah Terpencil

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Bantah Masuk Islam, Roberto Carlos Ungkap Alasan Pernikahannya Gelar Tradisi Islami

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Polri Absen Rapat Konflik Agraria, KPA Desak Komisi III DPR Panggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:44 WIB

KPK Tegaskan Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag Hasil Audit Resmi BPK

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:27 WIB

Heboh Pengusiran 3 Turis Diduga Tentara IDF di Ubud Bali, Berawal dari Sikap Kasar ke Staf: Pantas Aja!

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:34 WIB

Dorong Efisiensi Anggaran, Pemprov dan DPRD Kalteng Sepakati KUA-PPAS 2027

Berita Terbaru