Mengapa Pidato Presiden Kerap Selip Lidah? Pengamat Soroti Pentingnya Fact-Checking

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pidato Presiden Prabowo Subianto. (Grafis Suara.com/Syahda)

Ilustrasi pidato Presiden Prabowo Subianto. (Grafis Suara.com/Syahda)

1TULAH.COM-Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto kembali menyedot perhatian publik. Kali ini, perhatian khalayak tertuju pada persoalan teknis slip of the tongue (selip lidah) dan akurasi data terkait profil seorang pekerja bernama Susanah yang disampaikan di podium resmi.

Potongan video pidato tersebut viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Publik mempertanyakan data mengenai profesi serta estimasi upah harian yang memicu gelombang tanggapan di ruang digital.

Kronologi Selip Lidah: Dari Profesi hingga Nominal Upah

Momen yang menjadi sorotan publik ini melibatkan kekeliruan data mengenai pekerjaan dan besaran imbalan yang diterima Susanah, warga Cileungsi, Kabupaten Bogor.

  • Fakta Lapangan: Susanah merupakan seorang penjahit kain majun dan pekerja pencuci ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG), bukan pengupas bawang.

  • Koreksi Data Upah: Upah yang diterima Susanah dari menjahit kain majun adalah Rp700 per kilogram, bukan Rp700.000 per kilogram sebagaimana yang terucap.

  • Realita Lapangan: Warga di kawasan Bogor mengungkapkan bahwa upah riil pengupas bawang di daerah setempat berada di kisaran Rp1.200 per kilogram—yang jika diselesaikan 10 kg per hari menghasilkan imbalan sekitar Rp12.000.

Baca Juga :  Fokus RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk PIP hingga Sekolah Unggul

Momen selip data serupa sebelumnya juga sempat terjadi saat pembahasan RAPBN di DPR. Saat itu, pernyataan kenaikan penghasilan hingga 300 persen yang awalnya disebut untuk guru langsung diralat Presiden bahwa angka tersebut ditujukan bagi para hakim.

Tanggapan Istana: Urgensi Subtansi dan Pengaruh Algoritma

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengimbau masyarakat untuk melihat visi besar yang disampaikan dalam pidato kenegaraan ketimbang berfokus pada kesalahan teknis satu atau dua kalimat.

  1. Fokus Subtansial: Istana meminta publik membaca gagasan makro dan arah kebijakan pemerintah secara utuh.

  2. Dampak Algoritma: Viralitas kekeliruan data ini dinilai tak lepas dari mekanisme media sosial yang kerap mengangkat potongan video anomali demi memicu respons publik.

  3. Pemberian Teks Pidato: Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo sendiri mengakui adanya saran dari para penasihat agar dirinya disiplin membaca teks pidato tertulis guna menghindari kesalahan penyampaian fakta.

Baca Juga :  Menko Kumhamimipas Yusril Ihza Mahendra Serukan Kedamaian Pascakericuhan di Aceh

Analisis Pengamat: Pentingnya Akurasi Data dan Pilihan Diksi

Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menilai gaya oratoris dan intonasi pidato Presiden pada dasarnya memiliki daya pikat tinggi untuk menjaga perhatian audiens. Namun, tantangan utama terletak pada konsistensi data dan pilihan istilah informal saat berbicara di luar teks.

  • Kesesuaian Etika Komunikasi: Penggunaan diksi informal atau istilah kasual kerap menimbulkan polemik di tengah masyarakat jika disampaikan dalam forum resmi negara.

  • Kredibilitas Data: Penyampaian angka yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan dapat berdampak pada tingkat kepercayaan publik terhadap isi pidato.

  • Rekomendasi Evaluasi: Tim penyusun naskah serta jajaran pembantu presiden didorong untuk meningkatkan pengetatan kerangka data (fact-checking) sebelum dokumen pidato dibacakan di podium resmi. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Ratakan Distribusi Pengajar, DPRD Kalteng Minta Formasi ASN Guru Prioritaskan Daerah Terpencil
Bantah Masuk Islam, Roberto Carlos Ungkap Alasan Pernikahannya Gelar Tradisi Islami
Polri Absen Rapat Konflik Agraria, KPA Desak Komisi III DPR Panggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit
KPK Tegaskan Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag Hasil Audit Resmi BPK
Heboh Pengusiran 3 Turis Diduga Tentara IDF di Ubud Bali, Berawal dari Sikap Kasar ke Staf: Pantas Aja!
Dorong Efisiensi Anggaran, Pemprov dan DPRD Kalteng Sepakati KUA-PPAS 2027
Isu Percepatan RUU Pemilu Mencuat, Gerindra Buka Suara Usai Pertemuan Sekjen Partai Koalisi Pendukung Prabowo
Geger Isu Pertemuan Kaltim: Benarkah Haji Isam Bakal Borong Saham Mayoritas BYAN?
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:35 WIB

Mengapa Pidato Presiden Kerap Selip Lidah? Pengamat Soroti Pentingnya Fact-Checking

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:14 WIB

Ratakan Distribusi Pengajar, DPRD Kalteng Minta Formasi ASN Guru Prioritaskan Daerah Terpencil

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Polri Absen Rapat Konflik Agraria, KPA Desak Komisi III DPR Panggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:44 WIB

KPK Tegaskan Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag Hasil Audit Resmi BPK

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:27 WIB

Heboh Pengusiran 3 Turis Diduga Tentara IDF di Ubud Bali, Berawal dari Sikap Kasar ke Staf: Pantas Aja!

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:34 WIB

Dorong Efisiensi Anggaran, Pemprov dan DPRD Kalteng Sepakati KUA-PPAS 2027

Rabu, 19 Agustus 2026 - 15:41 WIB

Isu Percepatan RUU Pemilu Mencuat, Gerindra Buka Suara Usai Pertemuan Sekjen Partai Koalisi Pendukung Prabowo

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:35 WIB

Geger Isu Pertemuan Kaltim: Benarkah Haji Isam Bakal Borong Saham Mayoritas BYAN?

Berita Terbaru