1TULAH.COM-Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto kembali menyedot perhatian publik. Kali ini, perhatian khalayak tertuju pada persoalan teknis slip of the tongue (selip lidah) dan akurasi data terkait profil seorang pekerja bernama Susanah yang disampaikan di podium resmi.
Potongan video pidato tersebut viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Publik mempertanyakan data mengenai profesi serta estimasi upah harian yang memicu gelombang tanggapan di ruang digital.
Kronologi Selip Lidah: Dari Profesi hingga Nominal Upah
Momen yang menjadi sorotan publik ini melibatkan kekeliruan data mengenai pekerjaan dan besaran imbalan yang diterima Susanah, warga Cileungsi, Kabupaten Bogor.
-
Fakta Lapangan: Susanah merupakan seorang penjahit kain majun dan pekerja pencuci ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG), bukan pengupas bawang.
-
Koreksi Data Upah: Upah yang diterima Susanah dari menjahit kain majun adalah Rp700 per kilogram, bukan Rp700.000 per kilogram sebagaimana yang terucap.
-
Realita Lapangan: Warga di kawasan Bogor mengungkapkan bahwa upah riil pengupas bawang di daerah setempat berada di kisaran Rp1.200 per kilogram—yang jika diselesaikan 10 kg per hari menghasilkan imbalan sekitar Rp12.000.
Momen selip data serupa sebelumnya juga sempat terjadi saat pembahasan RAPBN di DPR. Saat itu, pernyataan kenaikan penghasilan hingga 300 persen yang awalnya disebut untuk guru langsung diralat Presiden bahwa angka tersebut ditujukan bagi para hakim.
Tanggapan Istana: Urgensi Subtansi dan Pengaruh Algoritma
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengimbau masyarakat untuk melihat visi besar yang disampaikan dalam pidato kenegaraan ketimbang berfokus pada kesalahan teknis satu atau dua kalimat.
-
Fokus Subtansial: Istana meminta publik membaca gagasan makro dan arah kebijakan pemerintah secara utuh.
-
Dampak Algoritma: Viralitas kekeliruan data ini dinilai tak lepas dari mekanisme media sosial yang kerap mengangkat potongan video anomali demi memicu respons publik.
-
Pemberian Teks Pidato: Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo sendiri mengakui adanya saran dari para penasihat agar dirinya disiplin membaca teks pidato tertulis guna menghindari kesalahan penyampaian fakta.
Analisis Pengamat: Pentingnya Akurasi Data dan Pilihan Diksi
Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menilai gaya oratoris dan intonasi pidato Presiden pada dasarnya memiliki daya pikat tinggi untuk menjaga perhatian audiens. Namun, tantangan utama terletak pada konsistensi data dan pilihan istilah informal saat berbicara di luar teks.
-
Kesesuaian Etika Komunikasi: Penggunaan diksi informal atau istilah kasual kerap menimbulkan polemik di tengah masyarakat jika disampaikan dalam forum resmi negara.
-
Kredibilitas Data: Penyampaian angka yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan dapat berdampak pada tingkat kepercayaan publik terhadap isi pidato.
-
Rekomendasi Evaluasi: Tim penyusun naskah serta jajaran pembantu presiden didorong untuk meningkatkan pengetatan kerangka data (fact-checking) sebelum dokumen pidato dibacakan di podium resmi. (Sumber:Suara.com)

![Perjalanan Cinta Roberto Carlos: Punya 11 Anak dari 7 Wanita Berbeda dan Menikah 4 Kali [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/08/bantah-mualaf-360x200.jpg)









![Perjalanan Cinta Roberto Carlos: Punya 11 Anak dari 7 Wanita Berbeda dan Menikah 4 Kali [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/08/bantah-mualaf-225x129.jpg)











![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)

