Diduga Intimidasi Dokter hingga Wafat, Anggota DPRD TTU Norbetus Tubani Dipanggil DPP PKB

- Jurnalis

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dokter diintimidasi. (Foto sebagai ilustrasi dibuat dengan AI)

Ilustrasi dokter diintimidasi. (Foto sebagai ilustrasi dibuat dengan AI)

1TULAH.COM-DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengambil langkah tegas terkait kasus dugaan intimidasi yang melibatkan salah satu kadernya, Norbetus Tubani. Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut, dilaporkan akan segera dipanggil oleh pihak partai setelah diduga melakukan intimidasi terhadap seorang tenaga kesehatan, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa dr. Icha.

Peristiwa dugaan intimidasi ini terjadi saat dr. Icha sedang bertugas di Rumah Sakit Leona Kefamenanu pada tanggal 13 Juni 2026. Kasus ini menjadi perhatian publik secara luas menyusul kabar duka wafatnya sang dokter yang diduga sempat mengalami trauma berat pasca-insiden tersebut.

PKB Agendakan Tabayun dan Siapkan Sanksi Tegas

Kader PKB sekaligus Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh, mengonfirmasi bahwa partai tidak akan tinggal diam dan segera memproses anggotanya yang diduga bermasalah.

“Kami akan segera memanggil yang bersangkutan untuk tabayun,” ujar Nihayatul Wafiroh saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Nihayatul yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI ini menegaskan bahwa jika dugaan intimidasi tersebut terbukti benar, PKB akan menjatuhkan sanksi disiplin yang berat. Menurutnya, tindakan intimidasi terhadap tenaga medis yang sedang bertugas adalah pelanggaran serius, baik dari segi etika publik maupun aturan internal partai.

Baca Juga :  Jurang Harga DMO vs Global Lebar, Ini Alasan Pengusaha Malah Pilih Ekspor Batu Bara

“Kami pastikan yang bersangkutan akan mendapat sanksi disiplin dari partai jika memang terbukti terlibat. PKB tidak memberikan ruang bagi tindakan intimidasi terhadap tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan,” tegasnya.

Kronologi Dugaan Intimidasi di RS Leona Kefamenanu

Berdasarkan informasi yang beredar luas di media sosial (seperti platform X), kasus ini bermula pada 13 Juni 2026. Saat itu, dr. Icha tengah menangani seorang pasien anak yang menjadi korban gigitan ular di RS Leona Kefamenanu, Timor Tengah Utara.

Dalam proses penanganan medis tersebut, dr. Icha diduga menerima perlakuan intimidasi dari Norbetus Tubani dan seorang lainnya bernama Therensius Lazakar, yang diketahui merupakan pihak keluarga pasien.

  • 13 Juni 2026: Terjadi dugaan intimidasi oleh oknum anggota DPRD TTU terhadap dr. Icha saat merawat pasien gigitan ular.

  • Pasca-Kejadian: Dr. Icha dikabarkan mengalami trauma mendalam hingga membutuhkan perawatan intensif.

  • 26 Juni 2026: Dr. Icha dilaporkan meninggal dunia.

Baca Juga :  Selat Hormuz Diblokade Lagi, Pertemuan Damai JD Vance dan Iran di Swiss Tegang

Publik di media sosial mengaitkan kondisi trauma psikologis berat yang dialami sang dokter dengan penurunan kondisi kesehatannya hingga tutup usia.

Kemenkes Terjunkan Tim Investigasi Menyeluruh

Merespons tragedi ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia langsung bergerak cepat. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya dr. Icha.

Kemenkes juga memastikan bahwa mereka sedang melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik dugaan intimidasi ini.

  • Tim Penanganan: Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan bersama Inspektorat Jenderal Kemenkes.

  • Fokus Investigasi: Mengusut tuntas kronologi perlakuan intimidasi dan perlindungan terhadap tenaga kesehatan.

Kasus ini kembali memicu gelombang desakan dari masyarakat dan organisasi profesi kedokteran agar pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan jaminan keamanan total bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Jurang Harga DMO vs Global Lebar, Ini Alasan Pengusaha Malah Pilih Ekspor Batu Bara
32 Calon Manajer Koperasi yang Hamil Dipulangkan Kemhan, Status Tidak Gugur!
Presiden Prabowo Minta Kasus Penganiayaan Yuvita Diusut Tuntas
KPK Periksa 6 Saksi dalam Kasus Dugaan Korupsi Izin Tinggal WNA
Bungkam Keraguan, Timnas Jepang Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Tanpa Kekalahan!
Gara-gara Ucapan ‘Terima Kasih Adikku Sayang’, Caddy Golf di Tangerang Jadi Korban Penganiayaan Brutal
Fraksi Demokrat DPRD Kalteng Terima Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Beri Catatan Kritis Soal SILPA dan BUMD
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Tembus 589 Jiwa, Ratusan Gempa Susulan Masih Mengancam!
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:25 WIB

Jurang Harga DMO vs Global Lebar, Ini Alasan Pengusaha Malah Pilih Ekspor Batu Bara

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:15 WIB

Diduga Intimidasi Dokter hingga Wafat, Anggota DPRD TTU Norbetus Tubani Dipanggil DPP PKB

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:20 WIB

32 Calon Manajer Koperasi yang Hamil Dipulangkan Kemhan, Status Tidak Gugur!

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:52 WIB

Presiden Prabowo Minta Kasus Penganiayaan Yuvita Diusut Tuntas

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:49 WIB

KPK Periksa 6 Saksi dalam Kasus Dugaan Korupsi Izin Tinggal WNA

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:40 WIB

Gara-gara Ucapan ‘Terima Kasih Adikku Sayang’, Caddy Golf di Tangerang Jadi Korban Penganiayaan Brutal

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:44 WIB

Fraksi Demokrat DPRD Kalteng Terima Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Beri Catatan Kritis Soal SILPA dan BUMD

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:37 WIB

Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Tembus 589 Jiwa, Ratusan Gempa Susulan Masih Mengancam!

Berita Terbaru