Selat Hormuz Diblokade Lagi, Pertemuan Damai JD Vance dan Iran di Swiss Tegang

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 07:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolase Trump-Netanyahu [Suara.com/AI]

Kolase Trump-Netanyahu [Suara.com/AI]

1TULAH.COM-Upaya diplomasi damai tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran langsung dibayangi ketegangan hebat. Wakil Presiden AS, JD Vance, menggelar pertemuan bilateral dengan delegasi Iran di Swiss pada Minggu (21/6/2026).

Namun, atmosfer perundingan mendadak keruh menyusul pengumuman sepihak dari Teheran yang kembali memblokade jalur maritim strategis, Selat Hormuz.

Pertemuan ini sejatinya merupakan implementasi perdana dari nota kesepahaman (MoU) yang disepakati kedua negara sepekan lalu. Isu utama dalam MoU tersebut mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan penghentian total konfrontasi bersenjata, termasuk agresi militer Israel ke Lebanon yang telah bergejolak sejak Maret lalu.

Iran Blokade Selat Hormuz dan Mogok Bahas Isu Nuklir

Akibat tidak adanya tanda-tanda konkret berakhirnya pertempuran di Lebanon, Iran mengambil langkah drastis pada Sabtu (20/6/2026) dengan menutup kembali selat tersebut. Penutupan Selat Hormuz selama hampir empat bulan terakhir sendiri telah tercatat sebagai gangguan pasokan energi global terbesar sepanjang sejarah.

Dilansir dari Reuters, Iran menegaskan tidak akan memulai negosiasi substantif tahap berikutnya—termasuk masa depan program nuklir mereka—sebelum pertempuran di Lebanon mereda dan Teheran menerima kompensasi ekonomi yang dijanjikan. Iran menilai Washington telah gagal menghentikan agresi Israel di Lebanon.

Baca Juga :  Kontroversi Penalti Semifinal Piala Dunia 2026: Drama di Balik Kemenangan 2-0 Spanyol atas Prancis

“Otoritas Teheran telah menyetop penerbitan izin pelayaran baru bagi kapal-kapal komersial hingga batas waktu yang belum ditentukan,” tulis laporan kantor berita Iran, Fars, mengutip sumber militer.

AS Sempat Membantah, Data Maritim Tunjukkan Hal Berbeda

Pemerintah AS sempat menyangkal klaim pemblokiran sepihak tersebut. Washington menyatakan bahwa situasi masih aman dengan bukti adanya 55 kapal dagang yang tetap berhasil melintas pada hari Sabtu.

Namun, data pelacakan kapal komersial independen justru memperlihatkan indikasi serupa dengan klaim Iran. Setelah pengumuman penutupan dirilis:

  • Tidak ada lagi aktivitas kapal komersial yang membagikan koordinat posisi mereka saat melewati selat.

  • Satu-satunya armada yang bergerak hanya kapal-kapal yang bertujuan menuju pelabuhan internal milik Iran.

Diplomasi Multi-Negara di Balik Layar

Sebelum pertemuan bilateral inti dimulai pada sore hari, delegasi AS dan Iran terlebih dahulu melakukan diskusi terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Presiden JD Vance yang didampingi utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Donald Trump, Jared Kushner, sempat mengadakan pertemuan singkat dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir.

Baca Juga :  Linae Victoria Aden Jadi Sekda Kalteng Definitif, Arton S. Dohong Harapkan Sinergi Eksekutif-Legislatif

Pengumuman penutupan kembali Selat Hormuz ini terjadi pada akhir pekan saat bursa komoditas global sedang libur. Alhasil, dampak langsungnya terhadap fluktuasi harga minyak dan pasar dunia belum bisa terukur sepenuhnya.

Israel Absen dan Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon

Di sisi lain, dokumen kesepakatan damai yang digagas Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak Februari lalu justru menuai kecaman luas di internal Israel sendiri. Pihak Israel bahkan memilih absen dari meja perundingan di Swiss ini. Kabinet Netanyahu dengan tegas menyatakan tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan yang telah mereka duduki.

Pada awal perang dimulai, Trump dan Netanyahu menegaskan bahwa target operasi militer ini adalah:

  1. Menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

  2. Melumpuhkan pasokan rudal kelompok proksi.

  3. Memicu penggulingan pemerintahan di Teheran.

Namun hingga pertengahan tahun 2026 ini, belum ada satu pun dari target strategis tersebut yang berhasil dicapai, sementara jalur logistik energi dunia kembali berada di ambang kelumpuhan. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Bongkar Rekayasa Ujaran Kebencian di Balik Isu LGBTQ, FAMM Indonesia: Pengalihan Isu Kejahatan Negara
Isu Reshuffle Kabinet Agustus 2026: Menteri PU Dody Hanggodo Terancam Diganti Usai Gejolak Internal
Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!
Dominasi Mutlak! 7 Rekor Mentereng Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026
Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak
DPRD Kalteng Minta Aparat Sikat Perusahaan Terindikasi Picu Karhutla
Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK
Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD
Tag :

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 10:45 WIB

Bongkar Rekayasa Ujaran Kebencian di Balik Isu LGBTQ, FAMM Indonesia: Pengalihan Isu Kejahatan Negara

Senin, 20 Juli 2026 - 10:33 WIB

Isu Reshuffle Kabinet Agustus 2026: Menteri PU Dody Hanggodo Terancam Diganti Usai Gejolak Internal

Senin, 20 Juli 2026 - 07:02 WIB

Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:36 WIB

Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:29 WIB

DPRD Kalteng Minta Aparat Sikat Perusahaan Terindikasi Picu Karhutla

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:42 WIB

Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:48 WIB

Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:36 WIB

Komisi II DPR Wacanakan Penerapan KPI Mengikat, ASN Tidak Produktif Siap-siap Out!

Berita Terbaru