7 Bulan Tanpa Tersangka, Kasus Pemerkosaan Buruh Disabilitas PT USU Dibawa ke Jakarta

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan - pemerkosaan (Freepik)

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan - pemerkosaan (Freepik)

1TULAH.COM-Kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa seorang buruh harian lepas penyandang disabilitas di Sumatera Utara kembali mencoreng wajah penegakan hukum Indonesia. Evita Zai alias EZ (19), seorang buruh tuli wicara di perkebunan kelapa sawit PT USU, Mandailing Natal (Madina), hingga kini belum mendapatkan keadilan.

Meski laporan polisi telah dilayangkan sejak tujuh bulan lalu, proses hukum terkesan berjalan di tempat. Alih-alih mendapatkan perlindungan, korban justru didera ketidakadilan berlapis: dipecat secara sepihak oleh perusahaan dan terduga pelaku diduga sengaja difasilitasi untuk kabur.

Macetnya penanganan di tingkat daerah memicu koalisi masyarakat sipil membawa kasus memilukan ini ke Jakarta untuk mengadu langsung ke Komnas HAM pada Rabu (17/6/2026).

Kronologi Kejadian: Korban Diserang dari Belakang di Area Perkebunan

Peristiwa traumatis ini terjadi pada Rabu pagi, 12 November 2025. Seperti hari-hari biasanya, EZ yang bekerja di bagian penyemprotan pestisida berangkat ke area perkebunan sawit PT USU bersama kakak perempuannya menggunakan mobil jemputan perusahaan.

Sekitar pukul 10.00 WIB, saat EZ sedang fokus menyemprot di area kerja terpencil seluas delapan hektare, seorang pria tidak dikenal menyerangnya secara brutal dari arah belakang.

Berikut detail tindakan keji yang dialami korban:

  • Wajah Ditutup: Pelaku menutup wajahnya sendiri dan merebut alat semprot korban secara paksa.

  • Dianiaya & Diikat: Tubuh EZ didorong hingga jatuh terlentang ke tanah. Kedua tangannya kemudian diikat ke belakang.

  • Kehilangan Akses Komunikasi: Wajah EZ ditutup rapat menggunakan kain miliknya sendiri.

Dalam kondisi tak berdaya—tidak bisa melihat, tidak bisa berteriak meminta tolong, dan memiliki keterbatasan verbal—EZ diperkosa di tengah sepinya kebun sawit. Pelaku yang mengenakan masker dan baju biru tersebut langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor.

EZ baru ditemukan saat jam makan siang oleh rekan kerjanya dalam kondisi terduduk dan menangis histeris tanpa mampu menyentuh makanannya. Sesampainya di rumah, ia menceritakan kepedihan tersebut kepada sang ibu menggunakan bahasa isyarat keluarga.

Baca Juga :  Bupati Eddy Raya Samsuri Resmi Lantik Dr. Ita Minarni Sebagai Sekda Definitif Barito Selatan

Delay of Justice: Komnas HAM Soroti Kerentanan Berlapis Korban

Dua hari pasca-kejadian, keluarga telah melaporkan kasus ini ke Polres Mandailing Natal. Namun, hingga Juni 2026, polisi belum juga menetapkan satu pun tersangka.

Komisioner Komnas HAM RI, Anis Hidayah, menilai lambatnya penanganan ini merupakan bentuk nyata dari penundaan keadilan (delay of justice) yang sangat merugikan korban disabilitas.

“Proses hukumnya berjalan cukup lambat, sehingga ini ada indikasi mengalami delay of justice, ya, yang berdampak kepada keadilan bagi korban,” tegas Anis Hidayah di Jakarta.

Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (F-Serbundo), Herwin Nasution, juga menambahkan bahwa tumpulnya hukum di daerah menjadi alasan utama mengapa kasus ini akhirnya harus ditarik ke tingkat nasional.

Minim Ahli Bahasa Isyarat Jadi Kendala Utama Penyidik

Mengapa Polres Mandailing Natal kesulitan mengungkap kasus ini? Hambatan terbesar diduga berakar pada ego sektoral dan ketidakmampuan penyidik dalam berkomunikasi dengan korban disabilitas yang tidak bisa membaca dan menulis.

Koordinator Koalisi Buruh Sawit (KBS), Ismet Inoni, mengungkapkan pihak kepolisian terus berdalih kekurangan bukti dan saksi karena tidak bisa memahami situasi verbal korban.

Mirisnya, keterbatasan ini diperparah oleh absennya fasilitas negara saat pemeriksaan. Ketua DPC F-Serbundo Mandailing Natal, Johan Kabera, membeberkan fakta bahwa selama proses pemeriksaan di kantor polisi, korban sama sekali tidak didampingi oleh ahli bahasa isyarat.

Kegagalan Sistem Hukum Ramah Disabilitas

Menanggapi hal ini, Ahli Komunikasi Disabilitas Tuli dari Universitas Esa Unggul, Dr. Muhammad Fauzi, yang mendampingi korban selama audiensi di Jakarta, memberikan kritik keras terhadap sistem hukum di Indonesia.

“Kegagalan yang terjadi bukanlah kegagalan korban untuk menyampaikan apa yang dialaminya, melainkan kegagalan sistem dalam menyediakan mekanisme yang aksesibel untuk mendengar dan memahami suara korban,” terang Dr. Fauzi.

Baca Juga :  Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Ironi di Balik Kasus: Korban di-PHK, Terduga Pelaku Diduga Difasilitasi Kabur

Penderitaan EZ tidak berhenti pada trauma fisik dan psikologis. Hak ekonomi korban sebagai pekerja pun dirampas. Pihak manajemen PT USU diketahui langsung melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak dan lisan kepada EZ setelah kejadian.

Lebih mencengangkan lagi, pihak serikat buruh menemukan indikasi kuat bahwa manajemen perusahaan justru berusaha melindungi pelaku. Johan Kabera memaparkan bahwa salah seorang yang diduga kuat sebagai pelaku diduga sengaja difasilitasi oleh perusahaan untuk keluar dari wilayah hukum Sumatera Utara.

“Nah terakhir, justru salah seorang yang tadi diduga ini difasilitasi oleh perusahaan untuk keluar, ya. Keluar dari perusahaan dipindahkan ke provinsi lain,” ungkap Johan.

Tuntutan Koalisi Masyarakat Sipil untuk PT USU dan Kepolisian

Melihat banyaknya kejanggalan dan ketidakadilan yang menimpa EZ, koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari F-Serbundo, Koalisi Buruh Sawit, dan para akademisi mendesak tiga lembaga negara: Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk segera turun tangan.

Berikut adalah poin-poin tuntutan utama dari koalisi:

Instansi Terkait Tuntutan Koalisi Masyarakat Sipil
Kepolisian RI / Polda Sumut Mengambil alih kasus, menyediakan ahli bahasa isyarat resmi, dan segera menangkap pelaku.
Kementerian Ketenagakerjaan Mengusut tuntas tindakan PHK sepihak yang melanggar hak buruh perempuan dan disabilitas.
Komnas HAM & Perempuan Mengawasi jalannya penyidikan serta mengusut dugaan obstruction of justice (perintangan penyidikan) oleh pihak PT USU.

Kini, publik menunggu ketegasan hukum. Kasus Evita Zai adalah ujian besar bagi komitmen institusi kepolisian dan pemerintah dalam mewujudkan ruang aman serta keadilan hukum yang inklusif bagi seluruh kelompok disabilitas di Indonesia. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung
Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel
Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan
Survei Voxpol Center: 90,1 Persen Masyarakat Indonesia Setuju Koruptor Dihukum Mati
Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?
Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan
Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026
Di Balik Transaksi Rp26,1 Triliun PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Kedaulatan Ekonomi atau Pindah Tangan Oligarki Tambang?
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:15 WIB

Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Gantikan Dr. Ita Minarni, Muhammad Taufiq Resmi Jabat Plt Kadis PUPR Barito Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Usulan Harta Pejabat Tak Terlapor LHKPN Dirampas Negara: Langkah Tegas atau Melanggar Hukum?

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:21 WIB

Di Balik Transaksi Rp26,1 Triliun PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Kedaulatan Ekonomi atau Pindah Tangan Oligarki Tambang?

Senin, 26 Oktober 2026 - 23:35 WIB

Karhutla Meluas, Baznas Kerahkan Personel ke Sejumlah Wilayah Indonesia

Berita Terbaru