Kagumi Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral, Presiden Jerman Terharu Lihat Toleransi Indonesia

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Ibu Negara diajak mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. (dok. Kemenag)

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Ibu Negara diajak mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. (dok. Kemenag)

1TULAH.COM-Ada alasan kuat mengapa Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta hampir selalu masuk dalam agenda kunjungan resmi para kepala negara yang menyambangi Indonesia.

Bukan sekadar takjub oleh kemegahan arsitekturnya, para pemimpin dunia tersebut sejatinya sedang menyaksikan langsung potret nyata dari jantung toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan simbol keharmonisan yang hidup di tengah masyarakat. Melalui kunjungan ke dua rumah ibadah ini, para tamu negara diajak melihat bagaimana keberagaman di Indonesia bukan menjadi pemisah, melainkan perekat persatuan.

Kunjungan Presiden Jerman: Terharu oleh Terowongan Silaturahmi

Pemandangan epik ini kembali terlihat saat Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier, bersama Ibu Negara Elke Büdenbender, melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

Setelah menyelesaikan agenda resmi bersama Presiden di Istana Merdeka, Steinmeier dan istri langsung diajak mengunjungi Masjid Istiqlal. Perjalanan mereka kemudian berlanjut menuju Gereja Katedral Jakarta melalui Terowongan Silaturahmi—sebuah jalur bawah tanah yang menghubungkan kedua tempat ibadah tersebut.

“Mereka sangat terharu melihat ini adalah suatu kota yang sangat ideal, ada dua rumah ibadah yang sangat bersahabat yang ditandai dengan adanya Terowongan Silaturahmi,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Baca Juga :  PWI Murung Raya Amankan Posisi Ketiga Turnamen Futsal Se-DAS Barito

Menurut Nasaruddin, Presiden Jerman dan istrinya memberikan kesan yang sangat positif. Keduanya menyaksikan sendiri bagaimana dua rumah ibadah besar dapat berdiri berdampingan dan terhubung secara fisik maupun filosofis sebagai simbol persaudaraan lintas iman.

Visi Besar Pendiri Bangsa di Balik Lokasi Istiqlal dan Katedral

Keberadaan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang saling berhadapan ini bukanlah sebuah kebetulan. Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, mengungkapkan bahwa tata letak ini merupakan bagian dari visi besar para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia.

Sejarah mencatat, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat memiliki pandangan berbeda mengenai lokasi pembangunan Masjid Negara. Namun, Bung Karno akhirnya memilih lokasi yang sekarang menjadi kawasan Istiqlal dengan tujuan yang sangat mendalam: menghadirkan simbol kehidupan bersama di tengah keberagaman Indonesia.

  • Pilihan Bung Karno: Sengaja membangun Masjid Istiqlal persis berhadapan dengan Gereja Katedral yang sudah berdiri lebih dulu.

  • Makna Filosofis: Menandakan bahwa umat beragama di Indonesia siap hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama demi bangsa.

Baca Juga :  KPK Periksa Aspri Bupati Tulungagung Nonaktif Terkait Dugaan Korupsi

“Ini masih terus diingat sebagai lambang bahwa kita hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia yang disimbolkan oleh relasi yang terus dibangun antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral,” jelas Kardinal Ignatius Suharyo.

Terowongan Silaturahmi: Lebih dari Sekadar Akses Fisik

Pesan toleransi yang diwariskan oleh para pendiri bangsa kini semakin diperkuat di era modern melalui pembangunan Terowongan Silaturahmi.

Terowongan bawah tanah ini bukan sekadar berfungsi sebagai fasilitas akses penyeberangan fisik bagi jemaat kedua rumah ibadah. Lebih dari itu, infrastruktur ini membawa pesan mendalam kepada dunia: bahwa perbedaan keyakinan dan dogma agama sama sekali tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan dalam semangat persatuan, kedamaian, dan toleransi yang hakiki.

Bagi para kepala negara yang berkunjung, kawasan Istiqlal-Katedral adalah miniatur Indonesia. Sebuah pesan diplomasi damai yang membuktikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang dipraktikkan sehari-hari. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!
Dominasi Mutlak! 7 Rekor Mentereng Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026
Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak
DPRD Kalteng Minta Aparat Sikat Perusahaan Terindikasi Picu Karhutla
Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK
Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD
Komisi II DPR Wacanakan Penerapan KPI Mengikat, ASN Tidak Produktif Siap-siap Out!
Ranperda TJSLB Jadi Payung Hukum Kemitraan Pemerintah dan Dunia Usaha
Tag :

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 07:02 WIB

Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!

Senin, 20 Juli 2026 - 06:53 WIB

Dominasi Mutlak! 7 Rekor Mentereng Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:36 WIB

Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:42 WIB

Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:48 WIB

Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:36 WIB

Komisi II DPR Wacanakan Penerapan KPI Mengikat, ASN Tidak Produktif Siap-siap Out!

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:45 WIB

Ranperda TJSLB Jadi Payung Hukum Kemitraan Pemerintah dan Dunia Usaha

Jumat, 17 Juli 2026 - 16:44 WIB

Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong: Ritual Tiwah adalah Benteng Pertahanan Budaya Dayak

Berita Terbaru