Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi hantavirus (shutterstock)

Ilustrasi hantavirus (shutterstock)

1TULAH.COM-Hantavirus kini menjadi sorotan setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan adanya temuan kasus yang signifikan di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Meskipun perhatian dunia sempat tertuju pada varian virus lain, data menunjukkan bahwa virus ini sudah mulai menyebar di beberapa provinsi di tanah air.

Berikut adalah rangkuman lengkap mengenai situasi terkini, gejala, dan langkah antisipasi yang perlu Anda ketahui.

Situasi Terkini Hantavirus di Indonesia (2024-2026)

Berdasarkan laporan resmi dari Kementerian Kesehatan RI per Mei 2026, Indonesia mencatat 23 kasus positif Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi. Lonjakan kasus ini menunjukkan tren peningkatan yang cukup tajam sejak tahun 2024.

Statistik Kasus:

  • Total Kasus: 23 Orang.

  • Pasien Sembuh: 20 Orang.

  • Meninggal Dunia: 3 Orang.

  • Case Fatality Rate (CFR): Sekitar 13%.

  • Jenis Virus: Seluruh kasus yang terkonfirmasi adalah jenis Seoul Virus (bukan varian Andes Virus yang sempat mewabah di luar negeri).

Tren Peningkatan Kasus:

  • 2024: 1 Kasus.

  • 2025: 17 Kasus (Peningkatan signifikan).

  • 2026 (hingga Mei): 5 Kasus tambahan.

Daftar 9 Provinsi Terdampak

Kasus Hantavirus tidak hanya terkonsentrasi di satu titik, melainkan telah terdeteksi di sembilan wilayah berikut:

  1. DI Yogyakarta

  2. Jawa Barat

  3. DKI Jakarta

  4. Sulawesi Utara

  5. Nusa Tenggara Timur (NTT)

  6. Sumatera Barat

  7. Banten

  8. Jawa Timur

  9. Kalimantan Barat

Baca Juga :  Bukan Sekadar Skor 2-1, Semifinal Piala Dunia 2026 Jadi Ujian Nyata Karakter Juara

Bagaimana Hantavirus Menular ke Manusia?

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, artinya menular dari hewan ke manusia. Penular utamanya adalah hewan pengerat seperti tikus atau celurut yang terinfeksi.

Cara penularan meliputi:

  • Inhalasi (Paling Sering): Menghirup debu atau udara yang telah terkontaminasi oleh urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

  • Kontak Langsung: Menyentuh benda yang terkena kotoran tikus, lalu menyentuh mulut atau hidung.

  • Gigitan: Meski jarang, gigitan tikus yang terinfeksi dapat menularkan virus secara langsung.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Infeksi Hantavirus, khususnya jenis Seoul Virus, dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan flu hingga gangguan fungsi ginjal (HFRS). Gejala umumnya meliputi:

  • Demam tinggi mendadak.

  • Sakit kepala dan nyeri otot.

  • Mual dan muntah.

  • Nyeri perut.

  • Pada kasus berat: Penurunan produksi urine dan gangguan fungsi ginjal.

Catatan: Jika Anda memiliki riwayat kontak dengan tikus atau tinggal di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi dan mengalami gejala di atas, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat.

Langkah Pemerintah dan Deteksi Dini

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan WHO untuk mendapatkan panduan skrining yang tepat. Kemenkes tengah menyiapkan infrastruktur deteksi dini berupa:

  • Pengadaan Reagen PCR khusus Hantavirus.

  • Pengembangan alat Rapid Test untuk percepatan diagnosa di lapangan.

Baca Juga :  Isu Reshuffle Kabinet Agustus 2026: Menteri PU Dody Hanggodo Terancam Diganti Usai Gejolak Internal

Cara Mencegah Penularan Hantavirus di Rumah

Karena tikus adalah vektor utama, kunci pencegahan adalah menjaga kebersihan lingkungan:

  1. Tutup Akses Masuk Tikus: Perbaiki lubang di dinding atau plafon yang bisa menjadi jalan masuk tikus.

  2. Kelola Sampah dengan Baik: Jangan biarkan tumpukan sampah atau sisa makanan mengundang tikus masuk ke dalam rumah.

  3. Gunakan Masker saat Membersihkan Gudang: Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang lama tidak terpakai (seperti gudang atau loteng) untuk menghindari menghirup debu yang terkontaminasi.

  4. Gunakan Disinfektan: Basahi area yang terkena kotoran tikus dengan cairan disinfektan sebelum dibersihkan (jangan disapu dalam keadaan kering agar debu tidak terbang).

Meskipun tingkat kematian Hantavirus di Indonesia saat ini berada di angka 13%, kewaspadaan dini sangat diperlukan mengingat tren kasus yang meningkat. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan melaporkan gejala sedini mungkin, kita dapat menekan penyebaran virus ini lebih lanjut. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Bongkar Rekayasa Ujaran Kebencian di Balik Isu LGBTQ, FAMM Indonesia: Pengalihan Isu Kejahatan Negara
Isu Reshuffle Kabinet Agustus 2026: Menteri PU Dody Hanggodo Terancam Diganti Usai Gejolak Internal
Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!
Dominasi Mutlak! 7 Rekor Mentereng Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026
Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak
DPRD Kalteng Minta Aparat Sikat Perusahaan Terindikasi Picu Karhutla
Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK
Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD
Tag :

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 10:45 WIB

Bongkar Rekayasa Ujaran Kebencian di Balik Isu LGBTQ, FAMM Indonesia: Pengalihan Isu Kejahatan Negara

Senin, 20 Juli 2026 - 10:33 WIB

Isu Reshuffle Kabinet Agustus 2026: Menteri PU Dody Hanggodo Terancam Diganti Usai Gejolak Internal

Senin, 20 Juli 2026 - 07:02 WIB

Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:36 WIB

Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:29 WIB

DPRD Kalteng Minta Aparat Sikat Perusahaan Terindikasi Picu Karhutla

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:42 WIB

Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:48 WIB

Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:36 WIB

Komisi II DPR Wacanakan Penerapan KPI Mengikat, ASN Tidak Produktif Siap-siap Out!

Berita Terbaru