Keretakan di Jantung Minyak Dunia: UEA Mundur dari OPEC, “The Beginning of the End”?

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 10:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Uni Emirat Arab putuskan keluar dari OPEC di tengah ketegangan Perang Iran dan kenaikan harga minyak dunia [SUARA.COM/Hdi-dibuat dengan bantuan AI]

Ilustrasi Uni Emirat Arab putuskan keluar dari OPEC di tengah ketegangan Perang Iran dan kenaikan harga minyak dunia [SUARA.COM/Hdi-dibuat dengan bantuan AI]

1TULAH.COM-Lanskap energi global sedang diguncang oleh kabar monumental. Uni Emirat Arab (UEA), salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia, secara resmi mengambil langkah berani untuk memisahkan diri dari OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries).

Keputusan ini bukan sekadar urusan diplomasi, melainkan sebuah “pukulan telak” yang diprediksi para analis sebagai awal dari berakhirnya dominasi kartel minyak yang telah berkuasa selama lebih dari enam dekade.

Sejarah dan Memudarnya Taring OPEC

Didirikan pada tahun 1960 oleh lima negara pendiri—Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Venezuela—OPEC dibentuk dengan satu misi tunggal: mengendalikan pasokan global untuk menjaga stabilitas pendapatan negara anggotanya.

Dunia pernah merasakan betapa tajamnya “taring” organisasi ini. Pada krisis energi 1973, embargo minyak Arab berhasil memicu lonjakan harga hingga 300%, sebuah langkah yang melumpuhkan ekonomi Barat dan memicu resesi hebat. Namun, kejayaan itu kini tampak memudar.

Statistik Penurunan Pengaruh OPEC

Data menunjukkan tren penurunan yang signifikan dalam pengaruh pasar global:

  • 1973: Pangsa pasar produksi minyak mentah OPEC mencapai puncaknya di angka 52%.

  • 2025: Pangsa pasar menyusut drastis menjadi hanya 36,7%.

Penyebab utamanya adalah kebangkitan produsen non-OPEC. Saat ini, Amerika Serikat memimpin dunia dengan produksi 13,6 juta barel per hari, diikuti oleh Rusia dengan 9,1 juta barel per hari.

Baca Juga :  KPK Pastikan Asap di Gedung Merah Putih Bukan Kebakaran

Alasan Fundamental: Mengapa UEA Memilih Merdeka?

Sebagai produsen terbesar ketiga di dalam grup (setelah Arab Saudi dan Irak), UEA merasa aspirasi ekonominya terhambat oleh birokrasi kuota.

  1. Investasi yang Terbelenggu: UEA telah berinvestasi besar-besaran untuk mencapai kapasitas produksi hampir 4,8 juta barel per hari. Namun, kuota OPEC memaksa mereka bertahan di angka 3,2 juta barel.

  2. Kedaulatan Energi: Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menegaskan bahwa mundurnya UEA per 1 Mei 2026 adalah keputusan berdaulat. Menurutnya, dunia butuh energi dan UEA ingin menyuplai tanpa hambatan kelompok manapun.

  3. Persaingan dengan Riyadh: Secara geopolitik, ini menandai retaknya poros Abu Dhabi-Riyadh. UEA dan Arab Saudi kini bersaing sengit memperebutkan modal asing, talenta global, dan pengaruh di Timur Tengah.

Dampak pada Harga BBM: Mengapa Belum Turun?

Banyak yang berharap keluarnya UEA akan langsung menurunkan harga BBM karena potensi banjir pasokan. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks.

1. Volatilitas dan Geopolitik

Harga minyak mentah dunia masih bertengger di level ekstrem:

  • Brent: ± US$117 per barel

  • WTI (AS): ± US$105 per barel

Lonjakan ini dipicu oleh perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang menurut Bank Dunia merupakan kehilangan pasokan terbesar dalam sejarah.

Baca Juga :  DPRD Kalteng Desak Dana BTT Karhutla Rp70 Miliar Segera Siap dan Bebas Prosedur Berbelit

2. Tragedi Selat Hormuz

Dampak jangka pendek dari manuver UEA dinilai mendekati “zero”. Penyebab utamanya adalah penutupan Selat Hormuz selama delapan pekan terakhir akibat ancaman militer Iran. Jalur nadi ini mengunci sekitar 10 hingga 12 juta barel minyak harian, membuat pasokan tambahan dari UEA belum bisa mengalir ke pasar global secara efektif.

Proyeksi Jangka Panjang: Kemenangan Konsumen?

Meskipun saat ini harga masih tinggi, para ekonom dari Capital Economics memprediksi bahwa dalam jangka panjang, OPEC yang terpecah akan melemahkan kontrol terhadap harga.

“OPEC yang lebih lemah dapat menggeser keseimbangan risiko ke arah harga minyak yang lebih rendah dari waktu ke waktu,” tulis laporan tersebut.

Monica Malik, kepala ekonom di ADCB, menambahkan bahwa langkah ini adalah strategi cerdas UEA untuk mengamankan pangsa pasar global begitu situasi geopolitik kembali normal.

Tatanan Energi Baru

Keluarnya UEA adalah kemenangan politik bagi pihak-pihak yang lama mengkritik OPEC, termasuk Donald Trump yang konsisten menuduh kartel tersebut memanipulasi harga global.

Tanpa UEA, kemampuan Arab Saudi untuk bertindak sebagai “penstabil pasar” kini dipertanyakan. Dunia sedang menyaksikan transisi dari era monopoli kartel menuju pasar yang lebih bebas dan kompetitif, di mana kedaulatan produksi menjadi kunci utama pembangunan nasional. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Soal Praperadilan Lodewyk Pusung, Kejagung Tekankan Batas Waktu Pengajuan
DPRD Kalteng Tata Ulang Pos Hibah APBD 2027, Anggaran Dialihkan ke Belanja Modal
Akhiri Tren Buruk, Inter Miami Bantai Montreal 7-1 Lewat 4 Gol Messi
BNPB Jelaskan Aturan Baru MK: Penetapan Bencana Nasional Tak Wajib Penuhi 5 Indikator
KPK Pastikan Asap di Gedung Merah Putih Bukan Kebakaran
Ketua DPRD Kalteng Arton S Dohong Tegaskan Kualitas dan Kesejahteraan Guru Kunci SDM Unggul
Atasi Karhutla Kalimantan, Pemerintah Jepang Kirim Pasukan JSDF dan 3 Helikopter CH-47
Diikuti 264 Peserta, Turnamen Domino Orado KNPI Cup 2026 Sedot Antusiasme Warga Bartim
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Soal Praperadilan Lodewyk Pusung, Kejagung Tekankan Batas Waktu Pengajuan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:14 WIB

DPRD Kalteng Tata Ulang Pos Hibah APBD 2027, Anggaran Dialihkan ke Belanja Modal

Minggu, 30 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Akhiri Tren Buruk, Inter Miami Bantai Montreal 7-1 Lewat 4 Gol Messi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:22 WIB

KPK Pastikan Asap di Gedung Merah Putih Bukan Kebakaran

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:14 WIB

Ketua DPRD Kalteng Arton S Dohong Tegaskan Kualitas dan Kesejahteraan Guru Kunci SDM Unggul

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:05 WIB

Atasi Karhutla Kalimantan, Pemerintah Jepang Kirim Pasukan JSDF dan 3 Helikopter CH-47

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Diikuti 264 Peserta, Turnamen Domino Orado KNPI Cup 2026 Sedot Antusiasme Warga Bartim

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:23 WIB

DPRD Kalteng Dorong Koperasi Desa Merah Putih Jadi Penampung Hasil Usaha Warga

Berita Terbaru