Megawati Sebut Anak Muda Warisi Bumi yang Rusak Akibat Keserakahan Generasi Sebelumnya

- Jurnalis

Minggu, 11 Januari 2026 - 08:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum PDI Perjuangan atau PDIP Megawati Soekarnoputri, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman krisis ekologis global dalam pidato politik di pembukaan Rakernas I sekaligus peringatan HUT PDI Perjuangan ke-53 tahun 2026, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2025). (Tim Media PDIP)

Ketua Umum PDI Perjuangan atau PDIP Megawati Soekarnoputri, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman krisis ekologis global dalam pidato politik di pembukaan Rakernas I sekaligus peringatan HUT PDI Perjuangan ke-53 tahun 2026, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2025). (Tim Media PDIP)

1TULAH.COM-Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato politik yang mendalam dan reflektif dalam pembukaan Rakernas I sekaligus peringatan HUT PDIP ke-53 di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

Dalam pidatonya, Presiden ke-5 RI tersebut menyoroti ancaman nyata krisis ekologis global yang kini berada di titik nadir.

Megawati menegaskan bahwa kegagalan peradaban manusia dalam merawat bumi telah menempatkan generasi muda dalam bayang-bayang masa depan yang kelam. Menurutnya, kerusakan alam bukan lagi prediksi ilmiah semata, melainkan realitas yang menghancurkan.

Bencana Akhir 2025: Isyarat Nyata Kehancuran Lingkungan

Mengawali pidatonya, Megawati memaparkan data ilmiah yang menunjukkan bahwa suhu bumi saat ini merupakan yang terpanas dalam 100.000 tahun terakhir.

Ia memberikan perhatian khusus pada tragedi kemanusiaan yang melanda Indonesia pada akhir tahun 2025 sebagai bukti nyata perubahan iklim.

“Di negeri kita sendiri, pada 23 November 2025, hujan ekstrem telah memicu bencana ekologis dan kemanusiaan berskala besar.

Puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lumpuh,” ungkap Megawati dengan nada prihatin.

Baca Juga :  Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan

Bencana tersebut mengakibatkan:

  • Ribuan korban jiwa melayang.

  • Ratusan orang dinyatakan hilang.

  • Ratusan ribu rakyat terpaksa mengungsi dan kehilangan tanah kelahirannya.

Generasi Muda: Pewaris Bumi yang Rusak

Salah satu poin krusial dalam pidato Megawati adalah pembelaannya terhadap hak-hak generasi muda. Ia mengkritik keras sistem kapitalisme eksploitatif yang dianggapnya menjadi akar permasalahan lingkungan saat ini.

“Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi,” tegas Megawati.

Ia menambahkan bahwa kecemasan anak muda sangat beralasan karena didasarkan pada fakta ilmiah. Mulai dari mencairnya es di kutub hingga merosotnya keanekaragaman hayati, dunia tengah mendekati “titik kritis” (tipping point) yang tidak dapat dipulihkan.

Kritik Terhadap Logika Kapitalisme Eksploitatif

Bagi Megawati, rentetan bencana global yang terjadi belakangan ini bukanlah fenomena alam biasa, melainkan peringatan sejarah. Ia mengecam keras sistem yang mengedepankan keuntungan materiil di atas keselamatan jiwa manusia.

Baca Juga :  KPK Minta Aset Pejabat yang Tak Dilaporkan dalam LHKPN Dapat Dirampas Negara

Ia menekankan tiga kegagalan utama peradaban saat ini:

  1. Gagal menghentikan pemanasan global.

  2. Gagal mengubah cara memperlakukan alam.

  3. Gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika profit.

“Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya,” jelasnya di hadapan ribuan kader PDI Perjuangan.

Mengubah Arah Sejarah

Menutup pidatonya, Megawati melontarkan pertanyaan reflektif yang ditujukan tidak hanya kepada kader partai, tetapi juga kepada masyarakat dunia.

Ia mengutip peringatan para ilmuwan mengenai fase “keteruraian besar” peradaban manusia.

“Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?” pungkasnya.

Pidato ini menjadi sinyal kuat bahwa PDI Perjuangan di tahun 2026 akan semakin fokus pada isu-isu keadilan ekologis dan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari perjuangan ideologis partai. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Menteri HAM Natalius Pigai Dorong Restorative Justice untuk Film “Pesta Babi” Dandhy Laksono
Buntut Video Viral di Terminal Kedamin, Kapolres Kapuas Hulu Siap Jalankan Hukum Adat
Soal Putusan MA Batalkan Suket SMA Gibran, Gerindra: Hormati Proses Hukum dan Minta Kemenkeu/Kementerian Terkait Beri Penjelasan
Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis
Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan
Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida
Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri
Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 13:23 WIB

Menteri HAM Natalius Pigai Dorong Restorative Justice untuk Film “Pesta Babi” Dandhy Laksono

Minggu, 1 November 2026 - 10:47 WIB

Buntut Video Viral di Terminal Kedamin, Kapolres Kapuas Hulu Siap Jalankan Hukum Adat

Minggu, 1 November 2026 - 07:28 WIB

Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI Capai Di Atas 50 Persen, BEI Makin Optimistis

Minggu, 1 November 2026 - 02:02 WIB

Pemkab Barito Selatan Salurkan Bansos dan Cadangan Pangan untuk Tiga Desa di Dusun Selatan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Pemkab Mura Dukung Peningkatan Kinerja Jamkrida

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:27 WIB

Kukuhkan ABPEDNAS Mura, Heriyus Harapkan Desa Semakin Kuat dan Mandiri

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kalteng Mulai Hujan, Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Waswas Sisa Titik Api

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Pajak Pembalut 11 Persen Tuai Kritik: Dinilai Bebani Kebutuhan Dasar Perempuan

Berita Terbaru

Sejumlah anggota Damkar saat melakukan pemadaman pada salah satu lahan yang terbakar. Pemerintah Kabupaten Seruyan melalui BPBD secara resmi memutuskan untuk memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla serta Kekeringan Tahun 2026.

Seruyan

Suling Tambun Nihil Karhutla, Seruyan Hilir Timur Terparah

Senin, 2 Nov 2026 - 15:23 WIB

Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda, S.E., M.Si., disambut oleh masyarakat saat melaksanakan kunjungan kerja ke salah satu kecamatan di Seruyan belum lama ini.

Seruyan

Warga Nantikan Layanan Cetak KTP di Hanau

Senin, 2 Nov 2026 - 10:25 WIB