Gerakan ‘Canberra Bergerak’ dan Suara Rakyat: Alarm Keras untuk Demokrasi Indonesia

- Jurnalis

Sabtu, 6 September 2025 - 08:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Massa yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) saat melakukan aksi di depan DPR RI, Jakarta, Rabu (3/9/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Massa yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) saat melakukan aksi di depan DPR RI, Jakarta, Rabu (3/9/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

1TULAH.COM-Sebuah forum diskusi yang mempertemukan warga negara pembayar pajak dan diaspora Indonesia menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi terkini Tanah Air.

Diskusi ini, yang dipandu oleh mantan Komisioner KPK Chandra Marta Hamzah, menyoroti krisis kepercayaan dan disfungsi demokrasi yang dinilai semakin nyata. Para peserta forum mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah konkret dan substantif, alih-alih hanya bersikap reaktif.

Sorotan dari Diaspora dan Akademisi

Anthony Paulo Sunjaya, seorang akademisi dari UNSW Sydney yang mewakili diaspora di Australia, menekankan perlunya respons segera dan mendesak pemerintah untuk membentuk tim pencari fakta independen. Tim ini diharapkan dapat menginvestigasi dugaan pelanggaran HAM dan memastikan respons pemerintah tidak bersifat militeristik.

Baca Juga :  Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Jurnalis Perempuan Montserrat Gomez Alami Dugaan Pelecehan Saat Siaran Langsung

Frustrasi atas kurangnya perbaikan juga melahirkan gerakan “Canberra Bergerak” di Australia. Avina Nadhila, seorang mahasiswi S3 di Australian National University, dengan lantang menyuarakan kekecewaan, menuntut agar suara rakyat didengar tanpa harus menunggu adanya korban.

Melemahnya Kepercayaan dan Disfungsi Demokrasi

Shofwan Al Banna Choiruzzad, dosen HI UI, menjelaskan bahwa kondisi saat ini ditandai oleh meningkatnya ketidakpastian dan anjloknya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Menurutnya, melemahnya institusi demokrasi membuat suara rakyat menjadi tidak relevan.

Kritik tajam dilontarkan terhadap respons pemerintah yang dianggap tidak serius dan tidak substansial dalam menanggapi ketidakpuasan publik.

Wartawan senior Budiman Tanuredjo menambahkan bahwa instrumen demokrasi, seperti partai politik dan organisasi massa, cenderung berdiam diri di tengah unjuk rasa. Ia menekankan perlunya konsolidasi semua tuntutan dari berbagai gerakan untuk menciptakan momentum perubahan.

Baca Juga :  Kagumi Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral, Presiden Jerman Terharu Lihat Toleransi Indonesia

Solusi Struktural: Komite Reformasi Independen

Sebagai solusi atas krisis ini, para narasumber mengusulkan pembentukan ‘komite reformasi’ independen. Komite ini diusulkan diisi oleh individu berintegritas tinggi dengan otoritas kuat untuk mengawal tuntutan publik, mereformasi berbagai lini pemerintahan, dan bertindak sebagai tim pencari fakta.

Di akhir diskusi, Chandra Marta Hamzah menegaskan bahwa semua pihak di pemerintahan—legislatif, yudikatif, dan eksekutif—harus segera berbenah diri. Ia menekankan pentingnya profesionalisme dan integritas sebagai kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memperbaiki kondisi demokrasi di Indonesia. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Heboh Aliansi BEM Bersatu: Tuding Eks Petinggi Militer, Justru Dihantam Badai Klarifikasi Kampus
Alex Marquez Siap Comeback di MotoGP Ceko 2026, Tunggu Lampu Hijau Tim Medis di Brno
7 Bulan Tanpa Tersangka, Kasus Pemerkosaan Buruh Disabilitas PT USU Dibawa ke Jakarta
Serap Aspirasi di Kotim dan Seruyan, Ferry Khaidir: Warga Dapil II Mayoritas Minta Perbaikan Infrastruktur Dasar
Ekspor Perhiasan Indonesia Tembus 9,1 Miliar Dolar AS, Naik Tajam 64 Persen!
IHSG Lewati Fase Penurunan Terdalam 41,72%, Siap Masuk Siklus Pemulihan!
Ketua DPW Nasdem Kalteng Ajak Generasi Muda Maknai Semangat Hijrah di Tahun Baru Islam 1448H
Piala Dunia 2026: Didier Deschamps Redam Ekspektasi, Sebut Spanyol Favorit Juara ketimbang Prancis
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 06:01 WIB

Heboh Aliansi BEM Bersatu: Tuding Eks Petinggi Militer, Justru Dihantam Badai Klarifikasi Kampus

Kamis, 18 Juni 2026 - 05:45 WIB

Alex Marquez Siap Comeback di MotoGP Ceko 2026, Tunggu Lampu Hijau Tim Medis di Brno

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:42 WIB

7 Bulan Tanpa Tersangka, Kasus Pemerkosaan Buruh Disabilitas PT USU Dibawa ke Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:53 WIB

Ekspor Perhiasan Indonesia Tembus 9,1 Miliar Dolar AS, Naik Tajam 64 Persen!

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:41 WIB

IHSG Lewati Fase Penurunan Terdalam 41,72%, Siap Masuk Siklus Pemulihan!

Selasa, 16 Juni 2026 - 23:40 WIB

Ketua DPW Nasdem Kalteng Ajak Generasi Muda Maknai Semangat Hijrah di Tahun Baru Islam 1448H

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:17 WIB

Piala Dunia 2026: Didier Deschamps Redam Ekspektasi, Sebut Spanyol Favorit Juara ketimbang Prancis

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:51 WIB

Kagumi Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral, Presiden Jerman Terharu Lihat Toleransi Indonesia

Berita Terbaru