1TULAH.COM-Kemeriahan pesta sepak bola terbesar di planet ini, Piala Dunia 2026, sayangnya harus diwarnai oleh insiden yang mencoreng nilai-nilai sportivitas dan penghormatan kemanusiaan. Di tengah euforia suporter, seorang jurnalis sekaligus konten kreator asal Meksiko, Montserrat Gomez, melaporkan telah menjadi korban dugaan pelecehan saat sedang menjalankan tugas profesionalnya.
Insiden tidak menyenangkan ini menjadi viral dan memicu gelombang kecaman dari netizen di seluruh dunia, sekaligus membuka kembali diskursus lama mengenai keamanan jurnalis perempuan di ruang publik.
Kronologi Insiden Pelecehan Montserrat Gomez di Piala Dunia 2026
Peristiwa traumatis tersebut terjadi ketika Montserrat Gomez tengah melaporkan atmosfer laga debut Tim Nasional (Timnas) Meksiko di Piala Dunia 2026. Sebagai jurnalis, momen ini seharusnya menjadi salah satu puncak pencapaian dalam kariernya.
Namun, keceriaan itu berubah seketika. Dalam sebuah video rekaman yang ia unggah ke media sosial pribadi miliknya, terlihat jelas seorang pria asing mendekat dan menyentuh Gomez tanpa izin (tanpa persetujuan) tepat saat ia sedang berbicara dengan fokus di depan kamera (on-air).
Tindakan fisik yang dilakukan secara tiba-tiba oleh orang tak dikenal tersebut langsung merusak momen krusial yang sudah lama ia persiapkan.
“Bukan Sekadar Candaan” – Kekecewaan Mendalam Montserrat Gomez
Melansir dari media olahraga Record, Gomez mengaku sangat terpukul namun memilih untuk tetap tegar dan bersuara vokal. Ia menegaskan tidak ingin membiarkan tindakan tidak terpuji tersebut merenggut hasil kerja kerasnya selama ini.
“Saya tidak ingin ini merusak hari besar yang sudah lama saya tunggu, karena saya sudah bekerja keras untuk berada di sini,” ujar Gomez.
Meski demikian, Gomez memilih untuk tidak tinggal diam. Baginya, menyuarakan kejadian ini adalah tanggung jawab moral agar realitas pahit yang dihadapi perempuan di jalanan bisa mendapat perhatian serius.
“Ini adalah realitas yang masih terjadi di jalanan. Ada orang yang merasa berhak menyentuh tanpa persetujuan. Bagi saya ini adalah bentuk tidak hormat sebagai profesional dan sebagai perempuan. Tidak masuk akal di tahun 2026 hal seperti ini masih terjadi,” tegasnya.
Gomez secara langsung mematahkan pembelaan klasik yang sering berlindung di balik kata “candaan” atau “euforia suporter”. Baginya, tindakan menyentuh tubuh orang lain tanpa konsensus adalah pelanggaran batas fisik yang murni bersumber dari pudarnya rasa hormat.
Gelombang Dukungan Netizen dan Sorotan Tajam Terhadap Keamanan Jurnalis
Pasca-unggahan video tersebut, ruang siber langsung dibanjiri oleh reaksi keras dari warganet, sesama rekan jurnalis, hingga komunitas pencinta sepak bola internasional. Mayoritas mengutuk keras aksi pelaku dan menuntut adanya sanksi tegas atau identifikasi terhadap pria di dalam video tersebut.
Kasus yang menimpa Montserrat Gomez ini menggarisbawahi beberapa poin krusial yang kerap dihadapi pekerja media wanita:
-
Risiko Tinggi di Ruang Publik: Kerumunan massa dalam turnamen besar seperti Piala Dunia sering kali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan pelecehan.
-
Perlindungan Kerja yang Minim: Jurnalis lapangan, terutama perempuan, sering kali berada dalam posisi rentan tanpa adanya barikade atau pengamanan khusus saat melakukan siaran langsung.
-
Urgensi Edukasi Suporter: Pentingnya menanamkan budaya saling menghormati (mutual respect) bahwa euforia merayakan kemenangan tim tidak boleh melanggar hak-hak orang lain.
Langkah Hukum ke Depan
Hingga artikel ini diturunkan, Montserrat Gomez dikabarkan belum mengambil keputusan final apakah dirinya akan membawa kasus dugaan pelecehan fisik ini ke ranah hukum formal.
Walau demikian, langkah beraninya mempublikasikan bukti rekaman video tersebut dinilai banyak pihak sebagai langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran (awareness) publik global, sekaligus menjadi tamparan keras bagi pihak penyelenggara untuk memperketat standar keamanan bagi seluruh awak media yang bertugas di Piala Dunia 2026. (Sumber:Suara.com)


![Raffi Ahmad sakit [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/rafi-sakit-360x200.jpg)



![Jurnalis dan kreator konten Montserrat Gómez mengaku mengalami dugaan pelecehan saat menjalankan tugas peliputan di tengah kemeriahan Piala Dunia 2026. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/jurnalis-bola-225x129.jpg)




![Ilustrasi Sabu. [Antara]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230610_074458-225x129.jpg)



![Jurnalis dan kreator konten Montserrat Gómez mengaku mengalami dugaan pelecehan saat menjalankan tugas peliputan di tengah kemeriahan Piala Dunia 2026. [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/jurnalis-bola-360x200.jpg)

![Ilustrasi Sabu. [Antara]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230610_074458-360x200.jpg)





![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)


