Waspada! BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia hingga 3 Agustus 2025

- Jurnalis

Kamis, 31 Juli 2025 - 07:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gelombang tinggi (unsplash.com/@toddtphoto)

Gelombang tinggi (unsplash.com/@toddtphoto)

1TULAH.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi yang dapat membahayakan pelayaran di beberapa wilayah perairan Indonesia. Gelombang tinggi ini diperkirakan berlangsung mulai 31 Juli hingga 3 Agustus 2025.

Para operator perahu dan kapal, serta masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan.

Menurut informasi resmi dari BMKG yang dirilis pada Kamis (31/7/2025), gelombang laut dengan ketinggian signifikan diperkirakan akan melanda beberapa zona perairan utama di Indonesia. Peringatan ini penting untuk diperhatikan oleh semua pihak yang beraktivitas di laut atau di wilayah pesisir.

Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi dan Pola Angin Dominan

BMKG merinci beberapa wilayah perairan yang berpotensi mengalami gelombang tinggi dengan ketinggian bervariasi:

Gelombang Setinggi 2,5 hingga 4 Meter

Potensi gelombang tinggi hingga 4 meter diperkirakan terjadi di wilayah-wilayah berikut:

  • Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
  • Samudra Hindia barat Lampung
  • Samudra Hindia barat Bengkulu
  • Perairan selatan Banten
  • Perairan selatan Jawa Barat
  • Perairan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Perairan selatan Jawa Tengah
  • Perairan selatan Jawa Timur
  • Laut Arafuru bagian barat, tengah, dan timur
Baca Juga :  Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan

Gelombang Setinggi 1,25 hingga 2,5 Meter

Sementara itu, gelombang dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter diperkirakan akan muncul di:

  • Selat Malaka bagian utara
  • Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
  • Samudra Hindia barat Aceh
  • Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat
  • Laut Seram
  • Samudra Pasifik utara Papua

Pola Angin yang Memicu Gelombang Tinggi

BMKG juga menjelaskan pola angin yang mendominasi selama periode tersebut. Di wilayah Indonesia bagian utara, angin umumnya bergerak dari timur ke selatan dengan kecepatan berkisar antara 4 hingga 25 knot. Sebaliknya, di wilayah selatan Indonesia, angin bertiup dari tenggara ke barat daya dengan kecepatan lebih tinggi, yaitu 6 hingga 30 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, hingga Samudra Pasifik selatan Banten, Laut Arafuru, dan Selat Karimata. Pola angin kencang ini secara signifikan dapat memicu terbentuknya gelombang tinggi dan membahayakan aktivitas pelayaran.

Baca Juga :  Larangan Membakar Lahan Bukan Hapus Tradisi, Politisi Golkar di DPRD Kalteng Ini Minta Peladang Adat Beralih ke Metode Tanpa Bakar

Imbauan Keselamatan dari BMKG

BMKG secara tegas mengingatkan bahwa kombinasi gelombang tinggi dan pola angin yang tidak biasa ini menimbulkan risiko serius bagi keselamatan semua jenis pelayaran, mulai dari perahu nelayan hingga kapal-kapal besar. Untuk itu, BMKG mengimbau kepada:

  • Nelayan dan Operator Perahu Kecil: Disarankan untuk menunda atau membatalkan perjalanan melaut jika kondisi gelombang terlalu tinggi. Periksa kembali kondisi perahu dan pastikan perlengkapan keselamatan memadai.
  • Kapal Feri dan Kapal Kargo: Diminta untuk lebih waspada dan selalu memantau informasi cuaca maritim terbaru dari BMKG sebelum dan selama perjalanan.
  • Masyarakat Pesisir: Tingkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang pasang atau rob yang dapat terjadi akibat gelombang tinggi. Hindari aktivitas di dekat pantai saat gelombang tinggi berlangsung.

Penting bagi seluruh pihak untuk terus memantau pembaruan informasi dari BMKG melalui kanal-kanal resmi mereka untuk mendapatkan data cuaca maritim terkini. Keselamatan adalah prioritas utama. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Karhutla Disebut Bencana Kemanusiaan, Ketua DPRD Kalteng Desak Pemprov dan Forkopimda Naikkan Status Siaga Darurat
Ciri-Ciri Rumah Bermuatan Energi Chi Buruk dan Cara Efektif Menetralisirnya
Rotasi Kepemimpinan Polres Barsel: AKBP Jecson R. Hutapea Pamit dan Ajak Sinergi Tetap Guard
Perkuat Cadangan Pangan Barsel, Pemkab dan Bulog Buntok Jalin Kerja Sama Strategis
Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan
Saling Sindir Netizen Indo-Malaysia: Dihina Miskin Pasrah, Didoakan Presiden Selamanya Ditolak!
Profil Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy’ari yang Kini Resmi Memimpin PBNU
Larangan Membakar Lahan Bukan Hapus Tradisi, Politisi Golkar di DPRD Kalteng Ini Minta Peladang Adat Beralih ke Metode Tanpa Bakar
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 17:31 WIB

Karhutla Disebut Bencana Kemanusiaan, Ketua DPRD Kalteng Desak Pemprov dan Forkopimda Naikkan Status Siaga Darurat

Selasa, 1 September 2026 - 16:50 WIB

Rotasi Kepemimpinan Polres Barsel: AKBP Jecson R. Hutapea Pamit dan Ajak Sinergi Tetap Guard

Selasa, 1 September 2026 - 16:03 WIB

Perkuat Cadangan Pangan Barsel, Pemkab dan Bulog Buntok Jalin Kerja Sama Strategis

Selasa, 1 September 2026 - 15:51 WIB

Kearifan Tradisi Dayak Iban Sungai Utik: Kelola Api Terkontrol demi Jaga Ketahanan Pangan

Selasa, 1 September 2026 - 15:43 WIB

Saling Sindir Netizen Indo-Malaysia: Dihina Miskin Pasrah, Didoakan Presiden Selamanya Ditolak!

Selasa, 1 September 2026 - 09:18 WIB

Profil Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy’ari yang Kini Resmi Memimpin PBNU

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:01 WIB

Larangan Membakar Lahan Bukan Hapus Tradisi, Politisi Golkar di DPRD Kalteng Ini Minta Peladang Adat Beralih ke Metode Tanpa Bakar

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Presiden Prabowo Minta Syarat Rekrutmen TNI Buka Privilese untuk Suku Dayak Pedalaman

Berita Terbaru