Mengapa Bumi Berputar Lebih Cepat Selama Juli dan Agustus? Ini Penyebabnya

- Jurnalis

Senin, 28 Juli 2025 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi bumi (Freepik/frepik)

Ilustrasi bumi (Freepik/frepik)

1TULAH.COM – Fenomena meningkatnya kecepatan rotasi Bumi kembali menarik perhatian ilmuwan pada tahun ini, terutama karena sejumlah hari pada bulan Juli dan Agustus tercatat memiliki durasi yang sedikit lebih pendek dari biasanya.

Normalnya, satu hari di Bumi berlangsung selama 24 jam atau 86.400 detik. Namun, pada tanggal 9 Juli, 22 Juli, dan 5 Agustus, para peneliti memperkirakan bahwa durasi hari menjadi lebih singkat sekitar satu milidetik atau lebih, akibat rotasi Bumi yang sedikit lebih cepat dari biasanya terhadap posisi matahari.

Kenyataannya, Bumi tidak selalu menyelesaikan satu rotasi dalam waktu yang sama persis setiap hari. Selisih waktu yang hanya beberapa milidetik ini memang sangat kecil, tetapi cukup penting dalam konteks sistem teknologi dan pengaturan waktu yang sangat presisi.

Tren percepatan rotasi ini telah diamati sejak tahun 2020. Salah satu penyebab yang diyakini berpengaruh adalah interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan.

Gaya tarik Bulan yang menimbulkan pasang surut air laut dapat memengaruhi kecepatan rotasi Bumi.

Baca Juga :  Polda Banten Pastikan Pelampung Kedua Bukan Milik Kapal Arupadhatu 1

Ketika posisi Bulan berubah, terutama saat menjauh dari garis khatulistiwa, pengaruh gravitasi tersebut bisa melemah, memungkinkan rotasi Bumi menjadi sedikit lebih cepat.

Faktor lain yang diduga turut berkontribusi adalah kejadian di dalam Bumi sendiri, seperti gempa bumi.

Misalnya, pada tahun 2005, gempa bumi besar di Indonesia menyebabkan pergeseran massa kutub Bumi sejauh sekitar satu inci ke timur dan memperpendek durasi hari sebesar 2,68 mikrodetik.

Namun, dalam konteks percepatan rotasi saat ini, belum ditemukan adanya gempa bumi besar yang signifikan, sehingga faktor ini belum dianggap sebagai penyebab utama.

Selain itu, pergerakan inti Bumi juga dicurigai ikut berperan. Perubahan pada inti cair Bumi dapat memengaruhi momen inersia planet, serupa dengan seorang pemain seluncur es yang dapat berputar lebih cepat saat menarik tangan ke dalam.

Meskipun demikian, percepatan rotasi ini tidak membuat manusia secara fisik merasakan bahwa waktu berjalan lebih cepat. Aktivitas harian seperti bangun tidur, bekerja, atau beristirahat masih berlangsung dalam ritme yang sama.

Baca Juga :  Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa: Rincian Evakuasi Korban dan Kendala Gelombang Tinggi

Namun, perubahan sekecil satu hingga dua milidetik sangat penting bagi sistem teknologi seperti GPS, satelit, komunikasi global, dan sistem keuangan yang mengandalkan sinkronisasi waktu presisi hingga level nanodetik.

Ketidaksesuaian kecil dalam durasi rotasi Bumi dapat mengganggu kinerja sistem-sistem tersebut, sehingga perlu dilakukan penyesuaian.

Selama ini, penyesuaian dilakukan melalui konsep detik kabisat, yaitu penambahan satu detik secara berkala untuk menyelaraskan waktu atomik internasional dengan waktu astronomis berdasarkan rotasi Bumi.

Detik kabisat pertama kali diterapkan sejak tahun 1972. Namun, jika percepatan rotasi terus berlanjut, mungkin dibutuhkan pengurangan detik kabisat sebuah tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Bahkan, mulai tahun 2035, penggunaan detik kabisat akan dihentikan untuk mencegah kerumitan dalam sistem komputer global.

Jika fenomena ini terus berlanjut, komunitas ilmiah dan teknolog global mungkin perlu mengembangkan pendekatan baru dalam menjaga akurasi waktu dunia.

Penulis : Laili R

Berita Terkait

Kabut Asap Pekat Hadang Helikopter Chinook Jepang untuk Penanganan Karhutla di Mempawah
Pemprov Kalteng Perkuat Penanganan Karhutla, 372 Kejadian Berhasil Ditangani
Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Pimpin Paripurna Penyerahan Raperda APBD 2027
Momen Sertijab Menkeu: Pidato Singkat Purbaya dan Pesan Apresiasi dari Suahasil
Keretakan Internal Kemenkeu di Balik Copotnya Purbaya Yudhi Sadewa dan Penunjukan Suahasil Nazara
Rekam Jejak Teknokratis Suahasil Nazara, Sosok Pilihan Prabowo untuk Nahkodai Kemenkeu Gantikan Purbaya
Purbaya Yudhi Sadewa Dicopot Usai Soroti Anggaran Rp11 T dan Perombakan Massal Kemenkeu
Pimpin Rakor Karhutla, Bupati Bartim Minta Seluruh Unsur Perkuat Respon Cepat dan Deteksi Dini
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 15:16 WIB

Kabut Asap Pekat Hadang Helikopter Chinook Jepang untuk Penanganan Karhutla di Mempawah

Selasa, 15 September 2026 - 14:27 WIB

Pemprov Kalteng Perkuat Penanganan Karhutla, 372 Kejadian Berhasil Ditangani

Selasa, 15 September 2026 - 14:15 WIB

Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong Pimpin Paripurna Penyerahan Raperda APBD 2027

Selasa, 15 September 2026 - 14:07 WIB

Momen Sertijab Menkeu: Pidato Singkat Purbaya dan Pesan Apresiasi dari Suahasil

Selasa, 15 September 2026 - 12:13 WIB

Keretakan Internal Kemenkeu di Balik Copotnya Purbaya Yudhi Sadewa dan Penunjukan Suahasil Nazara

Senin, 14 September 2026 - 19:38 WIB

Rekam Jejak Teknokratis Suahasil Nazara, Sosok Pilihan Prabowo untuk Nahkodai Kemenkeu Gantikan Purbaya

Senin, 14 September 2026 - 19:29 WIB

Purbaya Yudhi Sadewa Dicopot Usai Soroti Anggaran Rp11 T dan Perombakan Massal Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 - 12:32 WIB

Pimpin Rakor Karhutla, Bupati Bartim Minta Seluruh Unsur Perkuat Respon Cepat dan Deteksi Dini

Berita Terbaru