Dampak Karhutla Bagi Satwa Liar: Kemenhut Tangani 290 Satwa, Termasuk 96 Orangutan Kalimantan

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi 96 Orangutan Kalimantan Masuk Penanganan di Tengah Karhutla (Pexels)

Ilustrasi 96 Orangutan Kalimantan Masuk Penanganan di Tengah Karhutla (Pexels)

1TULAH.COM-Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia, tetapi juga memberikan dampak serius bagi keberlangsungan satwa liar.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat sebanyak 290 individu satwa liar masuk dalam penanganan medis dan evakuasi akibat bencana karhutla hingga 8 Oktober 2026.

Dari total angka tersebut, satwa terancam punah seperti orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) menjadi salah satu korban terdampak yang paling banyak dievakuasi, yakni mencapai 96 individu.

Pulau Kalimantan Jadi Wilayah Terdampak Terparah

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengungkapkan bahwa mayoritas satwa liar yang ditangani berada di Pulau Kalimantan.

“Dari jumlah tersebut, 272 individu tercatat dalam penanganan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di empat provinsi Kalimantan,” ujar Ristianto di Jakarta.

Data ini merupakan rekapitulasi nasional penanganan satwa liar yang terdampak karhutla hingga 8 Oktober 2026. Khusus untuk Kalimantan Tengah, penanganan mencakup 25 individu orangutan.

Ristianto menegaskan bahwa angka 25 individu di Kalimantan Tengah tersebut merupakan jumlah akumulasi penanganan di seluruh wilayah provinsi Kalteng, bukan hanya dari kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Hingga saat ini, tim gabungan masih terus berjuang memadamkan api yang membakar sebagian kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Baca Juga :  Juara Tingkat Provinsi, Heriyus Apresiasi Prestasi Kepala Sekolah PAUD Murung Raya

Tahapan Penanganan Satwa: Dari Evakuasi Hingga Rehabilitasi

Pemerintah melalui Kemenhut dan BKSDA menerapkan berbagai prosedur darurat untuk menyelamatkan satwa liar dari ancaman lidah api dan asap pekat. Langkah penanganan disesuaikan dengan kondisi satwa serta ancaman di lapangan:

  • Penyelamatan (Rescue) & Evakuasi: Menyelamatkan satwa yang terperangkap atau terluka akibat kobaran api.

  • Penggiringan Satwa: Mengarahkan satwa ke zona atau habitat yang lebih aman dan jauh dari titik api (hotspot).

  • Translokasi: Memindahkan satwa ke kawasan hutan konservasi lain yang aman dan memadai secara ekologis.

  • Perawatan & Rehabilitasi: Memberikan penanganan medis bagi satwa yang mengalami luka bakar, dehidrasi, atau ISPA sebelum dilepasliarkan kembali.

Mobilisasi 60.000 Personel dan Pemadaman Lahan 639 Hektare

Guna memutus rantai penyebaran api, pemerintah melakukan penanggulangan karhutla secara paralel: pemadaman api di darat serta penyelamatan dan pemulihan satwa.

Baca Juga :  Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Khusus di Taman Nasional Tanjung Puting, mobilisasi petugas terus diperkuat dengan memperlibatkan personel tambahan dari unsur TNI dan Polri. Secara nasional, pemerintah telah mengerahkan lebih dari 60.000 personel gabungan untuk operasi pemadaman darat, terutama di dua titik krusial yaitu Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

Laporan Rapat Terbatas di Istana Kepresidenan

Perkembangan penanganan karhutla ini juga telah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden telah menerima laporan komprehensif dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta.

Berdasarkan laporan tersebut, operasi pemadaman aktif masih berlangsung di lahan seluas total 639 hektare yang tersebar di enam provinsi, dengan fokus utama di pulau Kalimantan dan Sumatera.

Bencana karhutla merupakan ancaman nyata bagi biodiversitas Indonesia. Sinergi antara pemadaman titik api, penegakan hukum, serta upaya penyelamatan satwa liar menjadi kunci utama agar habitat fauna langka Indonesia—khususnya orangutan Kalimantan—dapat terselamatkan dari krisis ekologi yang berulang. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Atasi Karhutla Taman Nasional Tanjung Puting, Presiden Prabowo Kirim 200 Pompa Air dan Anggaran Rp2 Miliar
Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi
Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla
Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax
Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen
Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo
Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Dampak Karhutla Bagi Satwa Liar: Kemenhut Tangani 290 Satwa, Termasuk 96 Orangutan Kalimantan

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:39 WIB

Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Berita Terbaru