Dampak Kebijakan Tarif Trump: Warga AS di Paris Merasa Malu dan Berusaha Tak Mencolok

- Jurnalis

Minggu, 13 April 2025 - 05:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Turis asing. [Ist]

Ilustrasi Turis asing. [Ist]

1TULAH.COM-Sepasang suami istri asal Dallas, Oregon, Amerika Serikat (AS), Barbara dan Rick Wilson, baru-baru ini berbagi pengalaman kurang menyenangkan saat berlibur di Paris. Pengalaman ini menjadi sorotan karena erat kaitannya dengan kewarganegaraan mereka sebagai warga AS, yang kini tengah menjadi perhatian global akibat kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan oleh mantan Presiden Donald Trump.

Rick Wilson (74) mengungkapkan rasa muak dan malu atas tindakan Presiden Trump yang memberlakukan tarif perdagangan global, termasuk terhadap Prancis. Saking malunya, sebelum meninggalkan hotel, Rick bahkan mengambil selotip hitam untuk menutupi bendera AS di topi bisbolnya. “Kami muak dengan hal ini. Mengerikan. Benar-benar mengerikan,” ujar Rick, merenungkan ketidaknyamanan yang mereka rasakan sebagai warga Amerika yang sedang berlibur di negara lain.

Sang istri, Barbara (70), bahkan memiliki pin kerah Kanada di sakunya, hadiah dari turis lain, yang menurutnya mungkin berguna untuk menyembunyikan identitas kewarganegaraannya. “Saya kecewa dengan negara kami. Kami kesal dengan tarif,” kata Barbara, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (12/04/2025).

Kisah serupa juga dialami oleh pasangan Amerika lainnya yang berusaha untuk tidak terlalu mencolok saat berada di luar Museum Louvre. Chris Epps (56), seorang pengacara dari New York, memilih untuk tidak mengenakan atribut yang terlalu “Amerika” selama turnya. “Tidak ada topi New York Yankees. Saya meninggalkannya di hotel. Orang-orang mungkin mendatangi kami, memperlakukan kami secara berbeda. Namun sejauh ini, semuanya baik-baik saja,” ungkap Chris.

Baca Juga :  TP-PKK Mura Hadirkan Rumah DILAN, Ini Manfaatnya bagi Masyarakat

Meskipun laporan BBC tidak mengindikasikan adanya perlakuan buruk terhadap warga Amerika di Paris, insiden ini mencerminkan sentimen negatif yang berkembang di Eropa akibat kebijakan tarif Trump. Kemarahan ini semakin memperburuk hubungan internasional antara Eropa dan AS.

Dampak Nyata pada Pariwisata dan Industri Buku

Dampak dari sentimen anti-AS ini mulai terasa di berbagai sektor, termasuk pariwisata dan industri buku. Philippe Gloaguen, pendiri buku panduan perjalanan terkemuka di Prancis, Le Guide du Routard, mengungkapkan penurunan signifikan dalam pesanan buku-buku tentang AS di Paris, mencapai 25% sepanjang tahun ini.

“Ini penurunan yang besar,” kata Gloaguen. Namun, alih-alih mengeluh, ia justru merasa bangga dengan pelanggannya yang dianggapnya muda, berpendidikan tinggi, dan demokratis. Ia bahkan menyamakan situasi ini dengan pandangan terhadap negara-negara dengan pemerintahan diktator. “Mereka tidak ingin menghabiskan uang mereka di Amerika Serikat,” tambahnya.

Gloaguen mencatat bahwa penurunan penjualan buku tentang AS diimbangi oleh peningkatan penjualan buku tentang Kanada dan negara-negara lain, mengindikasikan adanya pergeseran preferensi wisatawan. Hal ini menjadi bukti lebih lanjut bahwa industri perjalanan mulai merasakan dampak dari meningkatnya kekecewaan terhadap Amerika Serikat.

Kebijakan Tarif Trump: Upaya “America First” yang Kontroversial

Kebijakan tarif dagang yang diterapkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump merupakan bagian dari pendekatan “America First” yang menekankan kepentingan nasional AS di atas kerja sama multilateral. Tujuan utama kebijakan ini adalah untuk melindungi industri domestik AS, mengurangi defisit perdagangan, dan mendorong negosiasi ulang perjanjian perdagangan dengan negara lain.

Baca Juga :  Speedboat Bawa 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda, Termasuk Jurnalis Media Nasional

Beberapa kebijakan tarif utama yang diterapkan oleh Trump meliputi:

  • Tarif Baja dan Aluminium: Pemberlakuan tarif impor sebesar 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium dari berbagai negara, termasuk sekutu tradisional AS. Kebijakan ini memicu retaliasi dari negara-negara yang terkena dampak.
  • Perang Dagang dengan Tiongkok: Penerapan tarif pada berbagai produk impor Tiongkok senilai ratusan miliar dolar AS, yang dibalas oleh Tiongkok dengan tarif serupa.
  • Negosiasi Ulang NAFTA: Pembentukan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA) sebagai pengganti Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Dampak Ekonomi yang Luas

Kebijakan tarif Trump telah menghasilkan dampak ekonomi yang kompleks dan beragam. Beberapa sektor industri AS mengalami kerugian akibat kenaikan biaya bahan baku dan penurunan ekspor. Sementara itu, negara-negara lain juga merasakan dampak negatif akibat tarif yang diberlakukan AS maupun tarif balasan yang mereka terapkan.

Indonesia, meskipun tidak terkena dampak langsung seperti negara-negara mitra dagang utama AS, juga merasakan imbas dari ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan oleh kebijakan tarif Trump.

Pengalaman Barbara dan Rick Wilson di Paris menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan luar negeri dan perdagangan suatu negara dapat memengaruhi persepsi dan penerimaan warga negaranya di kancah internasional.

Sentimen negatif yang muncul akibat kebijakan tarif Trump tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga pada pengalaman individu warga AS yang bepergian ke luar negeri. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

Pemkab Mura-BPN Perkuat Integrasi Data Pertanahan dan Keuangan Daerah
Kejagung Kantongi Bukti Pemerasan dan Sita Uang Tunai dalam Kasus TPPU Febrie Adriansyah
Pemerintah Cairkan Bansos Beras Tahap 2 Alokasi Juli–September 2026: Setiap KPM Terima 30 Kg
DPRD Kalteng Matangkan Raperda Pertanahan, Lembaga Adat Jadi Garda Terdepan Resolusi Konflik
Persidangan Korupsi Kuota Haji: Yaqut Pertanyakan Foto Prabowo dan Fuad Hasan Masyhur di Paris
Aturan Baru Menkomdigi Larang Kuota Hangus Diprotes, Dinilai Tak Sesuai Putusan MK
Pesan Presiden Prabowo di GBK: Bersaing dan Kritik Boleh, Tapi Tetap Rukun Berkeluarga
Bukan Cuma Kemarau, Ini Penyebab Karhutla Berulang dan Kian Parah di Indonesia
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 13:03 WIB

Pemkab Mura-BPN Perkuat Integrasi Data Pertanahan dan Keuangan Daerah

Jumat, 11 September 2026 - 06:05 WIB

Kejagung Kantongi Bukti Pemerasan dan Sita Uang Tunai dalam Kasus TPPU Febrie Adriansyah

Jumat, 11 September 2026 - 05:57 WIB

Pemerintah Cairkan Bansos Beras Tahap 2 Alokasi Juli–September 2026: Setiap KPM Terima 30 Kg

Kamis, 10 September 2026 - 18:48 WIB

DPRD Kalteng Matangkan Raperda Pertanahan, Lembaga Adat Jadi Garda Terdepan Resolusi Konflik

Kamis, 10 September 2026 - 16:51 WIB

Persidangan Korupsi Kuota Haji: Yaqut Pertanyakan Foto Prabowo dan Fuad Hasan Masyhur di Paris

Kamis, 10 September 2026 - 15:10 WIB

Aturan Baru Menkomdigi Larang Kuota Hangus Diprotes, Dinilai Tak Sesuai Putusan MK

Kamis, 10 September 2026 - 09:54 WIB

Pesan Presiden Prabowo di GBK: Bersaing dan Kritik Boleh, Tapi Tetap Rukun Berkeluarga

Kamis, 10 September 2026 - 08:26 WIB

Bukan Cuma Kemarau, Ini Penyebab Karhutla Berulang dan Kian Parah di Indonesia

Berita Terbaru