Teknologi Kecerdasan Buatan Ancaman Bagi Eksistensi Umat Manusia, Benarkah?

- Jurnalis

Senin, 8 Mei 2023 - 06:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Pelopor kecerdasan buatan Geoffrey Hinton berbicara di Thomson Reuters Financial and Risk Summit di Toronto, 4 Desember 2017. (REUTERS/Mark Blinch)

Pelopor kecerdasan buatan Geoffrey Hinton berbicara di Thomson Reuters Financial and Risk Summit di Toronto, 4 Desember 2017. (REUTERS/Mark Blinch)

1TULAH.COM-Saat ini teknologi Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bagi banyak orang teknologi kecerdasaan buatan ini, akan membawa perkembangan yang lebih baik bagi peradaban umat manusia.

Ternyata dalam perkembangan, justru sebaliknya. Hal ini dirasakan sendiri oleh AI Geoffrey Hinton, salah seorang pelopor pengembangan teknologi kecerdasan buatan ini.

Ia bahkan mengamati bahwa teknologi kecerdasan buatan justru akan menjadi gangguan bagi eksistensi umat manusia di muka bumi ini. Ancamannya pun tak kalah serius dibandingkan dengan perubahan iklim.

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)dapat menimbulkan ancaman yang lebih mendesak bagi umat manusia daripada isu perubahan iklim, kata pelopor AI Geoffrey Hinton kepada Reuters dalam sebuah wawancara pada Jumat (5/5/2023).

Geoffrey Hinton, yang dikenal luas sebagai salah satu “bapak baptis AI”, baru-baru ini mengumumkan bahwa ia telah hengkang dari perusahaan teknologi Alphabet.

Setelah satu dekade bekerja di perusahaan tersebut. Hinton mengatakan bahwa ia ingin berbicara tentang risiko teknologi, tanpa memengaruhi mantan perusahaan tempatnya bekerja itu.

Karya Hinton dianggap penting untuk pengembangan sistem AI kontemporer. Pada 1986, ia ikut menulis makalah “Mempelajari representasi dengan kesalahan propagasi balik”, sebuah tonggak sejarah dalam pengembangan jaringan yang mendukung teknologi AI.

Pada 2018, ia dianugerahi Penghargaan Turing sebagai pengakuan atas terobosan penelitiannya.

Baca Juga :  Drama Laga Panas! Timnas Indonesia U-19 Bungkam Vietnam 2-1, Segel Tiket Semifinal Piala AFF U-19 2026

Namun Hinton kini berdiri di jajaran para pemimpin teknologi yang secara terbuka mengungkapkan, kekhawatiran mereka tentang kemungkinan ancaman yang ditimbulkan oleh AI, jika mesin itu berhasil mencapai kecerdasan yang lebih tinggi daripada manusia, hingga akhirnya dapat mengendalikan planet ini.

“Saya tidak ingin meremehkan perubahan iklim. Saya tidak ingin mengatakan, ‘Anda tidak perlu khawatir tentang perubahan iklim.’ Itu juga (memiliki) risiko yang sangat besar,” kata Hinton. “Namun, saya pikir ini (AI) mungkin akan menjadi lebih mendesak.”

Ia menambahkan: “Dengan perubahan iklim, sangat mudah untuk merekomendasikan apa yang harus Anda lakukan: Anda berhenti membakar karbon. Jika Anda melakukannya, pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja. Sedangkan untuk ini (AI), sama sekali tidak jelas apa yang harus Anda lakukan.”

OpenAI yang didukung Microsoft menjadi pionir pada perlombaan platform teknologi pada November, ketika berhasil memmbuat chatbot ChatGPT bertenaga AI untuk publik.

OpenAI serta merta menjadi aplikasi yang tumbuh tercepat dalam sejarah, mencapai 100 juta pengguna bulanan dalam dua bulan.

Pada April, CEO Twitter Elon Musk bergabung dengan ribuan orang lainnya yang menandatangani surat terbuka. Surat itu menyerukan dilakukannya jeda enam bulan dalam pengembangan sistem yang lebih kuat daripada GPT-4 OpenAI yang baru diluncurkan.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.928 per Dolar AS, Harapan Damai Timur Tengah Jadi Sentimen Positif

Hinton mengatakan bahwa AI mungkin terbukti menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia, tetapi dia tidak setuju dengan penghentian penelitian.

“Ini sama sekali tidak realistis,” katanya. “Saya di kubu yang berpikir ini adalah risiko eksistensial, dan itu cukup dekat sehingga kita harus bekerja sangat keras sekarang, dan mengerahkan banyak sumber daya untuk mencari tahu apa yang bisa kita lakukan.”

Di Uni Eropa, sebuah komite anggota parlemen menanggapi surat yang didukung Musk, menyerukan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk menggelar komite tingkat tinggi global dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tentang arah masa depan teknologi.

Minggu lalu, komite menyetujui serangkaian proposal penting yang menargetkan AI generatif, yang akan memaksa perusahaan seperti OpenAI untuk mengungkapkan materi hak cipta apa pun yang digunakan untuk melatih model mereka.

Sementara itu, Biden mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pemimpin perusahaan AI, termasuk CEO Alphabet Sundar Pichai dan CEO OpenAI Sam Altman di Gedung Putih. Pembicaraan itu menjanjikan “diskusi yang jujur dan konstruktif” tentang perlunya perusahaan agar lebih transparan tentang sistem mereka.

“Pemimpin teknologi paling memahaminya, dan politisi harus terlibat,” kata Hinton. “Itu mempengaruhi kita semua, jadi kita semua harus memikirkannya,” tukasnya. (Sumber:voaindonesia.com)

 

Berita Terkait

Polisi Musnahkan Narkoba Senilai Rp37 Miliar Pelabuhan Tanjung Priok
Cegah Korupsi, DPRD Kalteng Ingatkan ASN Patuhi Aturan Pengadaan Barang dan Jasa
Bukan Cuma Hukum, Penataan WIUP Jadi Kunci Atasi PETI di Muratara
Menguak Gurita Kasus Suap BPK Sumsel dan Pemkab Muara Enim: Siapa Saja Tersangkanya?
Hak Siar Piala Dunia 2026 Indonesia: Ini Cara Scan TVRI Digital dan Nonton via Aplikasi
Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Jurnalis Perempuan Montserrat Gomez Alami Dugaan Pelecehan Saat Siaran Langsung
KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Heri Gunawan dan Istri Kasus Korupsi CSR BI-OJK
Polda Metro Jaya Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Cengkareng Timur
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 20:09 WIB

Polisi Musnahkan Narkoba Senilai Rp37 Miliar Pelabuhan Tanjung Priok

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:35 WIB

Cegah Korupsi, DPRD Kalteng Ingatkan ASN Patuhi Aturan Pengadaan Barang dan Jasa

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:24 WIB

Bukan Cuma Hukum, Penataan WIUP Jadi Kunci Atasi PETI di Muratara

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:18 WIB

Menguak Gurita Kasus Suap BPK Sumsel dan Pemkab Muara Enim: Siapa Saja Tersangkanya?

Sabtu, 13 Juni 2026 - 03:24 WIB

Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Jurnalis Perempuan Montserrat Gomez Alami Dugaan Pelecehan Saat Siaran Langsung

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:48 WIB

KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Heri Gunawan dan Istri Kasus Korupsi CSR BI-OJK

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:43 WIB

Polda Metro Jaya Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Cengkareng Timur

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:33 WIB

Buntut Liputan Film ‘Pesta Babi’, Jurnalis Floresa di Labuan Bajo Alami Teror Fisik dan Doxing

Berita Terbaru