Perbedaan Konsep Waktu Antara Orang Dewasa dan Anak-anak

- Jurnalis

Rabu, 10 Agustus 2022 - 08:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Waktu.foto pixabay

Ilustrasi: Waktu.foto pixabay

1TULAH.COM-Konsep waktu terasa berbeda antara orang dewasa dan anak-anak. Secara ilmiah kondisi ini, sebenarnya disebabkan oleh perbedaan persepsi tentang informasi yang masuk ke pikiran orang dewasa dan anak-anak.

Saat masih anak-anak, setiap harinya terasa hari yang panjang. Anak-anak bermain seharian dan merasa bisa bermain selamanya.

Begitupun saat masih remaja, hari-harinya terasa begitu panjang dengan seabrek kegiatan. Tapi mengapa semakin dewasa, hari-hari Anda terasa lebih singkat, waktu terasa lebih cepat?

Para peneliti sekarang memiliki penjelasan baru, mengapa hari-hari tanpa akhir masa kanak-kanak itu tampaknya berlangsung lebih lama daripada setelah dewasa.

Menurut teori, perbedaan temporal yang berkaitan dengan ilmu fisika tampaknya dapat disalahkan atas hal tersebut.

Alasannya adalah bahwa ‘waktu jam’ yang terukur tidak sama dengan waktu yang dirasakan oleh pikiran manusia.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di European Review dengan judul “Why the Days Seem Shorter as We Get Older,” dicuplik dari National Geographic, Selasa, 9 Agustus 2022. Publikasi tersebut merupakan jurnal akses terbuka dan dapat diperoleh secara daring.

Menurut Adrian Bejan, JA. Jones Profesor Teknik Mesin di Duke University yang menjelaskan teori tersebut mengatakan, hal tersebut dapat dijelaskan menggunakan teori fisika.

Perlambatan dan pemrosesan gambar oleh otak dianggap menjadi alasan mengapa persepsi kita terhadap waktu berbeda, bagi orang-orang dewasa waktu berlalu lebih cepat.

Ia menjelaskan, ‘waktu pikiran’ adalah urutan gambar, yaitu refleksi alam yang diberi respon oleh rangsangan dari organ indera. Tingkat perubahan citra mental yang dirasakan menurun seiring bertambahnya usia.

Hal itu karena beberapa fitur fisik yang berubah seiring bertambahnya usia. Ketidaksejajaran antara waktu citra mental dan waktu jam berfungsi untuk menyatukan volume yang banyak.

Baca Juga :  Rotasi Kepemimpinan Polres Barsel: AKBP Jecson R. Hutapea Pamit dan Ajak Sinergi Tetap Guard

“Orang-orang, sering kagum dengan seberapa banyak yang mereka ingat dari hari-hari yang mereka lalui saat masih muda atau anak-anak,” kata Bejan.

 

“Tapi sebenarnya itu bukan karena pengalaman yang lebih bermakna atau berkesan.”

Menurutnya, hal itu karena saat masih muda atau anak-anak pemprosesan gambar oleh otak terjadi lebih cepat dan lebih banyak gambar yang direkam.

Sedangkan ketika seseorang menjadi dewasa dan menua, lanjutnya, jaringan saraf dan neuron menjadi lebih kompleks dan proses pengaturan informasi yang masuk ke otak menjadi lebih panjang dibandingkan saat masih anak-anak atau remaja.

Bejan mengaitkan fenomena ini dengan perubahan fisik pada tubuh manusia yang menua. Saat jaringan saraf dan neuron yang kusut menjadi matang, mereka tumbuh dalam ukuran dan kompleksitas, yang mengarah ke jalur yang lebih panjang untuk dilalui sinyal.

Saat jalur tersebut kemudian mulai menua, jalur tersebut juga menurun, memberikan lebih banyak hambatan terhadap aliran sinyal listrik.

Fenomena ini menyebabkan tingkat di mana gambaran mental baru diperoleh dan diproses menurun seiring bertambahnya usia.

Fenomena itu pula yang menurutnya dapat menjelaskan mengapa anak bayi berkedip lebih banyak dibandingkan orang dewasa.

Otak yang lebih muda memproses lebih banyak. Mata bayi lebih sering bergerak, memperoleh dan mengintegrasikan lebih banyak informasi dibandingkan orang dewasa.

Pada akhirnya adalah, karena orang yang lebih tua melihat lebih sedikit gambar baru. Jadi meski itu dalam jumlah waktu yang sebenarnya sama, tapi semuanya terasa berlalu lebih cepat bagi orang dewasa.

Baca Juga :  Data Desil BPS Berantakan, Rieke Diah Pitaloka Sebut Pelanggaran HAM dan Desak BPK Lakukan Audit Investigatif

Hari-hari bagi orang dewasa terasa berlalu lebih cepat, merasa tidak pernah cukup waktu dibandingkan saat masih anak-anak atau ketika remaja.

“Pikiran manusia merasakan perubahan waktu ketika gambar yang dirasakan berubah,” kata Bejan.

“Saat ini berbeda dari masa lalu karena pandangan mental telah berubah, bukan karena jam seseorang berdering.”

Hari-hari, lanjutnya, tampak lebih lama di masa muda Anda. “Karena pikiran muda menerima lebih banyak gambar selama satu hari daripada pikiran yang sama di usia tua,” kata Bejan.

Fenomena ini menyebabkan tingkat di mana gambaran mental baru diperoleh dan diproses menurun seiring bertambahnya usia.

Fenomena itu pula yang menurutnya dapat menjelaskan mengapa anak bayi berkedip lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Otak yang lebih muda memproses lebih banyak. Mata bayi lebih sering bergerak, memperoleh dan mengintegrasikan lebih banyak informasi dibandingkan orang dewasa.

Pada akhirnya adalah, karena orang yang lebih tua melihat lebih sedikit gambar baru. Jadi meski itu dalam jumlah waktu yang sebenarnya sama, tapi semuanya terasa berlalu lebih cepat bagi orang dewasa.

Hari-hari bagi orang dewasa terasa berlalu lebih cepat, merasa tidak pernah cukup waktu dibandingkan saat masih anak-anak atau ketika remaja.

“Pikiran manusia merasakan perubahan waktu ketika gambar yang dirasakan berubah,” kata Bejan.

“Saat ini berbeda dari masa lalu karena pandangan mental telah berubah, bukan karena jam seseorang berdering.”

Hari-hari, lanjutnya, tampak lebih lama di masa muda Anda. “Karena pikiran muda menerima lebih banyak gambar selama satu hari daripada pikiran yang sama di usia tua,” kata Bejan. (Dikutip dari suara.com)

Berita Terkait

Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar
Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara
Gunung Ile Lewotolok di NTT Dua Kali Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak
Realisasi Anggaran Pemprov Kalteng Baru 38 Persen, DPRD Desak Percepatan Lelang Proyek
99 Persen Pembobolan Bank Berawal dari Social Engineering, Kemenhub dan Pakar Wanti-Wanti Hal Ini
Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki
Analisis BRIN: Erupsi Gunung Anak Krakatau Menembus Stratosfer dan Berpotensi Dinginkan Suhu Bumi
Pertemuan di Hambalang: Presiden Prabowo dan Dubes AS untuk ASEAN Bahas Kerja Sama serta Stabilitas Kawasan
Tag :

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 14:03 WIB

Presiden Prabowo Minta Syarat TNI Disesuaikan, Warga Dayak Bertato Adat Bisa Mendaftar

Senin, 7 September 2026 - 09:02 WIB

Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sekolah PJJ, Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara

Senin, 7 September 2026 - 08:51 WIB

Gunung Ile Lewotolok di NTT Dua Kali Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak

Minggu, 6 September 2026 - 17:01 WIB

Realisasi Anggaran Pemprov Kalteng Baru 38 Persen, DPRD Desak Percepatan Lelang Proyek

Minggu, 6 September 2026 - 16:03 WIB

Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki

Minggu, 6 September 2026 - 13:29 WIB

Analisis BRIN: Erupsi Gunung Anak Krakatau Menembus Stratosfer dan Berpotensi Dinginkan Suhu Bumi

Minggu, 6 September 2026 - 10:34 WIB

Pertemuan di Hambalang: Presiden Prabowo dan Dubes AS untuk ASEAN Bahas Kerja Sama serta Stabilitas Kawasan

Minggu, 6 September 2026 - 10:22 WIB

Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Sementara Akibat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, 33 Penerbangan Terdampak

Berita Terbaru