Rupiah Tembus Rp 17.645 per Dolar AS, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah!

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (16/5) yang menanggapi santai pelemahan rupiah karena dinilai tidak berdampak langsung pada masyarakat desa. Foto Antara.

Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (16/5) yang menanggapi santai pelemahan rupiah karena dinilai tidak berdampak langsung pada masyarakat desa. Foto Antara.

1TULAH.COM-Mata uang Garuda kembali tak bertenaga. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merosot hingga melewati level psikologis barunya.

Melansir data Reuters pada Senin (18/5/2026) pukul 10.50 WIB, rupiah terjerembab ke posisi Rp 17.645 per dolar AS, melemah 1,17% dari hari sebelumnya. Angka ini resmi menjadi level terlemah sepanjang sejarah (all-time low) rupiah di pasar spot secara intraday.

Jika ditarik sejak awal tahun (year-to-date), rupiah tercatat sudah keok hingga 5,99%. Sementara jika dihitung sejak era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dimulai pada Oktober 2024 lalu, mata uang Indonesia ini sudah menyusut sekitar 12% dari kisaran awalnya yang berada di level Rp 15.400-an.

Badai Sempurna: Konflik Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Pelemahan tajam ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang datang bersamaan bak badai sempurna. Dari sisi global, ketegangan geopolitik yang membara di kawasan Timur Tengah membuat investor global panik. Alih-alih menempatkan dana di negara berkembang, mereka berbondong-bondong menyelamatkan modal ke aset aman (safe haven), dengan dolar AS sebagai pilihan utama.

Baca Juga :  Gagalkan Penyelundupan 1,6 Ton Ketamin dari Malaysia, Sufmi Dasco Apresiasi Kerja Cepat Polri dan BNN

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia memperparah keadaan domestik. Saat ini, Indonesia berstatus sebagai negara importir minyak neto (net oil importer) dengan kebutuhan mencapai 1,5 juta barel per hari. Tingginya harga minyak dunia memaksa Indonesia harus merogoh kocek dolar jauh lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

“Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan dan indeks dolar yang menguat, kebutuhan dolar dari Indonesia menjadi sangat tinggi,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Senin (18/5/2026).

Sentimen Internal: Pasar Merespons Negatif Seloroh Presiden Prabowo

Selain faktor eksternal, kondisi internal turut memperkeruh suasana di pasar spot. Pasar keuangan merespons negatif pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (16/5/2026) lalu.

Dalam pernyataannya, Presiden menanggapi santai pelemahan rupiah karena dinilai tidak berdampak langsung pada masyarakat di pedesaan. Komentar yang dianggap ‘nyeleneh’ oleh sebagian pelaku pasar ini justru menjadi bumerang bagi stabilitas mata uang nasional.

Baca Juga :  Kerusakan Hutan & Konflik Agraria: WALHI Sebut Satgas PKH Hanya "Ganti Pemain" ke BUMN

“Pernyataan Presiden Prabowo ini dijadikan alasan oleh para investor di pasar untuk melakukan aksi beli dolar, sehingga rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” tutur Ibrahim.

Pasar Butuh Solusi Konkret, Bukan Sekadar Seloroh

Ibrahim menilai pemerintah dan otoritas terkait seharusnya memberikan strategi konkret untuk menenangkan pasar yang sedang bergejolak, bukan sekadar melempar seloroh atau menganggap remeh situasi.

Beberapa langkah taktis yang dinilai mendesak untuk segera dilakukan pemerintah antara lain:

  • Transparansi Manajemen Krisis Energi: Memberikan kejelasan skema subsidi dan pasokan energi nasional di tengah lonjakan harga minyak.

  • Percepatan Program Biodiesel B50: Mengakselerasi implementasi B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil demi menekan angka impor minyak secara signifikan.

Jika langkah konkret tidak segera diambil untuk meredam kepanikan pasar, tekanan terhadap mata uang Garuda diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan
Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026
Di Balik Transaksi Rp26,1 Triliun PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Kedaulatan Ekonomi atau Pindah Tangan Oligarki Tambang?
Karhutla Meluas, Baznas Kerahkan Personel ke Sejumlah Wilayah Indonesia
KPK Minta Aset Pejabat yang Tak Dilaporkan dalam LHKPN Dapat Dirampas Negara
Bupati Heriyus Ajak Masyarakat Perkuat Sinergi dengan TNI
Pangdam XXII/Tambun Bungai Lantik Dandim 1020/Murung Raya dan Komandan Denzipur 16
Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Rebut Pole Position Moto3 Australia 2026 di Phillip Island

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Mencetak generasi kritis di Era AI, PT AlamTri Gandeng Komunitas Pendidikan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Tekan Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, Kemendikdasmen Rilis Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:21 WIB

Di Balik Transaksi Rp26,1 Triliun PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Kedaulatan Ekonomi atau Pindah Tangan Oligarki Tambang?

Senin, 26 Oktober 2026 - 23:33 WIB

KPK Minta Aset Pejabat yang Tak Dilaporkan dalam LHKPN Dapat Dirampas Negara

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Bupati Heriyus Ajak Masyarakat Perkuat Sinergi dengan TNI

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Pangdam XXII/Tambun Bungai Lantik Dandim 1020/Murung Raya dan Komandan Denzipur 16

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Rebut Pole Position Moto3 Australia 2026 di Phillip Island

Senin, 26 Oktober 2026 - 05:48 WIB

Siap Diterapkan 2027, Kebijakan Tidak Naik Kelas Kembali Diberlakukan

Berita Terbaru