1TULAH.COM-Ekonom Ferry Latuhihin secara blak-blakan melontarkan kritik tajam terhadap serangkaian kebijakan pemerintah, menyebut langkah-langkah yang diambil kontradiktif dan berpotensi membawa Indonesia ke jurang krisis, bahkan memprediksi nilai tukar Rupiah (IDR) dapat menembus level psikologis Rp20.000 per dolar AS (USD).
Peringatan serius mengenai kondisi ekonomi Indonesia datang dari ekonom terkemuka, Ferry Latuhihin, dalam sebuah diskusi yang diunggah di kanal YouTube Rhenald Kasali. Analisisnya yang lugas menyoroti apa yang ia sebut sebagai kebijakan moneter dan fiskal yang keliru, yang secara fundamental merusak kepercayaan pasar dan stabilitas mata uang.
Ancaman Rupiah Tembus Rp20.000: Logika ‘Capital Flight’ yang Nyata
Salah satu sorotan paling dramatis dari Latuhihin adalah potensi devaluasi Rupiah secara ekstrem. Ia menegaskan bahwa ancaman Rupiah menyentuh Rp20.000 per Dolar AS bukanlah sekadar spekulasi, melainkan konsekuensi logis dari kebijakan yang salah arah.
Menurut Latuhihin, logika di balik prediksi ini merujuk pada keputusan untuk menaikkan bunga deposito dolar di bank-bank BUMN atau Himbara. Alih-alih memperkuat Rupiah, kebijakan ini justru memicu capital flight atau pelarian modal.
“Bukan tidak mungkin loh dolar ke Rp20.000. Saya bukan nakut-nakutin, ini logikanya,” ujar Latuhihin.
Ia menjelaskan bahwa capital flight di sini tidak hanya berarti uang dibawa ke luar negeri, tetapi juga beralihnya aset dari Rupiah ke Dolar AS di dalam negeri. “Itu capital flight, orang exit dari Rupiah,” tegasnya, menunjukkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap mata uang domestik sebagai penyimpan nilai.
Kritik Tajam Kebijakan Rp200 Triliun: Suku Bunga adalah Masalah Utama
Kritik tajam Ferry Latuhihin juga ditujukan pada kebijakan penempatan uang senilai Rp200 triliun di Bank Himbara. Ia menilai langkah tersebut tidak produktif dan berpotensi menjadi beban bagi negara.
Inti masalahnya, menurut Latuhihin, bukanlah seberapa banyak stok uang di perbankan, melainkan tingginya suku bunga yang ditawarkan—yang menjadi biaya modal bagi para pengusaha.
“Buat pengusaha bukan berapa banyak uang, stok uang di perbankan, tapi berapa tinggi suku bunga yang ditawarkan. Itu biaya modalnya,” terangnya.
Ia memprediksi Indonesia sedang bergerak menuju kondisi credit crunch, sebuah anomali ekonomi. Dalam situasi ini, meskipun likuiditas (uang yang tersedia) di perbankan melimpah (akibat dana Rp200 triliun), tidak ada pengusaha yang berani meminjam karena prospek ekonomi yang suram dan suku bunga yang tinggi.
Independensi Bank Indonesia Rapuh dan Bahaya ‘Zombie State’
Aspek krusial lain yang dikritik Latuhihin adalah independensi Bank Indonesia (BI) yang dinilai semakin rapuh. Keretakan independensi ini disebabkan oleh skema burden sharing (bagi beban) antara BI dengan pemerintah.
Melemahnya independensi bank sentral secara langsung menggerus kepercayaan pasar terhadap Rupiah. “Kalau kepercayaan terhadap independensi Bank Indonesia itu rapuh, siapa yang mau megang Rupiah?” tanyanya retoris.
Ketidakpercayaan ini, kata Latuhihin, membuat masyarakat mencari perlindungan ke mata uang yang lebih stabil, tidak hanya Dolar AS, tetapi juga Dolar Singapura, Dolar Australia, atau Euro.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa kondisi ekonomi sedang menuju ‘zombie state’, yang diperparah oleh masifnya pembangunan infrastruktur yang tidak produktif.
“Banyak yang tidak produktif. Jalan tol di beberapa tempat itu yang jalan cuma delapan mobil satu hari,” kritiknya, mencontohkan alokasi anggaran yang dianggap tidak efisien.
Penciptaan Lapangan Kerja sebagai Prioritas Fundamental
Ferry Latuhihin menutup kritiknya dengan menyerukan agar pemerintah kembali ke prioritas fundamental. Baginya, tugas utama negara seharusnya adalah menciptakan ekosistem yang kondusif bagi penciptaan lapangan kerja, bukan berfokus pada program-program populis yang sifatnya memberi “makan” semata.
Kesimpulan:
Analisis Ferry Latuhihin menjadi peringatan keras bagi para pengambil kebijakan di Indonesia. Prediksi Rupiah hingga Rp20.000 dan ancaman credit crunch adalah konsekuensi logis dari kebijakan yang tidak fokus pada perbaikan fundamental, terutama independensi moneter dan tingginya biaya modal untuk bisnis.
Pemerintah didorong untuk mengalihkan fokus dari program populis ke upaya strategis penciptaan lapangan kerja dan efisiensi anggaran. (Sumber:Suara.com)


![Raffi Ahmad sakit [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/rafi-sakit-360x200.jpg)




















![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)


