Nilai Tukar Rupiah Melemah Drastis: Tembus Rp 16.700 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Isu Tax Amnesty

- Jurnalis

Kamis, 25 September 2025 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta, Selasa (14/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta, Selasa (14/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

1TULAH.COM-Nilai tukar Rupiah hari ini menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap Dolar AS dalam perdagangan. Kondisi pasar yang memanas membawa mata uang Garuda menyentuh level kritis, bahkan sempat menembus level terendah baru di sekitar Rp 16.700 per USD.

Pelemahan ini bukan hanya sekadar koreksi minor, melainkan indikasi dari sejumlah faktor, baik dari arena global maupun dinamika kebijakan domestik. Investor dan pelaku pasar pun kini mencermati dengan saksama perkembangan yang ada, terutama setelah Rupiah ditutup anjlok dalam transaksi hari ini.

Rupiah Anjlok 64 Poin, Sempat Sentuh Rp 16.749

Perdagangan hari ini ditutup dengan mata uang Rupiah yang melemah tajam. Rupiah ditutup melemah 64 poin di level Rp 16.749 per Dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 80 poin. Angka penutupan ini jauh di bawah penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.684.

Puncak dari pelemahan hari ini adalah ketika Rupiah sempat menyentuh rekor Rp 16.700 per USD. Sentimen negatif yang beredar di pasar memberikan tekanan kuat, membuat mata uang domestik tak berdaya di hadapan mata uang greenback.

Analisis Penyebab: Ketegangan Geopolitik Global Memanas

Menurut Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, pelemahan Rupiah ini didorong oleh faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik global yang makin memanas. Fokus utama berada di Eropa, di mana pernyataan keras dari Presiden AS, Donald Trump, terhadap Rusia kembali menjadi sorotan.

Baca Juga :  DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut

“Ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak terus membeli minyak Rusia dan mengatakan Washington sedang mempertimbangkan sanksi baru yang dapat menargetkan aliran energi,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam riset hariannya, Kamis (25/9/2025).

Ancaman sanksi yang menargetkan aliran energi Rusia menimbulkan ketidakpastian tinggi di pasar komoditas dan finansial global. Dalam situasi risk-off seperti ini, Dolar AS sebagai safe haven menjadi buruan utama investor, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah.

Dampak Kebijakan Moneter AS

Selain geopolitik, komentar dari Ketua The Fed, Jerome Powell, juga turut memengaruhi sentimen. Powell kembali menegaskan bahwa kebijakan moneter The Fed tetap akan bergantung pada data (data-dependent) dan tidak ada jalur yang telah ditetapkan untuk keputusan suku bunga di masa mendatang.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa The Fed masih membuka opsi untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika inflasi AS tidak terkendali. Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga AS selalu menjadi pemicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menambah tekanan jual terhadap Rupiah.

Sentimen Domestik: Isu Tax Amnesty Jilid 3

Dari dalam negeri, nilai tukar Rupiah juga terpengaruh oleh isu kebijakan fiskal. Pasar merespons rencana pemerintah untuk kembali menjalankan program Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty Jilid 3.

Wacana ini muncul setelah Komisi XI DPR memasukkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengampunan Pajak ke dalam daftar Prolegnas 2026. Tax amnesty jilid 3 ini diyakini bertujuan untuk mendapatkan fresh cash dari wajib pajak, khususnya pengusaha kakap, yang selama ini belum melaporkan hartanya secara benar, demi menambah pendapatan negara.

Baca Juga :  Desakan Sanksi Terberat untuk Korporasi Penyebab Karhutla

Namun, program ini memunculkan kekhawatiran dari sisi otoritas fiskal. Menurut Ibrahim Assuaibi, Menteri Keuangan saat ini menegaskan tidak akan mendukung rencana penerapan kembali tax amnesty.

“Ia khawatir jika tax amnesty kembali dijalankan, wajib pajak justru akan memanfaatkan celah tersebut,” pungkas Ibrahim.

Kekhawatiran ini mencerminkan dilema antara kebutuhan dana segar negara dengan risiko menciptakan preseden buruk di mana wajib pajak menunda kepatuhan dengan harapan adanya pengampunan di masa depan. Ketidakpastian mengenai jadi atau tidaknya kebijakan ini juga menjadi salah satu sentimen yang diamati pasar.

Proyeksi Pasar: Level Kritis dan Langkah Pemerintah

Dengan Rupiah yang kini berada di level tertekan, perhatian akan tertuju pada langkah-langkah yang akan diambil oleh Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Intervensi pasar dapat dilakukan BI untuk menstabilkan pergerakan Rupiah.

Namun, selama faktor pendorong utama (geopolitik global yang memanas dan kebijakan suku bunga The Fed yang hawkish) masih mendominasi, Rupiah akan terus menghadapi tekanan.

Investor disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik di Eropa dan setiap indikasi perubahan kebijakan moneter dari AS, serta menunggu kejelasan resmi dari pemerintah terkait rencana tax amnesty jilid 3. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Hadir Langsung di Sidang Roy Suryo, Jokowi Buka Suara Soal Foto Berkumis & Kacamata di Ijazah
Bunda PAUD Barsel Hj. Permana Sari Tekankan Pentingnya Fondasi Emas Anak di Usia Dini
Bawa Dokumen Asli ke Persidangan, Jokowi Siap Beberkan Riwayat Pendidikannya di UGM
Peringatan Maulid di Pidie Berakhir Tragis: 1 Meninggal dan Belasan Terluka Usai Penertiban Bendera
Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda
Helikopter Mi-17V5 TNI AD Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla di Seruyan, 1 Prajurit Gugur
Sejarah Kelam Penyadapan Presiden: Jejak Spionase Politik dari Megawati Hingga Prabowo
SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:52 WIB

Hadir Langsung di Sidang Roy Suryo, Jokowi Buka Suara Soal Foto Berkumis & Kacamata di Ijazah

Kamis, 5 November 2026 - 13:33 WIB

Bunda PAUD Barsel Hj. Permana Sari Tekankan Pentingnya Fondasi Emas Anak di Usia Dini

Kamis, 5 November 2026 - 08:49 WIB

Bawa Dokumen Asli ke Persidangan, Jokowi Siap Beberkan Riwayat Pendidikannya di UGM

Kamis, 5 November 2026 - 08:41 WIB

Peringatan Maulid di Pidie Berakhir Tragis: 1 Meninggal dan Belasan Terluka Usai Penertiban Bendera

Rabu, 4 November 2026 - 16:55 WIB

Kunjungan Kerja ke Kalsel, DPRD Kalteng Perkuat Fungsi Legislasi dan Pembentukan Perda

Rabu, 4 November 2026 - 16:49 WIB

Helikopter Mi-17V5 TNI AD Jatuh Saat Misi Water Bombing Karhutla di Seruyan, 1 Prajurit Gugur

Rabu, 4 November 2026 - 12:42 WIB

Sejarah Kelam Penyadapan Presiden: Jejak Spionase Politik dari Megawati Hingga Prabowo

Rabu, 4 November 2026 - 08:26 WIB

SP4N-LAPOR! Barsel 2026: Komitmen Pemkab Tingkatkan Transparansi dan Aduan Warga

Berita Terbaru