Mengenal Child Grooming, Ramai Dibahas usai Viral Curhatan Ibu 7 Anak Punya Suami Bergaji Rp 1 Juta

- Jurnalis

Senin, 23 Desember 2024 - 18:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Child Grooming (sumber: suara.com)

Ilustrasi Child Grooming (sumber: suara.com)

1TULAH.COM – Media sosial dihebohkan dengan cerita viral dari seorang ibu 7 anak yang dapat menyukupi kebutuhan walau sang suami bergaji Rp1 juta per bulan. Bahkan diceritakan oleh ibu itu, suaminya dapat membangun rumah gedung tiga lantai.

Ibu itu menyampaikan semua ceritanya melalui akun X pribadi, niki_tipaah. Dalam salah satu unggahan, ia bercerita jika dirinya dan sang suami memiliki jarak umur yang cukup jauh. Di mana dulu suaminya sudah berusia sekitar akhir 30-an, sementara dirinya baru berusia belasan.

“Suamiku dulu nungguin aku 3 tahun suka sama aku sejak aku lulus SMP. Padahal umurnya udah 35-36 tahun, nikahnya pas dia umur 39 tahun,” tulis si ibu pada 18 Januari 2024 lalu.

Akun X-nya mendadak ramai menjadi perbincangan usai ia sering membagikan tentang kehidupannya bersama sang suami. Walau belum bisa dipastikan kebenarannya, beberapa netizen banyak yang membahas perihal child grooming usai menyimak cerita ibu tersebut. Salah satunya yakni akun X Widino.

Baca Juga :  Benarkah "Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi"? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

“She needs help! Gw udah stalking akun dia tadi pagi, sampe pada kesimpulan: kemungkinan dia bukan cuma mengalami baby blues, tapi (bisa jadi) gejala PPD/Postpartum Depression. Korban child grooming, belum siap mental nikah muda, stress ngurus 7 anak yang masi kecil semua sampe dibiarin manjat-manjat lemari dan gelantungan di TV, stress ngurus suaminya,” tulis akun X Widino.

Sontak, hal ini pun jadi perbincangan. Lalu, apa sebenarnya child grooming dan mengapa hal ini bisa terjadi?

Merangkum dari berbagai sumber, child grooming merupakan sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang terutama orang dewasa untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak dengan tujuan untuk mengeksploitasi anak tersebut secara seksual.

Proses ini biasanya dilakukan secara bertahap dan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dengan tujuan agar anak tersebut merasa nyaman dan terbuka terhadap pelaku.

Baca Juga :  Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Terdapat banyak cara yang dilakukan oleh pelaku child grooming, seperti pendekatan interpersonal, memanipulasi, memberikan perhatian berlebihan, serta mendoktrin korban dengan hal-hal yang berbau agama, sosial, bahkan ranah pribadi.

Hal itu perlu diwaspadai oleh orang tua yang mempunyai anak di bawah umur. Sebab, tradisi orang tua yang cukup dekat dengan anak kecil kerap dinormalisasi sebagai kasih sayang. Tetapi, belakangan ini banyak kasus pelecehan, pemerkosaan, hingga child grooming yang terjadi di masyarakat sebab ketidakpekaan orang tua terhadap sikap orang dewasa lain terhadap anaknya.

Biasanya, korban grooming ini sering dikaitkan dengan pola asuh orang tua yang cenderung cuek bahkan membiarkan pergaulannya. Hal ini harus diperhatikan sebab tidak sedikit orang tua yang baru menyadari anaknya sudah menjadi korban child grooming.

Penulis : Wanda Hanifah Pramono

Sumber Berita : Suara.com

Berita Terkait

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Mengubah Rumput Purun Kalimantan Selatan Jadi Produk Modern: Kisah Alexandra Christy dan Gaia Weave Jaga Gambut
Harumkan Nama Indonesia, Widya Esthetic Clinic Banjarmasin Raih Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik 2026
Tak Perlu Mahal, Rahasia Gaya Hidup Hijau Luna Maya Cuma Modal Kebiasaan Kecil
Fenomena Single Life: Saat Perempuan Mulai Nyaman Melajang Tanpa Buru-Buru Cari Pasangan
Awas! Salah Pakai Krim Pencerah Bisa Bikin Flek Hitam Makin Kebiruan
Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:15 WIB

Mengubah Rumput Purun Kalimantan Selatan Jadi Produk Modern: Kisah Alexandra Christy dan Gaia Weave Jaga Gambut

Senin, 28 September 2026 - 04:30 WIB

Harumkan Nama Indonesia, Widya Esthetic Clinic Banjarmasin Raih Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik 2026

Jumat, 18 September 2026 - 08:07 WIB

Tak Perlu Mahal, Rahasia Gaya Hidup Hijau Luna Maya Cuma Modal Kebiasaan Kecil

Minggu, 13 September 2026 - 10:04 WIB

Fenomena Single Life: Saat Perempuan Mulai Nyaman Melajang Tanpa Buru-Buru Cari Pasangan

Rabu, 9 September 2026 - 14:37 WIB

Awas! Salah Pakai Krim Pencerah Bisa Bikin Flek Hitam Makin Kebiruan

Minggu, 6 September 2026 - 16:03 WIB

Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki

Berita Terbaru