Ketika Cinta Dibungkus Kontrol: Mengurai Toxic Masculinity dan Dampak Buruk Patriarki

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang pria maskulin memamerkan tato bertuliskan “I Am Strong” di lengannya. (Pexels/Mike Murray)

Seorang pria maskulin memamerkan tato bertuliskan “I Am Strong” di lengannya. (Pexels/Mike Murray)

1TULAH.COM-Sering kali kita mendengar cerita dalam hubungan asmara yang terasa agak memprihatinkan. Pasangan melarang pergi ke tempat tertentu, mewajibkan kabar setiap saat, hingga menuntut izin untuk sekadar bertemu teman.

Bagi sebagian orang, perilaku ini kerap dimaklumi sebagai bentuk perhatian. “Dia cuma terlalu sayang,” begitu dalih yang paling lazim terdengar. Sayangnya, batas antara rasa sayang dan rasa ingin menguasai kerap mengabur. Ketika seseorang harus terus-menerus melapor dan hidupnya disetir penuh, relasi asmara yang sehat bergeser menjadi hubungan yang penuh ketimpangan kuasa.

Lantas, mengapa ada kecenderungan seseorang—khususnya laki-laki—merasa harus mengontrol pasangannya untuk membuktikan keperkasaannya?

Akar Toxic Masculinity dan Dominasi dalam Relasi Asmara

Fenomena ini erat kaitannya dengan istilah toxic masculinity. Menurut modul “Gender dan Maskulinitas” karangan Aliansi Laki-Laki Baru (2014), laki-laki sejak dini dikonstruksikan oleh lingkungan sosial untuk selalu tampil tegas, keras, berwibawa, pantang menangis, dan berani mengambil risiko. Dalam konteks hubungan, laki-laki dibentuk untuk menjadi sosok pemimpin yang dominan.

Masalah muncul ketika konstruksi ini berubah menjadi tuntutan untuk menguasai. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan perilaku mengontrol pasangan dan ketimpangan kuasa dalam relasi intim sebagai faktor pendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Norma gender yang mempertahankan privilese laki-laki sekaligus membatasi otonomi perempuan turut memperbesar risiko tersebut.

Baca Juga :  Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi

Sikap posesif berlebih bukan sekadar masalah kepribadian, melainkan dampak dari lingkungan patriarkis yang membuat dominasi seolah-olah menjadi hal yang wajar.

Beban Tersembunyi Patriarki bagi Laki-Laki

Patriarki tidak hanya memberi dominasi, tetapi juga menuntut bayaran mahal. Laki-laki yang terbiasa diajarkan bahwa menangis itu cengeng dan meminta bantuan itu memalukan akhirnya kehilangan ruang untuk mengekspresikan kerentanan diri.

Ketika sedang berada di titik terendah, ucapan yang paling sering keluar hanyalah, “Gue aman,” meski kondisi sebenarnya bertolak belakang.

Tuntutan untuk selalu terlihat kuat ini berdampak serius pada kesehatan mental:

  • Tingginya Angka Bunuh Diri: Data Pusiknas Bareskrim Polri mencatat sepanjang Januari–Agustus 2024 terdapat 928 kasus bunuh diri, di mana 714 korban (76,94 persen) di antaranya adalah laki-laki.

  • Fenomena Underreporting: Penelitian dalam The Lancet Regional Health Southeast Asia menemukan bahwa tingkat underreporting kasus bunuh diri di Indonesia diperkirakan mencapai 859,10 persen jika dibandingkan dengan estimasi WHO. Kendati demikian, pola resikonya tetap memperlihatkan bahwa laki-laki memiliki tingkat kematian akibat bunuh diri yang jauh lebih tinggi.

Menolak Bantuan Psikologis akibat Stigma

Sebuah meta-analisis yang terbit pada 2025 menunjukkan bahwa semakin kuat seseorang menginternalisasi toxic masculinity, semakin negatif pula sikapnya terhadap pencarian bantuan profesional. Tuntutan maskulinitas yang kaku berkorelasi langsung dengan tingginya self-stigma ketika hendak berkonsultasi mengenai kesehatan mental.

Meski demikian, menjadi laki-laki yang kuat, tegas, atau bertanggung jawab sejatinya bukan hal yang buruk. Penelitian terbaru pada 2026 mengenai maskulinitas dan kecenderungan bunuh diri (suicidality) menemukan bahwa maskulinitas secara keseluruhan tidak memiliki hubungan signifikan dengan risiko tersebut. Pemicu utamanya terletak pada pembatasan emosi yang ekstrem serta tekanan sosial untuk selalu mengontrol orang lain.

Menjadi Laki-Laki yang Manusiawi

Laki-laki berhak untuk menjadi tegas tanpa harus menjadi penguasa. Laki-laki juga bisa mencintai tanpa perlu mengontrol, serta meluapkan emosi tanpa harus menyakiti orang lain.

Langkah terpenting yang sering kali terabaikan adalah keberanian untuk mengakui kondisi diri sendiri. Mengucapkan kalimat sederhana seperti, “Gue lagi enggak baik-baik saja,” bukanlah tanda kehilangan keperkasaan. Sebaliknya, itu adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang utuh dan sehat secara emosional. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi
Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla
Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax
Prabowo dan Presiden Mesir Sepakati Penguatan Pendidikan: Beasiswa, Riset, hingga Exchange Dosen
Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo
Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia
Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?
Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal
Tag :

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Pembangunan Kabupaten Kapuas Terus Melesat, Ketua Komisi I DPRD Kalteng Berikan Apresiasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:04 WIB

Respons Kabut Asap Lintas Batas: Presiden Prabowo Bahas Tawaran Bantuan Malaysia untuk Penanganan Karhutla

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Ancaman Wacana Revisi UU Hak Cipta: Media Lokal Tolak Sentralisasi LMK dan Risiko Link Tax

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Survei CELIOS: 75% Masyarakat Merasa Stres dengan Kebijakan Pemerintah di 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Benarkah “Belum Makan Kalau Belum Makan Nasi”? Menguak Sejarah Dominasi Beras di Indonesia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Kerusakan Ekologis dan Ancaman Kesehatan: Mengapa Karhutla di Sumatra dan Kalimantan Tak Kunjung Usai?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Bebas dari Ilusi Timeline Hidup: Mengapa Ambil Jeda Bukan Berarti Tertinggal

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Pemkab Mura Harapkan KNPI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah

Berita Terbaru

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Seruyan, Megawati, saat menghadiri penutupan DSEF 2026 di Dermaga Desa Sembuluh II, Kecamatan Danau Sembuluh, Sabtu (10/10/2026).

Seruyan

Pemkab Apresiasi DSEF 2026, Harus Diagendakan Setiap Tahun

Senin, 12 Okt 2026 - 20:13 WIB