Dompet Kosong, Panggung Megah

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kondisi kedaan masyarakat. foto Fahmi

Ilustrasi kondisi kedaan masyarakat. foto Fahmi

Oleh : Fahmi R Kubra

Tertawa Sambil Menangis

Dalam sebuah kartun satire, seorang pegawai pemerintah daerah tampak sibuk mengecat miniatur Mal Pelayanan Publik dan Waterfront City yang berkilau. Semuanya terlihat indah. Masalahnya, panggung tempat miniatur itu berdiri bertumpu di atas dompet raksasa yang kosong.

Di kiri, ibu-ibu pasar menjerit melihat harga beras Rp18.000 per kilogram dan bawang merah Rp75.000 per kilogram. Di kanan, antrean kendaraan mengular menunggu BBM bersubsidi. Di atas langit, awan gelap bertuliskan “Bayang-Bayang PHK” dan “Biaya Hidup Makin Mahal” menggantung seperti notifikasi yang tak bisa dihapus.

Lucunya, kartun itu terasa seperti berita. Atau mungkin, berita kita memang sudah seperti kartun.

Akar Masalah

Persoalan utama daerah penghasil sumber daya alam sering kali bukan kekurangan potensi, melainkan terlalu bergantung pada satu sumber kekuatan. Ketika ekonomi daerah berputar terutama dari batu bara, maka denyut ekonomi lokal ikut bergantung pada harga komoditas, kebijakan pusat, pasar global, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan pemerintah daerah.

Akibatnya muncul paradoks.

Saat sektor tambang sedang bergairah, ekonomi tampak sehat. Warung ramai, kontrakan penuh, kendaraan baru bermunculan. Namun ketika aktivitas melambat, efek domino mulai terasa. Pendapatan turun, konsumsi melemah, lapangan kerja berkurang, dan daya beli masyarakat ikut tertekan.

Selama harga komoditas tinggi, daerah merasa seperti sultan. Jalan ramai, warung penuh, dan optimisme bertebaran di mana-mana. Ketika harga turun, barulah ketahuan bahwa sebagian kemakmuran itu ternyata lebih mirip tamu kontrakan daripada penghuni tetap.

Lima Pertanyaan Penting

Pertama, bagaimana memperkuat sektor non-tambang? Berhenti memandang pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, dan jasa sebagai sektor pelengkap. Justru sektor-sektor inilah yang biasanya bertahan lebih lama dibanding siklus komoditas.

Kedua, bagaimana memperbesar peran UMKM lokal? Jangan hanya menjadikan UMKM sebagai peserta bazar musiman. UMKM perlu akses pasar, pendampingan usaha, kemudahan perizinan, dan prioritas dalam pengadaan barang dan jasa daerah.

Ketiga, bagaimana meningkatkan nilai tambah? Menjual bahan mentah memang mudah. Tetapi nilai ekonomi terbesar justru lahir ketika produk diolah, dikemas, diberi merek, dan dipasarkan.

Keempat, bagaimana menarik investasi? Investasi tidak datang hanya karena ada baliho selamat datang. Investor mencari kepastian, kemudahan, infrastruktur, SDM, dan pasar yang jelas.

Kelima, bagaimana mengurangi ketergantungan? Jawabannya bukan memusuhi sektor tambang. Justru memanfaatkan hasil ekonomi hari ini untuk membangun mesin ekonomi baru yang bisa hidup ketika tambang tidak lagi menjadi aktor utama.

Jalan Keluar

Di sinilah gagasan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL), OVOP, penguatan UMKM, dan kolaborasi pentahelix menjadi relevan.

  1. Pemerintah berperan sebagai pengarah kebijakan.

2. Dunia usaha menjadi penggerak investasi.

3. Perguruan tinggi menghadirkan inovasi.

4. Komunitas menjaga partisipasi.

5. Media membantu membangun narasi dan promosi.

Sementara itu, setiap desa dan kelurahan perlu didorong menemukan produk unggulan khasnya sendiri. Istilah gaulnya One Village One Product (OVOP). Bukan sekadar meniru daerah lain, melainkan mengembangkan kekuatan lokal yang memang dimiliki.

Karena masa depan daerah tidak dibangun oleh satu proyek ikonik, melainkan oleh ribuan pelaku ekonomi kecil yang bergerak setiap hari. Daerah yang tangguh bukanlah daerah yang sedang menikmati harga komoditas tinggi, melainkan daerah yang tetap bergerak ketika harga komoditas turun. Dan justru di situlah makna pembangunan jangka panjang diuji. Wallahu a’lam bish-shawab…

Berita Terkait

Kerugian Masyarakat dan Kompensasi Atas Pemadaman Listrik
Mengenal Oligarki dan Cara Kerjanya
Waspadai Penurunan Fungsi Otak Anak di Era Digital
Polemik Program Makan Bergizi Gratis: Antara Kegembiraan Bocah SD dan Gugatan Mahasiswa
Uang Rakyat untuk Manfaat, Bukan Laba
Pengendalian Inflasi: Jangan Berhenti di Pasar Murah
Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z
Potret IPM Tiga Barito: Antara Piagam dan Realita

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 08:11 WIB

Kerugian Masyarakat dan Kompensasi Atas Pemadaman Listrik

Senin, 29 Juni 2026 - 16:44 WIB

Mengenal Oligarki dan Cara Kerjanya

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:38 WIB

Waspadai Penurunan Fungsi Otak Anak di Era Digital

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:17 WIB

Polemik Program Makan Bergizi Gratis: Antara Kegembiraan Bocah SD dan Gugatan Mahasiswa

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:14 WIB

Dompet Kosong, Panggung Megah

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:04 WIB

Uang Rakyat untuk Manfaat, Bukan Laba

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:22 WIB

Pengendalian Inflasi: Jangan Berhenti di Pasar Murah

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:50 WIB

Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z

Berita Terbaru