Oleh : Fahmi R Kubra
Tertawa Sambil Menangis
Dalam sebuah kartun satire, seorang pegawai pemerintah daerah tampak sibuk mengecat miniatur Mal Pelayanan Publik dan Waterfront City yang berkilau. Semuanya terlihat indah. Masalahnya, panggung tempat miniatur itu berdiri bertumpu di atas dompet raksasa yang kosong.
Di kiri, ibu-ibu pasar menjerit melihat harga beras Rp18.000 per kilogram dan bawang merah Rp75.000 per kilogram. Di kanan, antrean kendaraan mengular menunggu BBM bersubsidi. Di atas langit, awan gelap bertuliskan “Bayang-Bayang PHK” dan “Biaya Hidup Makin Mahal” menggantung seperti notifikasi yang tak bisa dihapus.
Lucunya, kartun itu terasa seperti berita. Atau mungkin, berita kita memang sudah seperti kartun.
Akar Masalah
Persoalan utama daerah penghasil sumber daya alam sering kali bukan kekurangan potensi, melainkan terlalu bergantung pada satu sumber kekuatan. Ketika ekonomi daerah berputar terutama dari batu bara, maka denyut ekonomi lokal ikut bergantung pada harga komoditas, kebijakan pusat, pasar global, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan pemerintah daerah.
Akibatnya muncul paradoks.
Saat sektor tambang sedang bergairah, ekonomi tampak sehat. Warung ramai, kontrakan penuh, kendaraan baru bermunculan. Namun ketika aktivitas melambat, efek domino mulai terasa. Pendapatan turun, konsumsi melemah, lapangan kerja berkurang, dan daya beli masyarakat ikut tertekan.
Selama harga komoditas tinggi, daerah merasa seperti sultan. Jalan ramai, warung penuh, dan optimisme bertebaran di mana-mana. Ketika harga turun, barulah ketahuan bahwa sebagian kemakmuran itu ternyata lebih mirip tamu kontrakan daripada penghuni tetap.
Lima Pertanyaan Penting
Pertama, bagaimana memperkuat sektor non-tambang? Berhenti memandang pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, dan jasa sebagai sektor pelengkap. Justru sektor-sektor inilah yang biasanya bertahan lebih lama dibanding siklus komoditas.
Kedua, bagaimana memperbesar peran UMKM lokal? Jangan hanya menjadikan UMKM sebagai peserta bazar musiman. UMKM perlu akses pasar, pendampingan usaha, kemudahan perizinan, dan prioritas dalam pengadaan barang dan jasa daerah.
Ketiga, bagaimana meningkatkan nilai tambah? Menjual bahan mentah memang mudah. Tetapi nilai ekonomi terbesar justru lahir ketika produk diolah, dikemas, diberi merek, dan dipasarkan.
Keempat, bagaimana menarik investasi? Investasi tidak datang hanya karena ada baliho selamat datang. Investor mencari kepastian, kemudahan, infrastruktur, SDM, dan pasar yang jelas.
Kelima, bagaimana mengurangi ketergantungan? Jawabannya bukan memusuhi sektor tambang. Justru memanfaatkan hasil ekonomi hari ini untuk membangun mesin ekonomi baru yang bisa hidup ketika tambang tidak lagi menjadi aktor utama.
Jalan Keluar
Di sinilah gagasan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL), OVOP, penguatan UMKM, dan kolaborasi pentahelix menjadi relevan.
- Pemerintah berperan sebagai pengarah kebijakan.
2. Dunia usaha menjadi penggerak investasi.
3. Perguruan tinggi menghadirkan inovasi.
4. Komunitas menjaga partisipasi.
5. Media membantu membangun narasi dan promosi.
Sementara itu, setiap desa dan kelurahan perlu didorong menemukan produk unggulan khasnya sendiri. Istilah gaulnya One Village One Product (OVOP). Bukan sekadar meniru daerah lain, melainkan mengembangkan kekuatan lokal yang memang dimiliki.
Karena masa depan daerah tidak dibangun oleh satu proyek ikonik, melainkan oleh ribuan pelaku ekonomi kecil yang bergerak setiap hari. Daerah yang tangguh bukanlah daerah yang sedang menikmati harga komoditas tinggi, melainkan daerah yang tetap bergerak ketika harga komoditas turun. Dan justru di situlah makna pembangunan jangka panjang diuji. Wallahu a’lam bish-shawab…


![Raffi Ahmad sakit [Instagram]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/rafi-sakit-360x200.jpg)





![Ilustrasi Kombes Jules Abraham Abast. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Jules Abraham Abast menanggapi kabar miring dugaan keterlibatan dua oknum perwira Polda Jatim dalam jaringan narkoba internasional. [ANTARA/Rubby Jovan]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/narkoba-jatim-225x129.jpg)
![Ilustrasi kasus dugaan manipulasi ekspor CPO [Suara.com/Emma]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/salim-grup-225x129.jpg)

![Ilustrasi Narkoba [Pexels]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2023/05/IMG_20230502_050830-225x129.jpg)




![Ilustrasi Kombes Jules Abraham Abast. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Jules Abraham Abast menanggapi kabar miring dugaan keterlibatan dua oknum perwira Polda Jatim dalam jaringan narkoba internasional. [ANTARA/Rubby Jovan]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/narkoba-jatim-360x200.jpg)
![Ilustrasi kasus dugaan manipulasi ekspor CPO [Suara.com/Emma]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/06/salim-grup-360x200.jpg)





![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)


