Pengendalian Inflasi: Jangan Berhenti di Pasar Murah

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh : Fahrmi R Kubra

Setiap kali inflasi dibahas, yang paling cepat bergerak di daerah biasanya bukan harga di pasar, melainkan agenda rapatnya. Mulai dari rakor, pasar murah, pembagian bibit cabai, sampai foto simbolis penyerahan bantuan. Semua penting, semua perlu. Tetapi masyarakat mulai bertanya pelan-pelan: “Yang benar-benar turun itu harga barang atau cuma baliho kegiatannya?”

Padahal persoalan inflasi daerah sebenarnya jauh lebih rumit daripada sekadar cabai mahal menjelang hari raya. Secara teori, Milton Friedman dalam Inflation: Causes and Consequences (1963) menjelaskan inflasi terjadi ketika permintaan lebih cepat dibanding kemampuan produksi barang dan jasa. Namun dalam konteks Indonesia, Boediono dalam Ekonomi Moneter (1985) menjelaskan bahwa inflasi daerah sering dipengaruhi distribusilogistik, dan pasokan pangan.

Karena itu, inflasi di Barito Utara tampaknya lebih dekat dengan persoalan ongkos distribusi dan ketergantungan pasokan luar daerah. Ketika BBM naik, distribusi terganggu, atau pasokan terlambat datang, harga kebutuhan pokok langsung ikut “olahraga naik”. Yang paling terasa tentu barang yang dekat dengan dapur masyarakat: beras, cabai, bawang merah, telur, minyak goreng, LPG, dan ongkos angkutan.

Masalahnya, tekanan harga ini datang justru ketika ekonomi daerah mulai melambat. Inflasi nasional Mei 2026 memang relatif terkendali di angka sekitar 2,42 persen (yoy), tetapi Kalimantan Tengah berada di sekitar 3,66 persen dan masuk kelompok inflasi relatif tinggi nasional (peringkat 7). Di sisi lain, ruang fiskal Barito Utara justru sedang menyempit. Dalam berbagai pembahasan RAPBD 2026, muncul proyeksi penurunan dana transfer pusat yang sangat tajam akibat melemahnya sektor tambang. Dana transfer yang sebelumnya sekitar Rp1,7 triliun diperkirakan hanya tersisa sekitar Rp490 miliar pada 2026. APBD yang sebelumnya mencapai sekitar Rp3,1–3,6 triliun diproyeksikan turun menjadi sekitar Rp1,8 triliun, dengan potensi defisit besar yang memaksa pemerintah melakukan efisiensi anggaran.

Baca Juga :  Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z

Artinya, Barito Utara sedang menghadapi kombinasi yang cukup berat: inflasi daerah masih relatif tinggi, tetapi kemampuan fiskal pemerintah dan daya beli masyarakat mulai melemah. Dan biasanya, kondisi seperti ini lebih sensitif dibanding sekadar inflasi tinggi biasa. Sebab masyarakat mulai menahan belanja, sementara harga kebutuhan pokok belum benar-benar ikut turun.

Dalam berbagai analisis ekonomi komoditas sekitar 2012–2015, Muhammad Chatib Basri juga mengingatkan bahwa daerah berbasis sumber daya alam (seperti tambang) sering tampak tumbuh cepat saat boom komoditas, tetapi rapuh ketika sektor ekstraktif melemah karena kurangnya diversifikasi ekonomi. Situasi ini terlihat cukup relevan dengan kondisi Barito Utara hari ini. Ketika produksi tambang turun dan DBH ikut menurun, ekonomi lokal ikut kehilangan tenaga. Sementara itu, struktur inflasi daerah masih bergantung pada distribusi barang dari luar wilayah. Akibatnya, masyarakat bisa mengalami double hit: pendapatan melambat, tetapi biaya hidup makin mahal.

Baca Juga :  Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z

Dalam konteks tersebut, program seperti Gerakan Pangan Murah On The Road (GEPAMOR) sebenarnya tetap relevan sebagai intervensi jangka pendek. Masyarakat memang terbantu. Namun pasar murah tidak bisa menjadi “solusi tunggal” pengendalian inflasi. Sebab operasi pasar pada dasarnya hanya meredam gejala sementara, bukan menyelesaikan akar masalah.

Padahal kerangka regulasinya sudah cukup jelas melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2017 dan konsep 4K dari Bank Indonesia, yaitu: 1) keterjangkauan harga, 2) ketersediaan pasokan, 3) kelancaran distribusi, dan 4) komunikasi efektif. Sayangnya, di banyak daerah, yang paling lancar kadang justru baru komunikasi efektifnya saja 🙂.

Karena itu, pengendalian inflasi daerah perlu naik kelas: bukan sekadar pasar murah dan seremoni, tetapi mulai serius membenahi distribusimemperkuat pangan lokalmengurangi ketergantungan pasokan luar daerahmemperbaiki logistik, serta mendorong diversifikasi ekonomi pasca tambang.

Apalagi ketika fiskal daerah mulai mengalami “gunting fiskal”, ruang intervensi pemerintah otomatis ikut menyempit. Kalau tidak ada perubahan strategi ekonomi, pemerintah bisa semakin sibuk menjaga statistik, sementara masyarakat semakin sibuk menjaga isi dompet.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli berapa kali rakor inflasi dilakukan di hotel atau aula ber-AC. Yang mereka pedulikan sederhana: apakah harga kebutuhan pokok masih masuk akal ketika dompet dibuka di tengah ekonomi yang mulai melambatWallahu a’lam bish-shawab…

Berita Terkait

Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z
Potret IPM Tiga Barito: Antara Piagam dan Realita
Barito Utara 2026: Badai “Double Hit” dan Ancaman Resesi Lokal
Penting, Mendesak, dan Ada Dananya
Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan
Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan
Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik
UMK Barito Utara Tertinggi se-Kalteng: Berkah atau Bencana?

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:22 WIB

Pengendalian Inflasi: Jangan Berhenti di Pasar Murah

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:50 WIB

Terjebak Kepuasan Instan: Sisi Gelap Paylater dan Tekanan Tren Medsos bagi Gen Z

Rabu, 13 Mei 2026 - 06:05 WIB

Potret IPM Tiga Barito: Antara Piagam dan Realita

Senin, 11 Mei 2026 - 07:17 WIB

Barito Utara 2026: Badai “Double Hit” dan Ancaman Resesi Lokal

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:06 WIB

Penting, Mendesak, dan Ada Dananya

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:19 WIB

Piala Penghargaan Bukan Akhir Perjuangan

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:36 WIB

Hari Buruh 2026: Menguak Realita Beban Berlapis dan Ketimpangan Upah Pekerja Perempuan

Kamis, 30 April 2026 - 08:26 WIB

Micro-Solar: Peluang Strategis di Tengah Krisis Iklim dan Geopolitik

Berita Terbaru

Ilustrasi Sabu. [Antara]

Nasional

Polisi Bekuk Empat Terduga Pengguna Sabu di Kota Palu Sulteng

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:30 WIB

Ilustrasi

Opini

Pengendalian Inflasi: Jangan Berhenti di Pasar Murah

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:22 WIB

Foto Ketua Komisi III DPRD Barito Utara, H. Tajeri

DPRD BARUT

Ketua Komisi III Apresiasi Barito Utara Raih Juara Umum FBIM 2026

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:12 WIB