Dapur Program Makan Bergizi Gratis Ikut Menjerit Akibat Rupiah Melemah

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.800 per dolar AS memicu kenaikan harga bahan makanan, deterjen, popok, ponsel hingga mobil. [Suara.com/Alfian Winanto]

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.800 per dolar AS memicu kenaikan harga bahan makanan, deterjen, popok, ponsel hingga mobil. [Suara.com/Alfian Winanto]

1TULAH.COM-Perekonomian domestik tengah menghadapi tantangan berat di paruh pertama tahun 2026. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merosot hingga menyentuh angka Rp17.850 per dolar AS. Angka ini mencatatkan rekor terendah dalam sejarah keuangan Indonesia.

Dampak dari pelemahan kurs ini tidak lagi sekadar angka di papan bursa, melainkan sudah mulai menggerogoti dompet masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Karena mayoritas industri di Indonesia masih mengandalkan bahan baku impor, badai kenaikan harga (imported inflation) kini tak lagi bisa dihindari.

Daftar Sektor dan Harga Barang yang Mulai Melonjak

Efek domino dari jatuhnya nilai tukar Rupiah menjalar ke berbagai sektor strategis, mulai dari urusan dapur hingga gaya hidup. Berikut adalah rincian sektor yang paling terdampak:

1. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) & Pangan Rakyat

Program ketahanan pangan dan gizi nasional kini berada dalam posisi sulit. Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makanan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) mengungkapkan bahwa biaya produksi makanan melonjak tajam akibat ketergantungan pada komoditas impor seperti susu, gandum, kedelai, dan minyak nabati.

  • Tempe dan Tahu: Komoditas sejuta umat ini ikut terdampak parah karena bahan baku utamanya, kedelai, dibeli menggunakan dolar.

  • Siasat Perajin: Di Yogyakarta, perajin terpaksa bertahan di tengah harga kedelai yang melonjak Rp2.000 per kg menjadi Rp11.000 per kg. Sementara di Lebak, Banten, harga kedelai meroket dari Rp300.000 menjadi Rp545.000 per 50 kg. Perajin tahu seperti Mad Soleh (58) terpaksa memperkecil ukuran produk agar tidak gulung tikar.

2. Produk Konsumsi Harian (Fast Moving Consumer Goods)

Raksasa kebutuhan rumah tangga asal Jepang, KAO Indonesia, telah mengumumkan rencana kenaikan harga produk per Semester II 2026. Produk terdampak meliputi sabun Biore, deterjen Attack, pembalut Laurier, hingga popok bayi Merries.

Mengapa deterjen naik? Bahan baku utama deterjen menggunakan nafta dan turunan minyak bumi yang seluruhnya diimpor dari Timur Tengah, di mana wilayah tersebut juga tengah dilanda konflik geopolitik.

3. Gadget dan Elektronik

Membeli ponsel pintar (smartphone) kini membutuhkan anggaran lebih besar. Menurut lembaga riset Counterpoint, harga ponsel di Indonesia diproyeksikan naik antara 7% hingga 36% tahun ini. Kenaikan dipicu oleh krisis cip memori global sejak akhir 2025 dan diperparah oleh kurs dolar. Imbasnya, ponsel murah di bawah Rp2 juta kini semakin langka di pasaran.

Baca Juga :  Cegah Konflik Kepentingan, Kejagung Bentuk Tim Khusus Sidik Kasus Febrie Adriansyah

4. Sektor Otomotif

Harga mobil baru diramalkan akan merangkak naik sebesar 2% hingga 4% pada paruh kedua tahun 2026. Meskipun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan pabrikan masih menahan harga demi menjaga momentum penjualan, kenaikan dinilai tinggal menunggu waktu.

Sinyal Bahaya: Manufaktur Indonesia Masuk Zona Kontraksi

Melonjaknya biaya produksi akibat pelemahan Rupiah memukul telak industri manufaktur dalam negeri. Data dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menunjukkan penurunan performa yang signifikan:

Indikator Ekonomi Februari 2026 April 2026 Status
Purchasing Managers’ Index (PMI) 53,8 49,1 Kontraksi (< 50)

Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyebutkan bahwa 70% impor Indonesia didominasi oleh bahan baku dan komponen industri. Ketika Rupiah melemah, biaya manufaktur domestik otomatis membengkak.

Baca Juga :  Sinode Umum XXV GKE Perkuat Pelayanan dan Persaudaraan di Kalimantan

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal—mengingat sektor seperti industri tekstil saja menyerap 3,76 juta tenaga kerja—CORE Indonesia mengusulkan tiga langkah taktis jangka pendek untuk pemerintah:

  • Relaksasi Bea Masuk: Memberikan keringanan pajak impor untuk bahan baku strategis.

  • Percepatan Restitusi Pajak: Mempercepat pengembalian kelebihan pajak untuk menjaga arus kas (cash flow) perusahaan.

  • Subsidi Input: Memberikan bantuan insentif bagi industri manufaktur yang sehat namun tertekan biaya operasional.

Solusi Jangka Panjang: Hilirisasi dan Efisiensi

Dalam jangka panjang, pemerintah berkomitmen memperkuat struktur industri melalui investasi hilirisasi senilai Rp3.800 triliun pada sektor-sektor kunci seperti petrokimia berbasis nafta, besi, baja, dan tekstil. Langkah ini diharapkan mampu memutus ketergantungan pada bahan baku impor.

Di sisi lain, Ketua Umum PP APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menekankan pentingnya efisiensi pada jalur distribusi logistik, khususnya untuk program negara seperti Makan Bergizi Gratis.

“Efisiensi hari distribusi menjadi langkah preventif agar kualitas program tetap terjaga. Jika tidak dilakukan sekarang, risiko yang muncul bukan hanya pembengkakan defisit anggaran, tetapi juga potensi penurunan kualitas gizi makanan yang diterima anak-anak,” tegasnya.

Pelemahan Rupiah hingga Rp17.850 per Dolar AS menjadi alarm keras bagi perekonomian Indonesia di tahun 2026. Sinergi antara kebijakan penyelamatan industri dari pemerintah, langkah efisiensi pengelolaan program negara, serta adaptasi pelaku usaha lokal menjadi kunci utama agar daya beli masyarakat tidak semakin terpuruk.

Bagaimana pendapat Anda mengenai kenaikan harga barang-barang di sekitar Anda belakangan ini? Kebutuhan apa yang paling terasa kenaikannya? (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!
Dominasi Mutlak! 7 Rekor Mentereng Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026
Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak
DPRD Kalteng Minta Aparat Sikat Perusahaan Terindikasi Picu Karhutla
Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK
Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD
Komisi II DPR Wacanakan Penerapan KPI Mengikat, ASN Tidak Produktif Siap-siap Out!
Ranperda TJSLB Jadi Payung Hukum Kemitraan Pemerintah dan Dunia Usaha
Tag :

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 07:02 WIB

Paredes Cekik Eric Garcia dan Dorong Gavi, Final Piala Dunia 2026 Nyaris Baku Hantam!

Senin, 20 Juli 2026 - 06:53 WIB

Dominasi Mutlak! 7 Rekor Mentereng Spanyol Usai Juara Piala Dunia 2026

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:36 WIB

Heriyus: Peningkatan Mutu Pendidikan Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:42 WIB

Miris! Belum Dua Tahun Menjabat, 15 Kepala Daerah Ini Sudah Jadi Tersangka KPK

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:48 WIB

Bentengi Generasi Muda, Kemenag Siapkan Materi Bahaya LGBTQ Sejak Jenjang SD

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:36 WIB

Komisi II DPR Wacanakan Penerapan KPI Mengikat, ASN Tidak Produktif Siap-siap Out!

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:45 WIB

Ranperda TJSLB Jadi Payung Hukum Kemitraan Pemerintah dan Dunia Usaha

Jumat, 17 Juli 2026 - 16:44 WIB

Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong: Ritual Tiwah adalah Benteng Pertahanan Budaya Dayak

Berita Terbaru