Indonesia Belum Masuk Daftar “Aman” Iran, Stok BBM Nasional Terancam?

- Jurnalis

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengendara mengisi BBM di sebuah SPBU di Setiabudi, Jakarta Selatan. [Suara.com/Alfian Winanto]

Pengendara mengisi BBM di sebuah SPBU di Setiabudi, Jakarta Selatan. [Suara.com/Alfian Winanto]

1TULAH.COM-Eskalasi ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengancam stabilitas logistik global. Pemerintah Iran secara resmi menegaskan bahwa mereka tidak melakukan penutupan total terhadap Selat Hormuz, jalur nadi energi paling vital di dunia. Namun, Teheran kini memperkenalkan kebijakan “navigasi selektif”.

Kebijakan ini memberikan hak eksklusif lintas selat hanya kepada negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dan strategis kuat dengan Iran. Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran mempertegas posisi tawarnya sebagai “regulator energi” dunia yang mampu menentukan kelancaran pasokan minyak dan gas internasional.

Daftar 5 Negara yang Mendapat “Lampu Hijau” Iran

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini hanya ada lima negara utama yang diberikan jaminan keamanan penuh untuk melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan:

  1. Tiongkok

  2. Rusia

  3. India

  4. Pakistan

  5. Irak

Belakangan, Bangladesh juga dikabarkan tengah melakukan komunikasi intensif untuk masuk dalam daftar “aman” tersebut. Teheran menjanjikan perlindungan militer bagi kapal-kapal dari negara sekutu ini.

“Banyak pemilik kapal dan otoritas negara telah menghubungi kami untuk memastikan perjalanan aman mereka melalui selat tersebut,” ujar Araghchi (26/3/2026).

Posisi Dilematis Indonesia: Terjepit di Antara Blok Barat dan BRICS

Bagaimana dengan posisi Indonesia? Situasi saat ini tergolong cukup menantang bagi diplomasi ekonomi Jakarta. Meskipun Indonesia sempat menunjukkan ketertarikan bergabung dengan BRICS, belakangan arah kebijakan luar negeri Indonesia dinilai cenderung mendekat ke Amerika Serikat.

Baca Juga :  Refleksi 30 Tahun Kudatuli, Megawati sebut Peristiwa 27 Juli Simbol Melawan Ketidakadilan

Partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP)—inisiasi era Donald Trump yang juga melibatkan Israel—membuat posisi Indonesia belum masuk dalam daftar pengecualian akses Iran di Selat Hormuz.

Dampak Langsung: Kapal Pertamina Tertahan

Ketidakpastian ini berdampak nyata pada ketahanan energi nasional. Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina (Persero), yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di perairan Teluk Arab. Hingga pertengahan Maret 2026, kedua armada ini belum mendapatkan izin melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan tujuan.

Badai Kenaikan Harga BBM di Asia Tenggara

Tersendatnya jalur Hormuz telah memicu efek domino yang sangat berat di kawasan ASEAN. Beberapa negara tetangga mulai melakukan penyesuaian harga BBM secara drastis:

Iran bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa jika perang dengan AS dan Israel terus berlanjut, harga minyak dunia diprediksi bisa meroket hingga 200 dolar AS per barel.

Tantangan Domestik: Rupiah Melemah dan Beban APBN

Di dalam negeri, tekanan tidak hanya datang dari sisi suplai, tetapi juga moneter. Menjelang akhir Maret 2026, nilai tukar Rupiah terdepresiasi ke level Rp16.997 per dolar AS, yang secara otomatis membengkakkan biaya impor migas.

Kondisi fiskal juga berada dalam sorotan:

  • Defisit APBN (Januari 2026): Tercatat Rp54,6 triliun (0,21% dari PDB).

  • Belanja Negara: Mencapai Rp227,3 triliun.

  • Efisiensi Program: Muncul usulan penghematan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi jumbo Rp335 triliun, dengan mengurangi frekuensi pelaksanaan dari 6 hari menjadi 5 hari per minggu guna menjaga ruang fiskal.

Kebijakan navigasi selektif Iran di Selat Hormuz bukan sekadar masalah militer, melainkan senjata ekonomi yang mulai memukul lambung kapal-kapal logistik Indonesia.

Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit: melakukan renegosiasi diplomatik dengan Teheran atau menanggung risiko krisis energi yang lebih dalam. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

M. Kiandra Ramadhipa Bidik Puncak Klasemen Moto3 Junior World Championship 2026 di Magny-Cours
BUMD Kalteng Dituntut Dikelola Profesional demi Perkuat Kemandirian Fiskal
Indonesia dan Turki Perkuat Sektor Ketenagakerjaan dan Pelindungan Pekerja Migran
Mitos “Agent of Change” dan Fenomena KKN Influencer: Saat Pengabdian Mahasiswa Bertumbal Algoritma
MK Larang Sisa Kuota Internet Hangus: Hak Milik Konsumen dan Kebijakan Baru Operator
Kasus TPPU Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah: Resmi Ditahan di Rutan KPK Selama 20 Hari
Pemkab Murung Raya Perkuat Komitmen Tingkatkan Kompetensi Guru dan Kepala Sekolah
Pemkab Murung Raya Perkuat Upaya Pencegahan Stunting Melalui Edukasi Remaja
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 04:43 WIB

M. Kiandra Ramadhipa Bidik Puncak Klasemen Moto3 Junior World Championship 2026 di Magny-Cours

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:14 WIB

BUMD Kalteng Dituntut Dikelola Profesional demi Perkuat Kemandirian Fiskal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:14 WIB

Mitos “Agent of Change” dan Fenomena KKN Influencer: Saat Pengabdian Mahasiswa Bertumbal Algoritma

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:04 WIB

MK Larang Sisa Kuota Internet Hangus: Hak Milik Konsumen dan Kebijakan Baru Operator

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:57 WIB

Kasus TPPU Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah: Resmi Ditahan di Rutan KPK Selama 20 Hari

Jumat, 24 Juli 2026 - 23:26 WIB

Pemkab Murung Raya Perkuat Komitmen Tingkatkan Kompetensi Guru dan Kepala Sekolah

Jumat, 24 Juli 2026 - 23:23 WIB

Pemkab Murung Raya Perkuat Upaya Pencegahan Stunting Melalui Edukasi Remaja

Jumat, 24 Juli 2026 - 04:11 WIB

Prabowo Meyakini Kesamaan Pandangan dengan PDIP: Hatinya Sebetulnya Sama dengan Kita

Berita Terbaru