Ekonomi Israel di Ambang Resesi! Perang Lawan Iran Telan Biaya Rp45 Triliun per Minggu

- Jurnalis

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Netanyahu. (Al Jazeera)

Netanyahu. (Al Jazeera)

1TULAH.COM-Kondisi finansial Israel berada dalam titik kritis. Kementerian Keuangan Israel baru saja merilis laporan suram yang menggambarkan dampak destruktif dari eskalasi perang udara melawan Iran yang kian memanas di awal tahun 2026 ini.

Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan pada Rabu (4/3/2026), kerugian ekonomi negara tersebut diperkirakan menembus angka 9,4 miliar shekel atau setara Rp45,12 triliun setiap minggunya. Lonjakan kerugian ini merupakan imbas langsung dari lumpuhnya aktivitas domestik akibat serangan militer.

Dampak Status “Merah” Home Front Command

Tingginya angka kerugian ini bukan tanpa alasan. Home Front Command Israel telah menetapkan status siaga tertinggi atau kategori “Merah”. Status ini membawa konsekuensi berat bagi roda ekonomi, di antaranya:

  • Penutupan Total Institusi Pendidikan: Seluruh sekolah dan universitas berhenti beroperasi.

  • Pembatasan Mobilitas: Warga dilarang beraktivitas di luar rumah kecuali untuk urusan darurat.

  • Mobilisasi Pasukan Cadangan: Penarikan besar-besaran tenaga kerja dari sektor produktif (teknologi, manufaktur, dan jasa) ke garis depan peperangan.

  • Lumpuhnya Sektor Swasta: Aktivitas perkantoran dilarang kecuali layanan esensial, memaksa sistem Work From Home (WFH) yang menurunkan produktivitas industri berat.

Baca Juga :  KPK Sita Barang Bukti Senilai Rp21,2 Miliar dalam Kasus OTT Bupati Sukoharjo

Dilema “Merah” ke “Oranye”: Upaya Menekan Kebangkrutan

Menghadapi potensi kebangkrutan sistemik, Kementerian Keuangan Israel dilaporkan mendesak pihak keamanan untuk segera menurunkan status pembatasan menjadi “Oranye” (Aktivitas Terbatas).

Perubahan status ini dianggap sebagai “napas buatan” bagi ekonomi. Jika transisi ke status “Oranye” berhasil dilakukan, tempat kerja diizinkan beroperasi dengan protokol tertentu, dan estimasi kerugian diprediksi bisa ditekan hingga 4,3 miliar shekel (sekitar Rp20,6 triliun) per minggu.

Catatan Penting: Keputusan penurunan status ini sepenuhnya bergantung pada intensitas serangan balasan dari wilayah Iran dan sekutunya. Selama ancaman udara masih tinggi, transisi ke ekonomi “Oranye” sulit terwujud.

Kronologi Eskalasi: AS, Israel, dan Iran

Konflik terbuka ini bermula pada Sabtu pekan lalu melalui serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran. Aksi tersebut memicu gelombang balasan yang menghantam berbagai titik di Israel dan kawasan Timur Tengah.

Baca Juga :  Buntut Kalimat Kontroversial Usai Sidang Chromebook, Izin Praktik Pengacara Nadiem Terancam Dicabut

Dampak dari perang ini tidak hanya bersifat lokal. Dunia internasional kini waspada terhadap:

  1. Gangguan Jalur Ekspor Energi: Ketegangan di kawasan Teluk mengancam stabilitas harga minyak dunia.

  2. Durasi Konflik: Pejabat senior AS dan Israel memperingatkan bahwa kampanye militer ini bisa berlangsung selama berpekan-pekan, bukan hitungan hari.

Proyeksi Ekonomi 2026: Dari Optimisme ke Jurang Resesi

Ironisnya, perang ini pecah saat ekonomi Israel sedang dalam tren pemulihan. Berikut adalah perbandingan data pertumbuhan ekonomi Israel:

Periode Status Ekonomi Pertumbuhan (GDP)
2025 Pasca Konflik Gaza 3,1% (Tumbuh)
Awal 2026 (Proyeksi) Gencatan Senjata Okt > 5% (Optimistis)
Maret 2026 (Realita) Perang Lawan Iran Ancaman Resesi

Padahal, para analis semula memprediksi tahun 2026 akan menjadi tahun keemasan ekonomi Israel pasca gencatan senjata Oktober lalu.

Namun, dengan biaya perang yang mencapai puluhan triliun per minggu, harapan tersebut kini pupus dan berganti dengan kekhawatiran akan krisis finansial jangka panjang. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Buka Turnamen Futsal PWI se-DAS Barito, Wabup Rahmanto:  Perkuat Solidaritas Insan Pers 
KPK Sita Barang Bukti Senilai Rp21,2 Miliar dalam Kasus OTT Bupati Sukoharjo
Usut Tuntas Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Komisi III DPR Resmi Bentuk Panja Mega Korupsi
Kawal Pemerataan Pembangunan hingga Desa, DPRD Kalteng Soroti Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025
Babak Baru Kasus Asabri: Kortastipidkor Polri Tetapkan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah dan DR Sebagai Tersangka
Prancis Tembus Semifinal Piala Dunia, Laga Pembuka Barcelona di La Liga 2026-2027 Resmi Ditunda!
Bongkar Modus Korupsi Bupati Sukoharjo: Potong Insentif Pegawai 40% dan Lanjutkan ‘Tradisi’ Suami
Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Kejagung Tegaskan Proses Hukum Tetap Jalan
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 15:29 WIB

Buka Turnamen Futsal PWI se-DAS Barito, Wabup Rahmanto:  Perkuat Solidaritas Insan Pers 

Minggu, 12 Juli 2026 - 11:41 WIB

KPK Sita Barang Bukti Senilai Rp21,2 Miliar dalam Kasus OTT Bupati Sukoharjo

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:53 WIB

Usut Tuntas Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Komisi III DPR Resmi Bentuk Panja Mega Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:39 WIB

Kawal Pemerataan Pembangunan hingga Desa, DPRD Kalteng Soroti Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Sabtu, 11 Juli 2026 - 16:22 WIB

Babak Baru Kasus Asabri: Kortastipidkor Polri Tetapkan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah dan DR Sebagai Tersangka

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:24 WIB

Prancis Tembus Semifinal Piala Dunia, Laga Pembuka Barcelona di La Liga 2026-2027 Resmi Ditunda!

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:04 WIB

Bongkar Modus Korupsi Bupati Sukoharjo: Potong Insentif Pegawai 40% dan Lanjutkan ‘Tradisi’ Suami

Sabtu, 11 Juli 2026 - 08:43 WIB

Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Kejagung Tegaskan Proses Hukum Tetap Jalan

Berita Terbaru