Pasar Global Siaga! Konflik Iran-AS Ancam 20% Pasokan Minyak Dunia

- Jurnalis

Minggu, 1 Maret 2026 - 07:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kilang minyak. [Antara]

Ilustrasi kilang minyak. [Antara]

1TULAH.COM-Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Serangan udara gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran telah memicu reaksi keras dari Teheran.

Balasan rudal Iran ke berbagai titik strategis di kawasan Teluk kini mengancam jalur ekspor minyak paling vital di planet ini.

Kawasan yang terdampak merupakan jantung produksi energi dunia yang menyumbang sekitar 20% dari total pasokan minyak global. Meskipun skala kerusakan fisik masih terus dievaluasi, ketidakpastian dan risiko keamanan yang tinggi sudah cukup untuk melumpuhkan arus distribusi energi dari Timur Tengah.

Harga Minyak Brent Bersiap Lonjak di Awal Pekan

Investor dan pelaku pasar global kini dalam posisi siaga tinggi. Ron Busso, dalam laporan analisisnya via Reuters, memprediksi kenaikan harga minyak yang sangat tajam saat perdagangan dibuka pada Senin pagi, 2 Maret 2026.

Sebelum serangan ini pecah, harga minyak mentah patokan Brent sebenarnya sudah merangkak naik ke level $70 per barel—titik tertinggi sejak Agustus 2025. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya tensi militer yang terjadi selama beberapa pekan terakhir.

Pernyataan Donald Trump Terkait Operasi Militer

Presiden AS, Donald Trump, memberikan pernyataan tegas mengenai keterlibatan Washington dalam serangan ini.

“Operasi militer ini bertujuan untuk menghapus ancaman keamanan bagi Amerika Serikat serta memberikan kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengganti kepemimpinan mereka,” ujar Trump pada Minggu (1/3/2026).

Baca Juga :  Gugat Legitimasi Paus Leo XIV, Donald Trump Picu Kemarahan Internasional dan Kecaman Iran

Dampak Nyata di Kawasan Teluk: Dari Ledakan Hingga Intersepsi

Langkah militer ini membawa konsekuensi ekonomi dan keamanan yang nyata bagi negara-negara tetangga:

  • Ledakan di Uni Emirat Arab dan Kuwait: Laporan ledakan muncul dari dua negara produsen minyak utama ini, memicu kekhawatiran akan serangan infrastruktur energi.

  • Intersepsi Rudal di Qatar: Qatar, sebagai eksportir LNG terbesar kedua di dunia, melaporkan berhasil mencegat rudal yang diarahkan ke wilayah kedaulatan mereka.

  • Target Infrastruktur Iran: Ledakan terdengar di dekat Pulau Kharg, terminal yang menangani 90% ekspor minyak Iran. Namun, Teheran dilaporkan telah memindahkan sebagian besar cadangannya ke kapal tanker beberapa hari sebelum serangan dimulai sebagai langkah antisipasi.

Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai penutupan fisik di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui hampir 20 juta barel minyak per hari. Namun, ancaman keamanan saja sudah cukup untuk menghentikan operasional perdagangan secara psikologis.

Logistik Global Terganggu: Biaya Pengiriman Melonjak 300%

Dampak langsung dari krisis ini dirasakan oleh perusahaan minyak raksasa dan rumah dagang internasional.

Banyak dari mereka telah memutuskan untuk menangguhkan pengiriman melalui Selat Hormuz selama beberapa hari ke depan demi menghindari risiko kapal tanker terjebak atau menjadi sasaran serangan.

Kondisi ini menyebabkan biaya pengiriman (freight rates) melonjak drastis. Tarif kapal tanker raksasa (VLCC) dari Timur Tengah menuju China dilaporkan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal tahun ini.

Mampukah Pasokan Global Menahan Guncangan?

Meski situasi mencekam, pasar minyak global sebenarnya berada dalam posisi yang relatif cukup pasokan. Hal ini berkat peningkatan produksi dari Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada dalam beberapa tahun terakhir.

Arab Saudi juga mengambil peran kunci dalam menstabilkan pasar. Berdasarkan data Kpler, ekspor minyak Saudi pada Februari diprediksi melampaui 7 juta barel per hari, level tertinggi sejak April 2023. Selain itu, aliansi OPEC+ (termasuk Rusia) dijadwalkan bertemu hari Minggu ini untuk menyepakati peningkatan produksi guna meredam volatilitas harga.

Prediksi ke Depan: Perang Berkepanjangan?

Skala serangan gabungan AS-Israel serta retorika keras yang dilontarkan Donald Trump mengindikasikan bahwa Washington sedang bersiap untuk kampanye militer berkelanjutan. Tujuannya tampaknya tidak hanya sekadar peringatan, melainkan upaya untuk melemahkan kepemimpinan Iran secara permanen. Dunia kini menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang, ataukah krisis energi global yang lebih besar sedang di depan mata. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan
Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS
Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat
Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak
Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi
Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!
Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’
Murung Raya Evaluasi Program 15 Desa Prioritas Stunting
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 19:04 WIB

GOW Murung Raya Gelar Lomba Kebaya, Puluhan Lansia Unjuk Kebolehan

Selasa, 21 April 2026 - 18:35 WIB

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 April 2026 - 13:40 WIB

Polisi Tangkap Mahasiswa jadi Operator Judi Online Slot di Jakarta Pusat

Selasa, 21 April 2026 - 12:49 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis per April 2026: Cek Daftar Mobil yang Terdampak

Selasa, 21 April 2026 - 09:41 WIB

Bantah Intimidasi, Istri Eks Wamenaker Noel Akan Laporkan Irvian Bobby ke Polisi

Selasa, 21 April 2026 - 05:57 WIB

Klasemen BRI Super League 2025/2026: Borneo FC Tempel Ketat Persib, Selisih Kini Hanya 2 Poin!

Selasa, 21 April 2026 - 05:47 WIB

Harga BBM & LPG Nonsubsidi Naik: Strategi Efisiensi Pengusaha hingga Fenomena Porsi Makan yang ‘Menciut’

Senin, 20 April 2026 - 21:36 WIB

Murung Raya Evaluasi Program 15 Desa Prioritas Stunting

Berita Terbaru

Perwakilan karyawan PT AKT usai audiensi dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Murung Raya di Puruk Cahu, Senin (20/4/2026).

Berita

Tertunda, Karyawan PT AKT Desak Pembayaran Gaji dan Hak BPJS

Selasa, 21 Apr 2026 - 18:35 WIB