1TULAH.COM, Muara Teweh – Pemkab Barito Utara (Barut), Kalteng, akan memprioritaskan pembangunan jembatan bailey di setiap kecamatan, guna mempercepat pembukaan akses dan membuka konektivitas di berbagai wilayah di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan.
Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong kesejahteraan masyarakat desa, selaras dengan visi misi Bupati H Salahuddin dan Wakil Bupati Felix Sonadie Y Tingan.
Bupati H Shalahuddin mengatakan, inovasi yang dikembangkan terkait penggunaan jembatan bailey merupakan kebijakan strategis dalam rangka menjawab kebutuhan pembangunan jembatan yang sangat mendesak, secara bertahap penanganan akan dilakukan penyesuaian dengan kebutuhan.
Sementara, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Barut, Muhammad Iman Topik, melalui Kepala Bidang Bina Marga, Subiyantoro menjelaskan jenis jembatan ini dipilih karena lebih ekonomis dan efisien.
“Dibandingkan dengan jembatan permanen, jembatan bailey menawarkan penghematan anggaran yang signifikan,” ungkap Subiyantoro, Selasa, 20 Januari 2026.
Subi menerangkan, satu jembatan permanen dengan bentang 30 meter dan tonase tertentu bisa menelan biaya Rp 9 miliar hingga Rp 12 miliar.
“Sementara jembatan bailey dengan spesifikasi serupa hanya membutuhkan anggaran Rp 2 miliar, dengan biaya pelaksanaan sekitar Rp 300 juta saja,” terangnya.
Meski lebih murah, dia bilang, kemampuan jembatan bailey tidak kalah. Jembatan ini dapat menahan beban yang setara, yaitu 10 hingga 20 ton, sehingga mampu melayani kebutuhan angkutan masyarakat dan logistik.
Selain itu, Subi berkata fleksibilitas menjadi keunggulan lain. Jembatan tipe Double SR 30 dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokasi.
“Jika di suatu lokasi hanya membutuhkan bentang 10 meter, komponen dari satu unit Double SR 30 itu bisa dibagi untuk membangun dua atau bahkan tiga jembatan di titik yang berbeda,” katanya.
Selain itu, dia menjelaskan jumlah jembatan bailey yang disiapkan PUPR sebanyak 10 set dengan spesifikasi yang berbeda, yaitu 5 set double SR 30 meter, 4 set single SR 30 meter, jembatan bailey khusus roda dua SR 50 meter dengan total anggaran sebesar Rp 20,7 miliar.
“Untuk jembatan bailey khusus roda dua akan dipasang di pemukiman yang tidak memungkinkan dilewati mobil,” jelas Subi.
Rencananya, setiap kecamatan di Barut akan mendapatkan setidaknya dua titik jembatan bailey. Dengan hal ini diharapkan dapat segera menghubungkan wilayah-wilayah yang belum terkonektivitas, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.
“Dengan adanya jembatan ini, konektivitas desa dapat segera teratasi. Masyarakat bisa lebih mudah mengakses pusat layanan dan memasarkan hasil bumi, sehingga kesejahteraan yang diinginkan pimpinan daerah dapat segera terwujud,” tuntasnya.
Editor: Aprie





![Pengabdian Tasya Kamila sebagai alumi mahasiswi LPDP dianggap tidak maksumal. [Instagram/tasyakamila]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/02/tasya-kamila-360x200.jpg)















