1TULAH.COM-Selama ini, diskusi mengenai krisis iklim sering kali terpusat pada sektor kendaraan, industri, dan pembangkit listrik sebagai penghasil utama emisi karbon. Namun, riset terbaru telah menggeser fokus itu ke ranah yang lebih personal dan dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan yang kita konsumsi.
Setiap produk pangan, mulai dari sepotong daging sapi di meja makan hingga minuman manis kemasan, ternyata meninggalkan jejak karbon yang signifikan bagi bumi. Kini, para ilmuwan mengusulkan sebuah pendekatan radikal namun sederhana: mengenakan pajak pada makanan yang paling mencemari lingkungan dan menghapus pajak bagi pangan yang lebih ramah iklim.
Mengapa Makanan Perlu Dipajaki? Perspektif Baru Emisi Karbon
Sektor pertanian global, terutama yang berkaitan dengan produksi daging, merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca yang sangat besar. Produksi daging, khususnya sapi dan domba, memerlukan lahan luas, penggunaan energi, dan menghasilkan gas metana yang tinggi.
Penelitian dari Chalmers University of Technology menemukan bahwa kebijakan “pergeseran pajak pangan” dapat menjadi langkah nyata untuk:
- Menekan emisi karbon dari sektor pertanian.
- Mendorong masyarakat beralih ke pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Skema Pajak Pangan: Harga Mencerminkan Dampak
Skema yang diusulkan oleh para peneliti ini bersifat “netral biaya”. Artinya, kenaikan harga pada makanan berdampak buruk diimbangi dengan penurunan harga pada makanan yang ramah lingkungan.

![Salah satu episode di Ini Talkshow Net TV. [YouTube Net TV]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/sule-360x200.jpg)



















![Seorang pria berusia 25 tahun berjuang antara hidup dan mati setelah menjadi korban penembakan dari mobil yang melintas di kawasan Brixton, London Selatan, pada Sabtu dini hari waktu setempat. [Istimewa]](https://1tulah.com/wp-content/uploads/2026/05/teror-london-360x200.jpg)



