Bantah Fadli Zon, Melanie Subono Bongkar Pengakuan BJ Habibie soal Pemerkosaan Massal 1998

- Jurnalis

Sabtu, 5 Juli 2025 - 15:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolase foto Melanie Subono dan Menbud Fadli Zon. (tangkapan layar/ist)

Kolase foto Melanie Subono dan Menbud Fadli Zon. (tangkapan layar/ist)

1TULAH.COM-Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon tengah menjadi pusat perhatian dan banjir kecaman usai menyebut tragedi pemerkosaan massal 1998 sebagai “cuma rumor”. Pernyataan kontroversial ini memicu kemarahan publik, termasuk dari penyanyi dan cucu mantan Presiden BJ Habibie, Melanie Subono, yang turut menyentil Fadli Zon.

Kritikan pedas Melanie disampaikan dalam siniar yang tayang di kanal YouTube KOMTUNG pada Sabtu (5/7/2025). Awalnya, Melanie mengomentari proyek penulisan ulang sejarah yang digaungkan oleh Fadli Zon. Namun, fokus perbincangan beralih pada pernyataan Fadli Zon tentang peristiwa kelam di balik kerusuhan 1998.

Melanie Subono Tegaskan Pengakuan BJ Habibie soal Tragedi 1998

Dalam siniar tersebut, Melanie Subono kembali menyinggung ucapan eyangnya, mantan Presiden BJ Habibie, yang secara terang-terangan mengakui adanya pemerkosaan massal saat peristiwa huru-hara 1998. Diketahui, saat berpidato di Gedung MPR/DPR RI, Habibie pernah menyampaikan permintaan maaf dari pemerintah terhadap korban-korban dalam tragedi berdarah tersebut, termasuk para perempuan yang menjadi korban pemerkosaan massal.

“Dia (BJ Habibie) pun mengakui gitu bahwa ya, dia (pemerintah) mau ngomong maaf kalau (kasus pemerkosaan massal) memang terjadi. Terus kan kayak sekarang mau dihapus-in kok,” ujar Melanie dalam siniar tersebut, menegaskan bahwa pengakuan pemerintah terhadap insiden tersebut adalah fakta, bukan rumor.

Baca Juga :  Waspada! 50% Anak Usia 3-14 Tahun Terpapar Risiko Diabetes Akibat Kebiasaan Ini

Melanie juga mengakui bahwa ia mengenal beberapa korban langsung dari kasus pemerkosaan massal saat kerusuhan 1998 terjadi. Menurutnya, para korban itu kini masih trauma berat dan membutuhkan pengakuan serta keadilan, bukan penolakan.

“Tidak ada salahnya. Emang tuh orang-orang (korban tragedi 98) juga minta apa sih? Minta duit Rp1 M setiap yang korban. Gua rasa mereka cuma bilang iya this happens. Maaf ya kami perbaiki,” tegas Melanie, menyoroti bahwa para korban hanya menginginkan pengakuan dan permintaan maaf atas apa yang telah mereka alami.

Pemerintah Diharapkan Terima Hasil Investigasi TGPF

Melanie Subono mendesak pemerintah semestinya bisa menerima adanya laporan investigasi yang mengungkap soal kasus pemerkosaan massal. Ia secara khusus menyinggung temuan hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang telah mencatat dan mendokumentasikan banyak kesaksian.

“Udah ada TGPF dan kemudian saksi-saksi sudah maju, sudah tercatat, sudah segala itu apa yang enggak ada?” ujarnya, mempertanyakan dasar Fadli Zon untuk menganggap insiden tersebut sebagai rumor ketika bukti-bukti sudah banyak tersedia.

Baca Juga :  Polda Riau Amankan 39 Tersangka Penyelewengan Puluhan Ton BBM Subsidi

Perihal kasus pemerkosaan massal 1998 yang kembali diungkitnya, Melanie pun memberikan kritik keras terhadap para pejabat negara agar tidak membuat rakyat terbelah. Ia menekankan pentingnya bagi pejabat untuk memikirkan kebaikan bagi seluruh elemen bangsa tanpa diskriminasi.

“Maksud gua gini pada saat lu menjadi pejabat negara berpikirlah hal yang baik untuk negara dan seingat gue undang-undang mau kitab, mau agama, mau peraturan apa pun kan enggak pernah tertulis ini harus, kecuali lu miskin koma, kecuali lu Chinese, kecuali lu apa kan enggak. So, one thing works for all. Ya, itu tadi single standard. Standard mana yang lu mau pakai? Jangan nge-belah kita menjadi rakyat kandung dan rakyat tiri. Coba itu saudara lo pasti lo bacot,” beber Melanie Subono, menyerukan agar pejabat bertindak adil dan tidak memecah belah persatuan bangsa.

Pernyataan Fadli Zon ini kembali membuka luka lama bagi para korban dan keluarga korban tragedi 1998, serta memicu perdebatan sengit tentang bagaimana sejarah kelam bangsa ini seharusnya diakui dan dipelajari. (Sumber:Suara.com)

Berita Terkait

Eks Aktivis ICW: Kerugian Negara Sering Bombastis di Awal, Tapi Tak Terbukti di Sidang
Dukung Program Makan Bergizi Gratis, SPPG Buntok Kota Siap Penuhi Kebutuhan Gizi Siswa
Heriyus: Program OPP-MPP buka Peluang Kerja Masyarakat Lokal
Tinjau Asrama Mahasiswa di Yogyakarta, Wakil Ketua DPRD Kalteng Junaidi Komitmen Tingkatkan Fasilitas
Total Rp 100 Miliar Dikembalikan ke KPK, Kasus Korupsi Kuota Haji Mulai Terang Benderang
Tragedi Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, 3 Orang Meninggal Dunia
Andai 50 Orang Terkaya RI Dipajaki 2%, Kuliah Bisa Gratis dan Kemiskinan Terhapus!
Gubernur Kaltim Sampaikan Minta Maaf dan Bakal Beli Kursi Pijat Dana Sendiri
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 16:56 WIB

Eks Aktivis ICW: Kerugian Negara Sering Bombastis di Awal, Tapi Tak Terbukti di Sidang

Selasa, 28 April 2026 - 16:39 WIB

Dukung Program Makan Bergizi Gratis, SPPG Buntok Kota Siap Penuhi Kebutuhan Gizi Siswa

Selasa, 28 April 2026 - 13:02 WIB

Heriyus: Program OPP-MPP buka Peluang Kerja Masyarakat Lokal

Selasa, 28 April 2026 - 11:57 WIB

Tinjau Asrama Mahasiswa di Yogyakarta, Wakil Ketua DPRD Kalteng Junaidi Komitmen Tingkatkan Fasilitas

Selasa, 28 April 2026 - 06:08 WIB

Total Rp 100 Miliar Dikembalikan ke KPK, Kasus Korupsi Kuota Haji Mulai Terang Benderang

Selasa, 28 April 2026 - 02:54 WIB

Tragedi Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, 3 Orang Meninggal Dunia

Senin, 27 April 2026 - 17:19 WIB

Andai 50 Orang Terkaya RI Dipajaki 2%, Kuliah Bisa Gratis dan Kemiskinan Terhapus!

Senin, 27 April 2026 - 17:06 WIB

Gubernur Kaltim Sampaikan Minta Maaf dan Bakal Beli Kursi Pijat Dana Sendiri

Berita Terbaru

Bupati Heriyus SE melakukan pemasangan tanda peserta pelatihan, Selasa (28/04/2026). Foto : 1tulah.com)

Berita

Heriyus: Program OPP-MPP buka Peluang Kerja Masyarakat Lokal

Selasa, 28 Apr 2026 - 13:02 WIB