Terlalu Sering Olahraga Bisa Picu Gagal Ginjal, Waspadai Risikonya!

- Jurnalis

Senin, 7 April 2025 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi olahraga (pexels/Leon Ardho)

ilustrasi olahraga (pexels/Leon Ardho)

1TULAH.COM – Olahraga memang berperan penting dalam menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh, namun aktivitas fisik ini juga memiliki risiko apabila dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan waktu pemulihan yang memadai.

Salah satu dampak serius dari latihan intens tanpa jeda yang cukup adalah munculnya kondisi medis bernama rhabdomyolysis atau rhabdo, yaitu kerusakan otot yang menyebabkan pelepasan protein otot seperti creatine kinase (CK) dan myoglobin ke dalam aliran darah dalam jumlah besar.

Zat-zat ini dapat membebani kerja ginjal, bahkan berpotensi menyebabkan gagal ginjal.

Gejala rhabdo umumnya mencakup nyeri otot yang hebat, kelelahan ekstrem, hingga perubahan warna urin menjadi gelap atau keruh.

Dalam kasus yang parah, penderitanya bisa mengalami gangguan buang air kecil. Dr. Niloofar Nobakht, profesor klinis nefrologi dari UCLA Health, menjelaskan bahwa rhabdo bisa timbul setelah melakukan latihan fisik dengan intensitas tinggi yang memaksa otot bekerja melampaui batas kemampuan, dan bahkan bisa dipicu oleh cedera seperti jatuh atau kecelakaan.

Baca Juga :  Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?

Kondisi ini lebih sering dialami oleh individu dengan aktivitas fisik berat, seperti atlet, pelari, pemadam kebakaran, polisi, dan anggota militer.

Jika tidak ditangani dengan cepat, rhabdomyolysis bisa berkembang menjadi gagal ginjal dan memerlukan terapi pengganti ginjal.

Namun, dengan penanganan dini seperti pemberian cairan infus dan pemantauan elektrolit penting (kalium, fosfor, dan kalsium), kondisi ini dapat diatasi.

Dokter juga akan mengawasi keseimbangan cairan dan tingkat keasaman darah untuk memastikan fungsi ginjal tetap optimal.

Di sisi lain, overtraining atau latihan yang berlebihan tanpa waktu istirahat cukup dapat menyebabkan tekanan fisik yang terus-menerus, mengganggu keseimbangan tubuh, dan memicu kerusakan otot serta rhabdo, tergantung pada intensitas latihan dan kondisi individu.

Menurut Liz Au dari UCLA Recreation, latihan berlebih juga dapat mengganggu keseimbangan hormon-hormon penting seperti kortisol, testosteron, dan hormon pertumbuhan, sehingga memperlambat metabolisme, menghambat pembentukan otot, serta menurunkan daya tahan tubuh yang membuat individu lebih rentan terhadap infeksi.

Baca Juga :  Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?

Tanda-tanda overtraining meliputi penurunan performa fisik, kelelahan berkepanjangan, gangguan kekuatan dan daya tahan, hingga masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan insomnia.

Karena itu, penting untuk mendengarkan sinyal tubuh; rasa lelah yang berlebihan, nyeri otot yang tidak kunjung hilang, atau performa yang memburuk merupakan indikasi bahwa tubuh memerlukan istirahat.

Pencegahan overtraining dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti menjadwalkan hari istirahat, menggunakan metode periodisasi untuk mengatur intensitas latihan, menjaga kualitas tidur antara 7–9 jam per malam, serta memperhatikan pola makan dan hidrasi yang cukup.

Dr. Nobakht juga mengingatkan pentingnya menjalani olahraga dengan aman, misalnya dengan menjaga hidrasi, menghindari latihan di bawah cuaca ekstrem, meningkatkan intensitas latihan secara bertahap, dan memberi tubuh waktu yang cukup untuk pulih.

Keseimbangan antara latihan dan pemulihan adalah kunci utama untuk memperoleh manfaat optimal dari olahraga tanpa membahayakan kesehatan.

Penulis : Laili R

Berita Terkait

Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?
Tren “One Outfit, Multiple Activity”: Rahasia Tampil Stylish Saat Olahraga dan Hangout
Tak Tercapai, Siap-siap Disuspend! BGN Wajibkan SPPG Tambah Kuota Ibu Hamil & Balita dalam 2 Minggu
Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya
Waspada! 50% Anak Usia 3-14 Tahun Terpapar Risiko Diabetes Akibat Kebiasaan Ini
Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan
Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui
BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Samakan Perangkatnya dengan ‘Bong’ Sabu
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 19:34 WIB

Mengupas Mitos MSG: Benarkah Penyedap Rasa Ini Berbahaya bagi Kesehatan?

Rabu, 13 Mei 2026 - 07:24 WIB

Tren “One Outfit, Multiple Activity”: Rahasia Tampil Stylish Saat Olahraga dan Hangout

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:30 WIB

Tak Tercapai, Siap-siap Disuspend! BGN Wajibkan SPPG Tambah Kuota Ibu Hamil & Balita dalam 2 Minggu

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:24 WIB

Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

Jumat, 24 April 2026 - 13:00 WIB

Waspada! 50% Anak Usia 3-14 Tahun Terpapar Risiko Diabetes Akibat Kebiasaan Ini

Selasa, 14 April 2026 - 12:55 WIB

Jaga Stamina Jelang Haji, Ini Latihan Fisik yang Dianjurkan

Senin, 13 April 2026 - 22:25 WIB

Sering Pakai HP? Ini Risiko Sebenarnya yang Perlu Diketahui

Selasa, 7 April 2026 - 18:58 WIB

BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Samakan Perangkatnya dengan ‘Bong’ Sabu

Berita Terbaru