Omnibus Law Penyiaran: Solusi atau Ancaman bagi Kebebasan Pers?

- Jurnalis

Rabu, 6 November 2024 - 05:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Komisi Penyiaran Indonesia. (Suara.com/Yaumal)

Gedung Komisi Penyiaran Indonesia. (Suara.com/Yaumal)

1TULAH.COM-Anggota Komisi I DPR RI fraksi Partai NasDem, Amelia Anggraini, mengusulkan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Komdigi untuk memperkuat tugas dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar bisa mengawasi konten digital baik dari media konvensional maupun media sosial (medsos).

Tugas pengawasan KPI itu diperkuat dengan Omnibus Law dengan menggabungkan Undang-Undang Telekomunikasi, Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers.

Hal itu disampaikan Amelia dalam rapat kerja bersama Menteri Komdigi, Meutya Hafid di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (5/11/2024).

Awalnya ia menyinggung penyebaran konten-konten negatif seperti judi online hingga pornografi di media sosial yang membuat resah dan bisa merusak generasi bangsa. Menurutnya, adanya hal itu harus ada gatekeeper yang mengawasi.

“Kami ingin mengetahui apakah di Kominfo sudah membentuk gatekeeper atau semacam satgas dengan alur dan tupoksi yang jelas, yang mengawasi konten negatif selama 24 jam di media sosial. Sehingga kalau ada konten yang bermuatan negatif bisa langsung di-takedown. Apalagi menjelang Pilkada kita harus mengantisipasi gelombang disinformasi dan hoax,” kata Amelia.

Baca Juga :  Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham

Ia lantas mengusulkan, agar ada perluasa pengawasan yang dilakukan oleh KPI agar bisa menindak konten negatif dari media sosial maupun media konvensional.

Lrbih lanjut ujarnya perluasan tugas dan wewenang melalui sebuah Omnibus Law yang mencakup Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers. Usulan ini memicu beragam reaksi dari berbagai pihak, terutama kalangan industri media yang khawatir akan potensi pembatasan kebebasan pers.

Alasan di Balik Usulan

Dikatakan Amelia bahwa perluasan tugas KPI ini bertujuan untuk menciptakan regulasi yang lebih komprehensif dan efektif dalam mengawasi seluruh sektor media. Dengan demikian, diharapkan kualitas konten media dapat ditingkatkan dan kepentingan publik dapat terlindungi secara lebih baik.

Beberapa alasan yang mendasari usulan tersebut antara lain:

  • Perkembangan Teknologi: Munculnya platform digital dan media sosial telah mengubah lanskap media secara drastis. Perluasan tugas KPI dianggap perlu untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi ini.
  • Pluralisme Media: Maraknya media online dan media sosial membuat pengawasan konten menjadi semakin kompleks. KPI ingin memiliki wewenang yang lebih luas untuk mengatur seluruh bentuk konten media.
  • Perlindungan Masyarakat: Dengan memperluas tugasnya, KPI diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat dari konten negatif seperti ujaran kebencian, berita bohong, dan pornografi.
Baca Juga :  Prakiraan Cuaca BMKG 24 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang di Kota-Kota Ini

Dampak Potensial

Namun, usulan perluasan tugas KPI ini juga menimbulkan kekhawatiran. Beberapa pihak khawatir bahwa hal ini dapat berpotensi:

  • Membatasi Kebebasan Pers: Kekhawatiran utama adalah bahwa perluasan tugas KPI dapat berujung pada pembatasan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers.
  • Monopoli Pengawasan: Jika KPI diberikan wewenang yang terlalu luas, dikhawatirkan akan terjadi monopoli pengawasan di sektor media.
  • Birokratisasi: Proses pengawasan yang terlalu birokratis dapat menghambat inovasi dan kreativitas di industri media.

Perdebatan yang Panjang

Usulan perluasan tugas KPI ini tentu akan memicu perdebatan panjang di kalangan pembuat kebijakan, industri media, masyarakat sipil, dan akademisi. Penting bagi semua pihak untuk melakukan diskusi yang terbuka dan konstruktif agar dapat menemukan solusi terbaik yang menyeimbangkan antara kepentingan publik, industri media, dan kebebasan pers. (Sumber:Suara.com)

 

Berita Terkait

DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut
LBH Yogyakarta Terima 48 Aduan Pengangkapan Sewenang-wenang dan Massa Hilang Pasca-Ricuh Demo Malioboro
Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham
Pemprov Kalteng Matangkan Ranperda RPPLH untuk Perkuat Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan
SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!
Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto
Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?
Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:13 WIB

DPRD Kalteng Gelar Paripurna Reses: Soroti Aspirasi Dapil dan Penanganan Karhutla Gambut

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Viral Wartawan Wanita Dihalau Polisi di Bundaran HI, Polda Metro Akui Petugas Kurang Paham

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Pemprov Kalteng Matangkan Ranperda RPPLH untuk Perkuat Perlindungan Lingkungan Berkelanjutan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47 WIB

SE Mendagri Nomor 400.5/8545/SJ: Pemda Wajib Awasi Dapur Gizi di Daerah!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Momen Hangat Hari Sumpah Pemuda: Presiden Prabowo Pimpin Pembacaan Ikrar Bersama Siswa SD Didampingi Titiek Soeharto

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ancaman Pemotongan Internet Singapura Dijawab Santai Menkomdigi Meutya Hafid: Siapa yang Sebenarnya Rugi?

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:15 WIB

Kantor Bea Cukai Kudus Digeledah KPK, Puluhan Petugas Turun Langsung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Satu Korporasi Jadi Tersangka dalam Penanganan 30 Laporan Karhutla di Kalsel

Berita Terbaru